Monday, May 3, 2021

Lalu Semuanya Masuk Akal: Beradaptasi Merapikan 'Timbunan' Insecurities dengan Bantuan Eksplorasi, Apresiasi, dan Agatha Christie

Mulai dari mana untuk membahas tentang perjalanan beradaptasi versi saya dan kaitannya dengan buku?


Perlu diberitahu kalau saya bukan hendak berbagi suatu kejadian atau peristiwa yang secara umum akan dibilang 'wah' ataupun mengungkapkannya sebagai seorang yang sudah 'bertransformasi'. Secara teknis saya masih... saya sendiri seperti halnya pada dua atau tiga tahun lalu, mbak-mbak kantoran usia seperempat-abad (meski kalau di tempat umum harus terima disapa 'Bu' padahal belum ada separuh-abad) yang suka membaca - dan kalau sedang niat dan kesambet akan dengan senang hati meracau tentang pengalamannya membaca buku-buku yang kebanyakan fiksi.


Baiklah, hampir semua atau memang semuanya fiksi. 


Yang aneh, atau 'maksa' - bahkan dengan semua itu saya merasa tengah menjalani suatu proses adaptasi. Mungkin sobat kebal plot-twist sudah menebaknya, tapi mbak-mbak kantoran perempat-abad yang suka baca ini tentu saja punya koleksi insecurities alias ketidakamanan dan krisis personal selama rentang waktu dua sampai tiga tahun itu. 'Judul' nya juga ada-ada aja, dan ditimbun, seperti halnya timbunan buku bacaan yang kalau dipikir-pikir kok bisa ya kalap dan khilaf untuk dibeli.


Seringkali memang rasanya gampang banget untuk menimbun pikiran seperti halnya menimbun buku. Dalam kasus saya, pikiran-pikiran itu sebenarnya satu 'genre' dan premis: "Drama sendiri karena diam-diam memendam galau dan frustasi. Kenapa sih diri dan hidup saya gini-gini amat... Padahal si anu ya bisa gini dan si ani bisa gitu - terus kenapa saya nggak bisa-bisa ya?"


Ujungnya ya saya bisa konslet kalau dilanjutkan, dan untungnya (spoiler) saya bisa bertahan menghadapinya - sehingga bisa menceritakan dan berbagi pada kalian di sini. Kalaupun tulisan ini ada sedikit gunanya, paling nggak semoga bisa membuat yang mengalami hal serupa bisa merasa nggak sendirian.


Ya, daripada dibilang sudah 'bertransformasi', saya lebih nyaman untuk bilang bahwa saya sudah 'bertahan'. Dan segala puji pada Nya, saya selamat, atau bahasa londonya I survived.


Bagaimana saya bisa belajar untuk bertahan sebenarnya bukan karena sebuah revelasi atau pemahaman yang mind blowing. Nggak ada insight menggebrak yang bisa menjustifikasi saya untuk membuat judul yang lebih mengumpan. Yang lucu, sehingga saya menebalkan muka (semoga dompet juga menyusul) untuk menulis ini adalah dorongan yang saya alami untuk 'mengenang' bagaimana saya mempelajari hal-hal nggak mind blowing dan sebenarnya sangat sederhana itu dengan proses dan perjalanan yang bisa dibilang berat dan lama. Sama sekali nggak instan, tapi sangat layak dijalani. 

Jadi ini dia (meski di judul sudah saya bocorin, sih...): Mengeksplorasi dan mengapresiasi bahkan sesedikit mungkin hal yang bisa saya pikirkan untuk disyukuri dalam hidup saya ternyata membuat saya beradaptasi lebih baik untuk bertahan di tengah timbunan ketidakamanan yang teronggok di sudut pikiran. 


Tidak berarti saya kemudian mengabaikannya, lalu semua timbunan itu menjadi semacam beban tidak sadar yang sengaja disupresi, ya. Saya mengumpamakan bahwa timbunan dari ketidakamanan saya punya satu kesamaan 'topik': Kenapa saya nggak bisa 'memiliki' prestasi atau pencapaian atau titel atau entah apalagi hal yang bisa 'dimiliki' oleh orang-orang lain yang di mata saya lebih 'beruntung'? Kenapa ya saya kayaknya jadi yang ketinggalan melulu?


Lalu dari suatu sudut pandang, kelihatannya uraian itu jadi memungkinkan untuk diumpamakan kalau saya seperti terpancing untuk merasa terancam dan nggak aman kalau memperhatikan koleksi judul-judul buku orang lain. Bagaimana saya melihat koleksi orang lain itu seakan-akan dipajang bagus di rak mentereng, serba layak-pamer dan terbarukan. 


Saya yang merasa punya koleksi nggak sepadan dengan itu semua pun jadi sering membebani diri. Saya merasa nggak mampu untuk bisa menyamai koleksi orang lain. Saya super galau ketika sempat mengira bisa punya satu 'judul' yang (menurut saya) bakal membuat koleksi saya kelihatan ulala~ tapi ternyata nggak bisa saya miliki. 


Padahal, tanpa saya sadari saya jadi nggak fokus dengan apa yang sudah saya miliki. Mau nggak mau, yang tersisa untuk dilakukan pada akhirnya adalah menekuni judul-judul (yang saya anggap) seadanya di rak saya. Pengalaman nggak bisa memiliki judul yang ada di rak orang lain terlalu pahit untuk membuat saya betah berlama-lama, jadi daripada nggak melakukan apa-apa dan cuma pahit sendiri itulah yang saya lakukan. Jangan ditanya gimana rasanya, berat bangeet! Ya, ini agak hiperbola, tapi saya nggak akan menyangkal kalau ada masanya saya juga merasa semacam terpaksa untuk 'menekuni' yang ada di 'rak' saya.


Koleksi saya tentang keluarga dan kasih sayang tulus mereka ternyata banyak juga, dan itu menjadi salah satu yang pelan-pelan membuat beban untuk menekuni judul-judul yang ada dalam kehidupan saya menjadi sedikit demi sedikit berkurang. Lama-lama, menjadi jelas bagi saya kalau ternyata saya bisa sangat bahagia dengan judul-judul yang sudah ada. Malah, jadi heran sendiri kenapa bisa dulu sebegitu terpaku untuk memiliki dan mendapatkan judul-judul baru. Apa nggak capek, diri saya yang dulu? Yah, setidaknya ada yang akhirnya dipelajari. 


Pada akhirnya saya sendiri merasa sedikit tidak menyangka akan menuliskan kata-kata ini: Semua yang pada awalnya terlihat seperti timbunan ketidakamanan bagi saya, lama-lama menjadi terasa lebih rapi dengan sendirinya seiring saya lebih mengapresiasi judul-judul yang ada dalam koleksi saya. Belum lagi dengan mempertimbangkan hal yang terjadi akhir-akhir ini, banyak orang kehilangan judul-judul yang berharga dari koleksinya.


Tidak benar rasanya bagi saya yang masih bisa memiliki sebagian besar, kalau tidak semua, malah - koleksi milik saya untuk terus membebani diri karena merasa seharusnya memiliki koleksi yang 'lebih baik'. Tidak terbayangkan bagi saya jika harus kehilangan judul-judul penting dari koleksi saya, pasti saya akan sangat menyesalinya.


Koleksi saya bukannya menjadi niscaya baru. Tapi dengan cara pandang berbeda, judul-judul yang telah ada di sana jadi terasa demikian. Meski sering dibilang klise, tapi saya nggak tahu bagaimana lagi harus mengungkapkan bahwa ternyata memang benar jika pada akhirnya semua yang awalnya membingungkan nantinya akan menjadi lebih masuk akal. Bisa dibilang seperti membaca novel misteri, yang merupakan genre buku fiksi kesukaan saya pada umumnya, khususnya pada karya-karya karangan Agatha Christie yang sudah setia diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama.


Terlalu besar godaannya bagi saya untuk menyebutkan judul-judul novel Agatha Christie yang belakangan saya baca (termasuk yang dibaca ulang), sehingga saya tentu saja akan mencoba melakukannya di poin-poin berikut. Judul-judul itu akan saya ‘libatkan’ (dengan agak memaksa) dalam perumpamaan untuk menjelaskan proses adaptasi yang saya alami untuk bisa membuat timbunan ketidakamanan saya menjadi lebih ‘rapi’ dan tidak lagi membebani separah dulu. 


Sudah lama sejumlah besar judul-judul novel Agatha Christie menjadi bagian dari koleksi buku di rumah. Lucunya, meski sering mengaku mengagumi karya-karyanya, saya belum selesai membaca semua judul buku yang sudah tersedia itu. Kalau tidak kebetulan ‘mirip’ dengan kondisi saya dahulu, punya begitu banyak judul dalam koleksi saya tapi ternyata belum semuanya benar-benar dibaca, saya nggak tahu harus disebut apa lagi. Cocoklogi? Biarlah, namanya juga saya sedang berbagi pengalaman subjektif.


Dan tentu saja wajar bagi saya untuk mengalami masa-masa untuk pasang mata dan lirik-lirik koleksi cerita-cerita misteri lainnya yang jelas amat banyak di jagad literasi. Berpikir kalau sepertinya saya akan ketinggalan ‘tren’ kalau nggak punya atau nggak membaca judul-judul populer dari penulis Amerika Serikat hingga Jepang, tanpa sadar ternyata saya jadi kelepasan membeli one too many books yang akhirnya (tentu saja) menjadi timbunan. Terlalu terpaku untuk memiliki, mencapai sesuatu, kepada suatu bentuk ‘prestasi’ - saya jadi kurang dalam proses ‘eksplorasi’ dan ‘apresiasi’ yang sebenarnya penting untuk dimantapkan lebih dulu.


Mungkin bisa dibilang demikian lah gambaran proses penimbunan mental yang saya alami - tapi dalam hal ketidakamanan yang tentu saja sama sekali nggak terasa seasyik memiliki timbunan buku alias to be read. Dan saya hanya bisa lagi-lagi bersyukur dengan keputusan ‘sederhana’ saya - setelah sadar kalau saya tidak bisa selalu berharap bisa sering-sering beli buku ketika saya seharusnya bisa menghemat pengeluaran - untuk mulai membaca judul-judul Agatha Christie yang belum sempat saya jamah meski sudah lama menjadi bagian dari koleksi di rumah. Level eksplorasi ini juga ditambah dengan upaya saya untuk mulai membaca judul-judul novel beliau yang tidak memuat kemunculan Hercule Poirot! Ini penting untuk diungkit mengingat kekaguman saya akan sosok detektif fiksional itu sampai rasanya melebihi keheranan saya pada tokoh Sherlock Holmes yang (katanya) lebih terkenal itu.


Buku pertama dari kisah pasangan Tommy dan Tuppence yaitu The Secret Adversary yang sudah diterjemahkan dengan judul Musuh Dalam Selimut ternyata sukses membuat saya jatuh hati dan bersimpati pada pasangan detektif amatiran itu. Begitupula kisah Bobby dan Frankie di Why Didn’t They Ask Evans? (diterjemahkan menjadi Pembunuh di Balik Kabut). Ada sensasi keseruan tersendiri dalam menyimak tokoh yang bukan profesional dalam hal mengusut perkara ternyata bisa terlibat dalam petualangan yang menegangkan dengan mengandalkan kecerdikan, kerjasama, keberanian, dan mungkin keberuntungan. Saya nggak akan bohong, agak menyesal juga kenapa nggak dari dulu baca, tapi tentu saja lebih baik terlambat daripada nggak sama sekali, kan? Well, tapi saya rasa nggak perlu ada label terlambat dalam semua proses pribadi. Semua orang punya timing sendiri-sendiri untuk belajar memahami diri dan kehidupan masing-masing. Dan siapa bilang misteri yang seru hanya bisa melibatkan detektif?



Saya juga harus menyebut Crooked House (diterjemahkan menjadi ‘Buku Catatan Josephine’). Judul tersebut saya baca dengan tambahan dorongan berupa informasi kalau ceritanya diadaptasi secara live action sehingga saya pikir saya harus baca bukunya dulu sebelum menonton adaptasinya. Ceritanya ternyata amat sangat menarik dengan dinamika tentang kehidupan keluarga besar sebagai salah satu temanya. Saya merasa bisa amat terhubung dengan tema tersebut sebagai orang yang masih beruntung bisa merasakan untuk tinggal di rumah dengan banyak anggota keluarga sehingga menyimak ceritanya menjadi pengalaman yang berkesan.


Selain menegangkan dan bikin penasaran, menyimak cerita Buku Catatan Josephine membuat saya jadi merenungkan berbagai sisi dari menjadi bagian dari sebuah keluarga yang mungkin nggak akan terpikirkan kalau tidak terpancing oleh daya tarik (atau daya kejut) cerita ini. Rasanya saya juga merasa lebih bersyukur atas kebaikan yang ada dalam keluarga saya setelah membaca novel ini. Persisnya kenapa, lebih baik baca sendiri deh. 


Baru menyebutkan tiga judul novel Agatha Christie aja mungkin udah terbayang ya kenapa novel-novel beliau rasanya nggak akan ‘basi’ meski sudah berpuluh-puluh tahun terbit. Saya selalu merasa salut dengan kehebatan cerita-cerita beliau yang bisa memikat, mengecoh, dan membuka pandangan dan pemikiran kita tentang seluk-beluk manusia dan kehidupannya lewat berbagai macam kasus yang tersaji. Banyak hal yang muncul dalam novel beliau terasa masih relevan hingga kini. Karena kalau dipikir-pikir, manusia sebenarnya sama saja meski zaman berubah, dan Agatha Christie selalu piawai meramu berbagai kisah yang sangat menarik karena psikologi yang terlibat di dalamnya. Makanya nggak mengherankan juga jika banyak judul karangan beliau yang diadaptasi ke media non-tulisan.


Jadinya cukup kebangetan sih kalau saya sampai repot-repot merasa ‘ketinggalan’ dalam hal menikmati cerita-cerita misteri. Sebabnya, bahkan seluruh kebrilianan dan keseruan yang bisa saya temui dalam judul-judul karangan Agatha Christie yang ada di koleksi saja belum khatam. Saya jadi merasa lebih bersemangat untuk melanjutkan eksplorasi dan apresiasi koleksi ini kedepannya, dan pastinya itu akan jadi pengalaman membaca yang seru banget.


Demikian pula dengan timbunan ketidakamanan saya yang sifatnya immaterial, meski mungkin awalnya berat dan susah dilakukan (contoh penghalangnya seperti: ‘hah memangnya apanya sih dari saya yang bisa dibanggakan?’). Semakin jelas buat saya bahwa sebenarnya amat penting untuk mengeksplorasi segala hal, entah sekecil apapun, yang tersedia dalam kehidupan saya akan tetapi mungkin sebelumnya kurang dianggap agar keberadaannya terasa lebih jelas.


Dari situlah kemudian saya bisa lebih lega untuk mengapresiasi hal-hal tersebut dengan semestinya daripada menyesal di kemudian hari. Hal-hal tersebut bisa apa saja, misalnya seperti contoh yang saya sebutkan yaitu keluarga yang baik dan menyayangi saya. Dan nggak perlu merasa bersalah jika perlu baca novel misteri pembunuhan dulu sebagai bagian dari proses untuk benar-benar mengapresiasinya.


Nggak hanya berhenti untuk buku yang sebelumnya belum saya jamah, bahkan membaca ulang cerita Agatha Christie juga memungkinkan saya menjalani proses beradaptasi untuk menghadapi pikiran yang menggoda dijadikan tambahan di timbunan ketidakamanan. Di sini saya akan menyebutkan satu judul yang mungkin familier: Death on the Nile (yang sudah diterjemahkan sebagai Pembunuhan di Sungai Nil).


Mirip dengan Buku Catatan Josephine, saya (kembali) mengunjungi kisah tersebut karena tahu bahwa akan ada versi adaptasi terbarunya untuk ditonton. Belum lagi karena cerita tersebut juga merupakan salah satu kasus Poirot yang terkenal.  Meski berekspektasi untuk mengalami kembali keseruan dan ketegangan ceritanya, saya juga mendapati bahwa ternyata cerita tersebut juga memiliki bahasan menarik lain di samping pembunuhannya. Lagi-lagi, saya mungkin nggak akan menyadari itu kalau nggak melakukan baca ulang.


Amat menarik bagi saya untuk memerhatikan bagaimana Agatha Christie tetap menyelipkan tema drama percintaan ‘ekstra’ di novel yang kasus pembunuhannya sebenarnya sudah cukup miris dan menegangkan. Tanpa bermaksud membocorkan poin penting di ceritanya, saya merasa cukup takjub melihat bagaimana bisa-bisanya benih(-benih) asmara tetap mampu bertumbuh di atas kapal maut. Agak kocak, sebenarnya, sewaktu saya yang masih tahan berstatus lajang ini menyimak progresi penyelesaian konflik juga mencakup resolusi yang rapi kaitannya dengan hubungan asmara satu orang dengan yang lain. “Ya ampun sempet-sempetnya aja, tapi namanya jodoh emang nggak ada yang tahu sih.” kurang-lebihnya begitu di pikiran saya.


Menjadi terpikirkan bagi saya kalau cinta akan selalu bertahan, tidak peduli adanya maut ataupun teror. Atau malah justru karena adanya semua kekejaman itu maka cinta tetap menemukan jalannya. Yang disebut ‘cinta’ di sini juga bisa ditafsirkan secara luas, ya, sehingga bahkan tetap relevan bagi kaum betah lajang seperti saya.


Nggak bisa disangkal, saya jadi merasa perlu juga mengaitkannya dengan situasi saat ini. Saya rasa banyak yang akan setuju bahwa pandemi dan segala hal nggak-terpikir yang mengiringinya membuat kita merasakan lebih banyak ketakutan, ketidakpastian, dan semacamnya. Itu baru yang asalnya eksternal, padahal masalah internal seperti ketidakamanan personal juga tetap saja ada dan mungkin malah menjadi semakin intens. 


Dengan situasi yang sarat ketidakpastian ini, juga menjadi nampak bagi saya mengenai pentingnya menjaga semua yang saya cintai selagi saya masih punya kesempatan. Menurut saya, di saat seperti ini sangat penting bagi kita untuk menguatkan daya ‘cinta’ kita, mulai dari diri sendiri hingga ke sesama manusia. Nggak perlu memaksa harus meraih prestasi mentereng ketika bisa tetap sehat dan berkumpul bersama orang tersayang sudah merupakan pencapaian tersendiri yang nggak bisa ditakar dengan tropi atau medali apapun. Dalam cara tersendiri, saya setuju bahwa kita sebenarnya sedang bersama-sama beradaptasi agar semua kebingungan, kekhawatiran, dan ‘ketegangan’ yang sayangnya bukanlah fiksi belaka bisa menghadirkan penyelesaian serta pemahaman masuk akal.


Tetap saja, perjalanan dan proses yang dijalani setiap orang berbeda-beda. Saya punya timbunan ketidakamanan sendiri dan masih berusaha menguatkan proses eksplorasi dan apresiasi terhadap koleksi personal yang membentuk diri dan kehidupan saya. Dari situlah saya bisa terus bertahan dan punya jalan untuk merapikan timbunan ketidakamanan itu karena sudah berupaya membuat hal-hal yang tadinya nggak masuk akal jadi lebih masuk akal. Prosesnya mungkin akan lama dan berat, tapi seperti halnya menyimak cerita misteri - selama kita menikmati menghidupi semua pengalaman itu, yakinlah bahwa semuanya akan masuk akal pada akhirnya.

Monday, April 29, 2019

Liye, Tere. Tiga Buku Serial "Bumi": "Ceros dan Batozar", "Komet", dan "Komet Minor"


Bertemu “Ceros dan Batozar”, Melintasi “Komet”, dan Mengakhirinya di “Komet Minor”: Petualangan Seru di Dunia Paralel yang Tetap Membumi dengan Hikmah Berkesan

"Anak-anak ini keras kepala. Sekali menetapkan tekad, ...bahkan disuruh makan tepat waktu atau tidur lebih awal saja mereka susah. Namanya juga remaja. Susah diatur, masa-masa pencarian jati diri."
("Komet Minor", hlm. 218)

Tahun terbit: 2018 ("Ceros dan Batozar"), dan 2019 ("Komet" dan "Komet Minor")
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Edisi: Paperback, bahasa Indonesia
"Genre": Fantasy, Adventure, Awesomeness, Reflective
Beli bukunya dengan diskon 20-25% secara online di sini:
- Ceros dan Batozar (Bukabuku.com) (Gramedia.com)
- Komet (Bukabuku.com) (Gramedia.com)
- Komet Minor (Bukabuku.com)

Raib, Seli, dan Ali kelihatannya menjalani kehidupan yang sama saja dengan remaja sekolah menengah kebanyakan. Kalau sekadar bertemu, mungkin kita tidak akan sadar kalau sebenarnya mereka bertiga adalah petualang dan petarung dunia paralel. Bersama-sama mereka telah menjalani berbagai petualangan besar di dunia yang tidak terbayangkan oleh anak-anak seusia mereka. Raib yang bisa menghilang sebenarnya adalah keturunan murni Klan Bulan yang hanya muncul sekali dalam siklus dua ribu tahun, Seli yang bisa mengeluarkan petir dari tangannya sebenarnya keturunan Klan Matahari dengan teknik bertarung kinetik, dan Ali yang tidak hanya jenius, tapi juga adalah Klan Bumi yang mewarisi kemampuan langka. Mereka menjalani berbagai petualangan mengeratkan persahabatan bersama, yang tidak sekadar sahabat untuk ber-YOLO, have fun, dan eksis di pergaulan, tapi benar-benar persahabatan berfaedah berlandaskan kasih sayang tulus yang cocok menjadi panutan bagi pembaca.

Petualangan trio sahabat sejauh ini telah memungkinkan mereka singgah dan mengalami berbagai tantangan dan pembelajaran di Klan Bulan, Klan Bintang, Klan Matahari, dan Klan Bumi; semuanya sudah diceritakan dalam empat buku berbeda dalam serial Bumi. Saya yang selama ini mengaku sebagai peminat cerita fantasi, jujur saja merasa cukup missed-out karena tidak benar-benar menyadari adanya seri kisah fantasi persembahan penulis Indonesia ini, meski pernah mendengar tentang buku pertamanya, Bumi - dan itupun sekadar mendengarnya sebagai “buku baru karya Tere Liye”.

Untuk menjadi benar-benar terus terang, dalam persepsi saya nama besar Tere Liye selama ini adalah penulis yang lebih lekat dengan image karya di segmen drama dan romansa kaya bahan renungan dan inspirasi caption foto. Sudah lama saya punya akses ke beberapa buku beliau, antara lain yang judulnya “Ayahku Bukan Pembohong” dan “Berjuta Rasanya”. Hanya saja, selama ini pula saya belum pernah berkesempatan membaca satu pun, juga belum pernah memikirkan kemungkinan bahwa selain buku di genre fiksi drama itu, ternyata Tere Liye juga menulis di genre fantasi. Betapa mungkin akan berbeda keadaannya jika saya dari dulu tahu bahwa buku Bumi adalah cerita fantasi dengan premis sangat menarik. Kemana aja sih saya? Barangkali saya masih sibuk lebih banyak mengikuti perkembangan kisah fantasi penulis luar negeri seperti Rick Riordan dibanding benar-benar menyimak perkembangan cerita fantasi dari dalam negeri. Padahal sementara itu tidak terasa telah terbit judul demi judul buku dalam serial Bumi sampai pada akhirnya saya bisa dipertemukan dengan kesempatan untuk membaca seri ini dari buku ke 4,5nya, “Ceros dan Batozar”.

Aku sama sekali tidak menduga, beberapa jam lagi kami justru bertemu dengan sebuah misteri lain dari dunia paralel. Bukan di klan-klan dunia paralel itu, tapi di sini, di bumi, di klan kami sendiri.
(“Ceros dan Batozar”, hlm. 12)

Friday, November 9, 2018

SONG FOR ALICE BLOGTOUR GIVEAWAY: Penerbit Twigora x A Book is a Gift


Sama seperti kata Arsen di gambar di atas, saya juga ingin membuat kalian bahagia karena sudah menyimak blogtour Song For Alice sampai penghujung ini (di giliran saya~) dengan mengadakan giveaway juga seperti host lainnya, berhadiah satu eksemplar buku Song For Alice untuk seorang pemenang! Gimana kesan kalian sejauh ini? Semoga posting interview dan review saya bisa diterima dan menjadi pertimbangan kalian ya, supaya bisa segera baca Song For Alice karena kalian pastinya nggak akan nyesel untuk baca novel ini :'

Saya tunggu tanggapan dan partisipasi kalian ya! Untuk mengikuti giveaway novel Song For Alice, caranya juga nggak susah kok, mohon disimak ya ketentuannya di bawah ini...

Thursday, November 8, 2018

Ramadhina, Windry. SONG FOR ALICE Book Review and Photo Challenge (Blogtour)

Hidupnya sempurna - atau setidaknya, dia pernah berpikir hidupnya sempurna.
Sekarang, ya, dia akan menyesal. Sangat. Bukan karena dia kehilangan musik, atau karena tidak lagi bisa merasakan cahaya menyorot ke arahnya, atau karena rindu mendengar lautan manusia menyebut namanya dengan putus asa.
Bukan karena itu semua.
(hlm. 55)

PENERBIT RORO RAYA SEJAHTERA
NOVEL
SONG FOR ALICE
WINDRY RAMADHINA
SC; 14 x 20 cm
Jumlah Halaman: 328 halaman
Bookpaper 55 gr;
ISBN 978-602-51290-7-0
Harga: Rp 85,000
Tagline: "Mencintaimu adalah penantian yang panjang."
"Genre": Love, Family, Drama, Music

Kisah Berjiwakan Cinta yang Bukan Sekedar Cinta

Setelah Follow Me Back, ternyata di Song For Alice saya kembali bertemu dan mengenal seorang pemusik muda, tampan, dan terkenal; tapi dengan kekosongan di hatinya. Namanya Arsen Rengga, seorang rocker muda yang tidak hanya jago nyanyi tapi juga menulis lagu dan memetik gitar. Kehidupan gemerlap musisi terkenal rupanya tidak memberikan segalanya bagi Arsen, karena rupanya ada yang hilang dalam dirinya hingga tercermin dalam musiknya. Wild Cherry boleh jadi menjadi lagu terpopuler, namun di sisi lain kritikus musik merasa bahwa Arsen menunjukkan penurunan kualitas gemilang yang dimilikinya. Memang berat untuk menerima semua kritik itu dan mengakui ada yang "hilang",  tapi kalau begitu terus, bukan hanya karir Arsen yang terancam. Tentunya bukan seperti itu hidup yang diinginkan Arsen, dibayang-bayangi kekosongan di dalam hatinya.

Sementara itu ada Alice Lila, yang bertahan menjaga kenangan keluarganya lewat Lilt, sekolah musik di pinggiran kota tempat ia mengajar kelas piano. Banyak hal tentang Alice Lila yang nampak berkebalikan seratus delapan puluh derajat dari Arsen Rengga. Dari penampilan dan tingkah-lakunya, Alice kurang-lebih merepresentasikan musik klasik kesukaannya, cantik dan anggun. Tapi saya kurang berani menjamin, sih, untuk sifat lain dari Alice - apalagi kalau belum mendapat asupan kafein karena bisa jadi super-galak, terutama ke Arsen kalau berulah. Nah, aneh kah buat kalian kalau seorang idola rock yang berantakan, berambisi besar, dan sulit dikekang seperti Arsen Rengga bisa punya relasi dengan seorang Alice Lila? Eits, hati-hati jangan sampai terburu-buru tanpa tahu lebih dalam, misalnya darimana keduanya berasal dan tumbuh. Lilt lah yang kurang-lebih menjadi benang merah bertautnya kedua insan berhuruf-depan A ini sejak mereka kecil, sebagai anak yang sama-sama menyukai musik (terlepas dari perbedaan preferensi genre nya).

Wednesday, November 7, 2018

BLOGTOUR INTERVIEW with WINDRY RAMADHINA: Penulisan SONG FOR ALICE dan Detail Menarik Lainnya!


...and now the blogtour is perfect, kalau kata saya~~ Maksudnya, blogtour nya sudah hampir tersempurnakan siklusnya karena tibalah giliran saya menyambut sebagai host juru kunci alias host penutup alias host terakhir dari rangkaian blogtour Song for Alice~~~

HAI, SELAMAT DATANG! Halo buat Anda yang baru pertama mampir ke A Book is a Gift, nama saya Risa, host ke-tujuh Song for Alice. Hai juga buat yang sebelumnya pernah mampir atau nyasar ke A Book is a Gift, semoga kalian semua sehat ya! Gimana kesan kalian yang sudah mengikuti blogtour dari host pertama? Gimana yang udah menang giveaway? Adakah yang masih penasaran sama Song For Alice? Hhee... saya rasa masih banyak sih yang penasaran banget pengen baca Song For Alice, apalagi ngedepetin bukunya gratis. Kalian datang ke blog yang tepat kok untuk itu, karena blog A Book is a Gift juga akan menyajikan setlist manggung, eh ngeblog maksudnya, yang sama dengan host-host sebelumnya. Akan ada interview (disini dan sekarang!), review, dannn GIVEAWAY!

Sabar dulu ya kalau kalian udah gak sabar banget pengin ikut giveaway dan menangin buku Song For Alice karena penasaran banget sama bukunya. Ijinkan saya terlebih dulu membagikan kepada kalian semua hasil sesi wawancara saya langsung dengan sang penulis, kak Windry Ramadhina.

WINDRY RAMADHINA lahir dan tinggal di Jakarta; percaya atau tidak, mampu mendengarkan berbagai bentuk rock, yang paling keras sekalipun. Dia menulis fiksi sejak 2007. Buku-bukunya banyak bercerita tentang cinta, kehidupan, impian, dan harapan. Song for Alice adalah bukunya yang kesebelas.

Windry suka membaca surat dan menjawab pertanyaan. Dia bisa dihubungi lewat e-mail windry.ramadhina@gmail.com, Instagram @beingfaye, atau blog www.windryramadhina.com

Saya kembali beruntung banget mendapat kesempatan untuk bisa ngepoin sosok penulis yang sudah saya kagumi sejak cukup lama ini //////. Menurut saya tulisan Kak Windry lekat dengan kesan elegan dan puitis nan aesthetic, kayaknya apapun yang ditulis Kak Windry jadi ada sihirnya tersendiri gitu deh dan saya bahkan baru baca satu buku beliau yang judulnya London: Angel (padahal Kak Windry sudah menulis sebelas buku termasuk Song For Alice), tapi sudah begitu berkesannya gaya menulis Kak Windry buat saya. Makanya, dipercayai penerbit Roro Raya Sejahtera untuk bisa menjadi host blogtour buku terbaru Kak Windry merupakan kehormatan yang sangat besar buat saya yang notabene hanyalah blogger buku seadanya~~ uwu.

Alhamdulillah banget dengan adanya kesempatan wawancara dengan Kak Windry, saya bisa menyampaikan kekepoan saya mengenai kepenulisan Song For Alice dan hal-hal lainnya. Apa aja sih hasil wawancara saya dengan kak Windry kemarin? Yuk disimak ya!

Thursday, September 27, 2018

THE MAN WHO PLAYS PIANO BLOGTOUR GIVEAWAY: Twigora x A Book is a Gift


Halo, Tuan dan Nona semuanya. Bagaimana, sudah baca sesi interview? Sudah baca review saya untuk The Man Who Plays Piano?  Sudah meninggalkan komentar di semua posting blogtour di sini? Saya harap sudah yaa karena akan krusial juga kalau kalian berminat memenangkan 1 (satu) eksemplar novel The Man Who Plays Piano gratis dari Penerbit Twigora. Kesempatan menang kamu cukup banyak lho karena giveaway diadakan di kesepuluh blog yang berpartisipasi sebagai host blog tour, dan blog ini, A Book is a Gift adalah blog yang ketiga. Jadi, semangat ya! *insert senyum manis Rizzi* ((YHA)).

Persyaratan giveawaynya mudah kok. Mohon disimak ya...

Wednesday, September 26, 2018

Dhi, Rufin. THE MAN WHO PLAYS PIANO: BLOGTOUR REVIEW & PHOTO CHALLENGE!


Halo, Tuan Pianis.
Permainan pianomu indah sekali. Sama indahnya seperti saat pertama kali aku mendengarnya beberapa bulan lalu. Aku sudah lama menjadi penggemar rahasiamu, mendengar dari jauh. Aku tahu dari seseorang bahwa kamu merahasiakan identitasmu, jadi aku tidak akan berusaha mencari tahu identitas aslimu.
Tapi, kamu tidak keberatan kan kalau aku menjadi pengagum rahasiamu?


Tertanda,
Pengagummu.
P.S. Aku merekam sedikit permainanmu untuk diperdengarkan ke adikku. Apa kamu tidak keberatan?
(hlm. 7)

PENERBIT RORO RAYA SEJAHTERA
NOVEL
THE MAN WHO PLAYS PIANO
Penulis: RUFIN DHI
SC; 14 x 20 cm
Jumlah Halaman: 240 hlm
Bookpaper 55 gr;
ISBN : 978-602-51290-1-8
Harga: Rp 67,000
"Genre": Love, Unyuness, Interesting Premise, Young Adult

Bersahabat dengan Nona Pengagum dan Kisah Manis yang Diceritakannya

Surat yang ditinggalkan Anka diam-diam untuk sosok pianis misterius di gedung yang dulu merupakan Fakultas Musik, setelah sejak dua bulan sebelumnya hanya menyimak permainan piano itu dari gedung perpustakaan fakultasnya, ternyata berbalas. Sejak hari itulah Anka bukan hanya penggemar rahasia, ia menjadi Nona Pengagum bagi Tuan Pianis yang sebelumnya memainkan piano tanpa mengira ada yang akan mengetahui tentang hobi rahasia tersebut sejauh ini. Meskipun keduanya bersepakat untuk tidak saling mencari tahu identitas masing-masing, tapi tetap saja Anka, sang narator dalam cerita, merasa berhutang budi pada Tuan Pianis. Permainan piano Tuan Pianis yang sudah ia rekamkan mampu mengembalikan senyum Erika, adiknya yang sakit keras. Melihat Erika, satu-satunya keluarganya yang tersisa karena kedua orangtua Anka telah meninggal sepuluh tahun lalu kembali tersenyum, sangatlah berarti bagi Anka.

Kini permainan piano Tuan Pianis menjadi makin dinanti-nanti oleh Anka setiap harinya antara pukul dua sampai tiga sore, begitupula balasan-balasan surat dari Tuan Pianis yang ternyata juga bersimpati dan menyemangatinya. Seorang pianis misterius dan pengagum rahasianya, rupanya kisah mereka tidak hanya sebatas berbalas-balasan surat tanpa nama. Tetap saja, ada perasaan yang terlibat, ada hati yang tersentuh, dan ungkapan terima kasih yang lama-kelamaan tidak cukup hanya ditampung pada selembar kertas. Tetap saja, menyimpan rahasia tidak selalu berarti bebas dari konsekuensi. Bagaimana kisah akan bermuara untuk Tuan Pianis dan Nona Pengagum?

"Kalau jatuh cinta membuatku jadi orang yang egois, lebih baik aku nggak usah jatuh cinta..."
(hlm. 124)  

Tuesday, September 25, 2018

BLOGTOUR INTERVIEW SESSION WITH RUFIN DHI! Studying, Writing, and THE MAN WHO PLAYS PIANO


Halo, Nona dan Tuan semua. Sebuah kehormatan besar buat saya untuk kembali mendapatkan kepercayaan sebagai host blog tour, kali ini bekerjasama dengan Penerbit Twigora untuk buku karangan Rufin Dhi yang berjudul The Man Who Plays Piano. Selamat datang buat para Tuan dan Nona yang mungkin baru pertama kali mampir ke blog saya ini dalam blog tour The Ma Who Plays Piano, panggil saya Nona Risa, host ketiga kalian. Salam kenal ya!

Tentunya saya juga sudah siap "menjamu" Tuan dan Nona semua dalam giliran mampir di blog saya dengan sajian khusus dan istimewa untuk disimak dari hari ini 25 September sampai nantinya ditutup dengan GIVEAWAY pada 27 September 2018. Saya harap Tuan dan Nona semua bisa menyimak dan mengikuti semua rangkaian jamuan konten yang akan tersaji di blog A Book is a Gift, dan seterusnya hingga blog tour selesai. Buat kalian yang penasaran ingin tahu lebih jauh tentang The Man Who Plays Piano dan ingin segera membacanya memang wajib hukumnya untuk menyimak rangkaian blog tour ini sampai selesai karena selain kalian bisa mendapat info seputar The Man Who Plays Piano, kalian juga berkesempatan memenangkan bukunya gratis! Siap-siap deh untuk ketularan ber'Tuan' dan 'Nona' kayak saya setelah baca buku ini, hihi.

Di hari pertama ini mari kita awali dengan sesi tanya-jawab alias wawancara antara saya dan penulis The Man Who Plays Piano, tak lain dan tak bukan adalah Nona Rufin Dhi, yang menurut saya pribadi adalah salah satu penulis muda berpotensi besar. Simak dulu nih biodata singkat beliau berikut ini. 

RUFIN DHI adalah nama pena milik Rifina Dwiseptia Hanafi. Penulis yang lebih akrab dipanggil Ipin ini lahir di Pontianak, 4 September 1997. Kini tinggal di Kota Depok, dan berstatus sebagai seorang mahasiswi di program studi Ilmu Perpustakaan, Universitas Indonesia. Sudah menyelami dunia kepenulisan sejak tahun 2009. A Man Who Plays Piano adalah novel keduanya. Novel pertamanya berjudul The Joker's Secret (DAR!Mizan, 2013). Selain itu, pernah memenangkan belasan lomba menulis dan berkontribusi dalam beberapa buku antologi, yaitu Fragmentasi Ciuman di Bawah Hujan (Hubsche Maedchen, 2012), Kejutan Sebelum Ramadhan #20 (Nulisbuku, 2013), Ground Zero (Divapress, 2014), dan Diakritik dalam Edensor Waktu (Parade Puisi, 2017). Cukup aktif di blog pribadinya, rufindhi.wordpress.com. Tidak perlu sungkan untuk menyapanya di sana, atau bisa juga diajak ngobrol lewat instagram (@rifihana) dan surel (rifinahanafi@gmail.com).

Mantap kaan di usia semuda itu sudah banyak menghasilkan tulisan yang diterbitkan. Saya beruntung banget nih bisa dapat kesempatan untuk kepoin Nona Rufin dalam sesi tanya-jawab yang disediakan Penerbit Twigora. Saya harap hasil tanya-jawab yang akan dibagikan ini bisa bermanfaat buat kalian dan membuat kalian makin penasaran dan yakin untuk mendukung buku kedua dan terbaru Nona Rufin, tak lain dan tak bukan The Man Who Plays Piano. Yuk kita simak transkrip hasil wawancaranya bareng-bareng!

Monday, July 16, 2018

Geiger, A. V. FOLLOW ME BACK Review (BLOGTOUR & GIVEAWAY ALERT!)

Perhatian, penggemar. Kalian tdk mencintaiku, bahkan tdk mengenalku. Aku TDK AKAN mencintai kalian. Taruh ponsel, keluar, dan hiduplah.
(hlm. 32)

Tahun terbit: 2018
Penerbit: Spring
Edisi: Paperback, bahasa Indonesia
Genre: Interesting Premise, Thriller, Millenials, Young-Adult

Kalimat yang saya kutip barusan adalah isi tweet yang sebenarnya ingin Eric Thorn postingkan seandainya ia bisa benar-benar jujur pada jutaan penggemar yang mengikuti akun Twitternya. Namanya juga resiko jadi idola pop terkenal dunia, ya, tapi saya harap kalian nggak terburu-buru menuduh Eric seorang yang nggak bersyukur dan nggak menghargai penggemarnya karena bahkan idola ngetop juga manusia 'kan? Menjadi terkenal dan memiliki jutaan fans bukan sebuah kondisi yang mudah dipahami semua orang. Usianya delapan belas, dan meskipun bakat musiknya telah mengantarkannya menuju ketenaran, ternyata konsekuensi yang mengikutinya mungkin terlalu "tega" bagi seseorang seusianya. Kontraknya dengan label rekaman menuntutnya untuk bisa selalu tampil demi profit dan "kepuasan" penggemar yang bahkan mungkin sebenarnya tidak terlalu peduli seperti apa musiknya dan akan puas dengan wajah ganteng dan tubuh sixpack nya.

Animo para fans pun makin menjadi ketika tagar #TerobsesiEricThorn yang dimulai oleh Tessa Hart menjadi trending topic worldwide. Ini mungkin kabar baik bagi publisis dan label rekaman Eric, yang kemudian menyuruh Eric membuka sesi mengikuti-balik penggemarnya. Namun Eric tidak bisa mengenyahkan ketakutannya bahwa di antara jutaan penggemar itu mengintai kegilaan dan obsesi yang akan mencelakainya ketika Eric memberikan celah untuk membuat imajinasi obsesif yang maladaptif itu semakin tidak terkendali hanya karena mengikuti-balik, seperti yang dialami Dorian Cromwell yang diduga tewas karena diserang seorang penggemar yang akunnya diikuti-balik. Andai saja segala kehebohan tentang dia bisa mereda, mungkin ia akan bisa lebih tenang, setenang yang dimungkinkan oleh seorang bintang pop remaja.

"Setiap kali Eric menatap lurus ke kamera, kau bisa melihat pendaran rasa takut."
(hlm. 11)

Tessa Hart adalah satu dari jutaan followers Eric Thorn di Twitter. Meski juga sering menunjukkan reaksi fangirling pada ketampanan dan keseksian Eric, Tessa merasakan bahwa lebih dari raut wajah keren dan penuh senyum Eric untuk menghipnotis penggemarnya, ada sesuatu dalam diri Eric yang berbicara kepadanya. Menjadi seorang gadis yang berusia sama dengan Eric dan mengalami kondisi agorafobia membuat Tessa selalu dikelilingi kecemasan tidak masuk akal yang membuatnya menakuti dunia luar dan bertemu orang lain (kecuali terapisnya, ibunya, dan Scott pacarnya), terutama semenjak yang dialaminya di New Orleans.

Dengan bantuan Dr. Regan, terapisnya, Tessa mencoba menaklukkan fobia yang dimilikinya ini, dan Tessa harus memanfaatkan semua sarana yang bisa diraihnya untuk membuatnya bisa mulai kembali berinteraksi dengan dunia luar. Internet dan Eric Thorn ternyata menawarkan peluang baginya untuk memperbaiki kondisi. Kesan lebih dalam yang ditangkap Tessa dari semua yang ditampilkan Eric Thorn membuat Tessa menjadi penuh dengan gagasan yang akhirnya dituangkannya dalam bentuk fanfiksi berjudul "Terobsesi". Fanfiksi yang ditulisnya di Wattpad dan ia bagikan di Twitter dengan tagar #TerobsesiEricThorn tersebut pun menjadi viral dan trending. Lagu "Aloe Vera" dari Eric Thorn menjadi favorit Tessa untuk didengarkan berulang kali karena suara merdu Eric dan lirik yang dinyanyikannya seperti memahami perasaan Tessa walau mungkin saja yang dimaksud Eric dalam lagu itu tidak seperti yang diinterpretasikan Tessa untuk dirinya sendiri. Bisa saja Tessa hanya memroyeksikan kecemasan dan ketakutannya pada sosok Eric Thorn dalam bias proyeksi. 

Terhubungnya Eric yang ingin menghentikan kehebohan #TerobsesiEricThorn dalam interaksi dunia maya dengan Tessa yang memulai kehebohan itu lambat laun menarik benang merah di antara keduanya yang sekilas nampak hidup di kehidupan yang terlalu kontras untuk saling memahami. Koneksi Eric dan Tessa pun tak lepas dari sisi gelap Internet yang kemudian membuat hal yang ditakuti dalam bayang-bayang akhirnya menampakkan diri. Bagaimana Eric dan Tessa akan menghadapinya?

Sunday, June 3, 2018

Christie, Agatha - KENANGAN KEMATIAN ("Sparkling Cyanide"): Mendalami Berbagai Dinamika Pribadi Lewat Jalan Pintas Bernama Kenangan


Hampir setahun yang lalu - dan masih segar dalam kenangannya, bagaikan peristiwa kemarin saja! Rosemary, untuk kenangan. Ungkapan yang cocok sekali. Tak ada gunanya orang meninggal kalau dia masih tetap hidup dalam benakmu. Seperti itulah Rosemary. (hlm. 88).
Tahun terbit: 2013
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Genre: Mystery, Crime, Interesting Premise
Edisi: Cetakan ke-6, Softcover, bahasa Indonesia

Sesungguhnya dengan menyelesaikan membaca buku ini, saya juga tanpa sengaja berhasil menyelesaikan membaca cerita misteri karangan Dame Agatha yang tidak menampilkan tokoh Hercule Poirot tanpa direncana. Ini sebuah info tidak penting yang saya beritahukan buat kalian yang baca, karena biasanya saya cenderung akan lebih mempertimbangkan baca karangan Agatha Christie yang ada Poirot nya dulu di antara koleksi Agatha Christie yang ada di rumah. Kalau kalian belum tahu, sosok detektif Hercule Poirot ini memang termasuk karakter fiksi kesayangan saya banget, sampai saya seringkali berharap bisa bertemu dengan sosok seperti beliau di dunia nyata. Meski demikian, sebenarnya kakak saya yang sudah baca jauh lebih banyak kisah-kisah Poirot/karangan Agatha Christie lainnya daripada saya. Kakak saya berkontribusi membuat koleksi Agatha Christie di rumah jadi cukup lengkap, dan saya pun tinggal pilih-pilih dan menunggu mood untuk baca. Padahal sebenarnya saya yang duluan baca Agatha Christie karena dulu tertarik baca dan akhirnya beli sampai selesai baca buku Agatha Christie pertama saya, yaitu "Death in the Clouds".

Oke, kenapa saya jadi panjang banget ngebahas yang nggak ada substansi review nya, sebenarnya karena masih nyambung sama satu poin penjelasan dari pendapat saya tentang buku "Kenangan Kematian" ini: Premisnya sebegitu menarik buat saya sampai-sampai saya dengan sendirinya tergerak untuk menyimak ceritanya tanpa memerhatikan tokoh detektif/pengusut misterinya. Bahkan dari judulnya saja sebenarnya sudah cukup memikat minat saya karena mengesankan sesuatu yang, duh gimana milih katanya, ya... melodramatis? Nah mungkin itu aja, melodramatis. Kalau boleh jujur memang judulnya membuat saya mengekspektasikan kisah yang cenderung "sedih" atau bahasa Jawa nya, mesakke. Nggak hanya mengekspektasikan itu saja sih sebenarnya, saya juga menangkap kesan kalau sepertinya ceritanya bakalan bikin penasaran, meski harusnya itu menjadi "kewajiban" dari bacaan genre misteri. Ini dikatakan sama saya yang baru baca Agatha Christie sama Robert Galbraith doang, jadi silakan diterima kesotoyannya.

Pada perayaan ulang tahunnya, Rosemary Barton tewas setelah menenggak sampanye yang telah dicampur dengan arsenik. Enam orang duduk semeja dengannya: George Barton, sang suami; Iris Marle, sang adik; Ruth Lessing, sekretaris George yang selalu bisa diandalkan; Stephen dan Alexandra Farraday, pasangan terhormat - yang pria politisi berbakat dan yang wanita keturunan keluarga terpandang; lalu Anthony Browne, pria tampan yang menjadi teman Rosemary. Keputusan penyelidikan menyatakan kematiannya adalah bunuh diri, dan tak terasa setahun telah berlalu sejak malam tewasnya Rosemary. Dalam momen inilah cerita dimulai karena orang-orang ternyata masih menemukan diri mereka mengingat dan mengenang Rosemary dan kematiannya. Misteri hadir ketika George Barton akhirnya bercerita pada Iris Marle kalau ia menerima surat kaleng yang memberitahunya bahwa sebenarnya Rosemary tidaklah bunuh diri pada waktu itu. Tapi bagaimana harus menyikapi pesan itu ketika setahun telah berlalu, apa yang tersisa selain kenangan? Kalau bisa memilih, tentu kematian Rosemary sebaiknya bisa dilupakan dengan baik, seperti yang diharapkan pasangan Farraday yang sayangnya harus menelan harapan itu karena nyatanya kenangan tentang Rosemary dan kejadian itu hadir lagi. Rosemary Barton nampaknya masih enggan pergi...

Tuesday, May 15, 2018

Riordan, Rick. THE DARK PROPHECY (Trials of Apollo #2). Cobaan dan Ikatan yang Memperkaya Kemanusiaan.

Tahun terbit: 2017
Penerbit: Mizan Fantasi
"Genre": Mythology, Awesomeness, Fantasy, Children
Edisi: Paperback, bahasa Indonesia

Leo mengangkat bahu. "Perkara masa depan. Tidak perlu dirisaukan."

Sebagai mantan Dewa Ramalan, aku selalu menganggap masa depan sebagai sumber kerisauan tak berkesudahan. Namun, kuputuskan untuk tidak mendesak lebih lanjut. Saat ini, satu-satunya target penting untuk masa depan adalah mengembalikanku ke Gunung Olympus supaya dunia bisa kembali menikmati kegemilanganku. Aku harus mengutamakan kemaslahatan bersama.
(hlm. 247)

Setelah berhasil mengamankan Oracle kuno pertama yaitu Hutan Dodona di buku pertama "The Hidden Oracle"; cobaan lain yang lebih spektakuler tentunya masih menanti sang mantan dewa tokoh utama kesayangan kita, Apollo alias Lester Papadopolous. Mengingat bahwa menyongsong semua cobaan spektakuler itu adalah cara bagi sang mantan dewa agar bisa memperoleh kembali kejayaan dewatanya, maka berangkatlah Apollo, kali ini ditemani Leo Valdez sang putra Hephaestus yang mengendalikan dan tahan api, serta mantan penyihir putri Titan Atlas, Calypso. Ketiganya bersama dengan Festus si naga perunggu peliharaan Leo pergi ke Indianapolis untuk menyambangi Oracle kuno kedua, Gua Trophonius yang terkenal karena biasa mengambil kewarasan para penanya ramalannya. Ancaman yang mengintai Apollo kali ini juga bukan main-main, dan untuk mengamankan kembali Oracle sumber ramalan kuno tidak segampang itu karena besarnya ancaman pihak musuh. Ada sosok dari masa lalunya yang tidak hanya terkenal kuat dan bengis, namun juga merasa telah dikhianati olehnya dan menyimpan dendam. Pasukan monster dan abdi-abdi jahat akan menghadang langkah sang mantan dewa. Bagaimana kali ini Apollo yang minim kekuatan dewata dan hanya berbekal ukulele serta anak panah tukang ngoceh dari batang pohon Dodona menghadapinya?

Friday, September 22, 2017

Christie, Agatha. MURDER IS EASY - Misteri yang Mengecoh dengan Mudahnya, seperti Si Pembunuh.

"Apakah Anda yakin bahwa Anda tidak mengkhayal?" tanya Luke dengan lembut.
"Oh, tidak." Dia menggeleng dengan yakin. "Pertama kali mungkin, tapi pada peristiwa yang kedua, atau yang ketiga, atau yang keempat, tidak lagi. Sesudah sekian kali, saya jadi yakin."
Luke bertanya,
"Apakah maksud Anda - eh - telah terjadi beberapa kali pembunuhan?"
Dengan suara tenang yang lembut dia menyahut,
"Bahkan banyak sekali."
(hlm. 18)

Penulis: Agatha Christie
Tahun terbit: Mei 2017 (Cetakan ke- delapan)
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Edisi: Paperback, bahasa Indonesia
"Genre": Crime, Mystery

Karena Ada Kesan dan Prasangka
Lama tidak membaca buku, dan pada suatu kunjungan ke Java Mall yang berketepatan dengan diadakannya bazaar bertema "back to school" dan lapak diskon buku Gramedia juga di sana, saya pun akhirnya dipertemukan dengan buku ini. Dari judul dan cover saja semua sudah mengundang dan menggelitik "insting" membaca saya, lebih-lebih ketika membaca blurb di belakang buku yang makin membuat penasaran. Tidak menampilkan tokoh Hercule Poirot atau Miss Marple sebagai sosok detektif ciptaan Dame Agatha yang paling populer, tapi punya premis yang menarik untuk "berdiri sendiri" dan membuat saya langsung tidak pikir panjang untuk membelinya.

Dari awal kita sudah dipersilakan untuk mengikuti tokoh "utama" kita yaitu Luke Fitzwilliams saat ia sedang berada di kereta api menuju London sepulang tugasnya sebagai detektif polisi di Teluk Mayang (mana sih ya itu...). Luke memutuskan untuk duduk di dekat seorang wanita yang sudah berumur, dan mengingatkannya pada Bibi Mildred-nya. Si wanita tua, tanpa diduga menyatakan bahwa ia akan menemui polisi di Scotland Yard untuk melaporkan adanya pembunuhan berantai di desanya, Wychwood-under-Ashe. Well, will you believe that? Gimana sih "prasangka" kita sama (maaf) perempuan yang udah berumur, udah sepuh, dan yang kalau cerita sebaiknya di-iya-in biar seneng? Gimana dong kalau beliau bilang soal keyakinannya terhadap adanya pembunuh yang sudah banyak sekali melakukan aksinya, tapi sosok pembunuh itu bukan orang yang akan mudah dipercaya sebagai pembunuh?

Friday, July 7, 2017

Riordan, Rick: THE HIDDEN ORACLE (TRIALS OF APOLLO #1) - Giliran Dewa Matahari yang Disorot dalam Petualangan Baru Menjalani Ujiannya

Mantan dewa, Apollo namanya
Terperosok dalam gua biru hampa
Naik kendaraan tiga penumpang
Si perunggu pemakan api yang bisa terbang
Menelan maut dan kegilaan di luar kehendaknya
Penulis: Rick Riordan
Tahun terbit: 2017
Penerbit: Mizan Fantasi
Edisi: Paperback, Bahasa Indonesia
"Genre": Children, Family, Fantasy, Awesomeness, Contemplative, Greek Mythology

(Sedikit Intro)
Petualangan greek-mythology kekinian karya Rick Riordan rasanya masih "nggak ada matinya" buat saya. Dari kenal Percy Jackson sebagai mulanya, itupun secara mengejutkan dari filmnya yang memang langsung kebanting begitu baca bukunya (...eh), sampai ke Heroes of Olympus yang saya kira nggak bisa lebih epik lagi. Sebenarnya masih banyak lagi sih ekstensi petualangan yang diciptakan Rick Riordan, yang sebenarnya semacam kayak punya universe sendiri untuk koleksi kisah-kisah petualangan mitologi kekiniannya, dari Kane Chronicles (saya udah khatam dongg termasuk cerita bonus cross-overnya dengan Percy - ups spoiler dikit), terus yang lagi "berjalan" seriesnya juga ada Magnus Chase and the Gods of Asgard (saya masih nunggu buku ketiganya). Rick Riordan juga menulis buku-buku mythology-themed secara "lepas" juga untuk menceritakan-ulang kisah-kisah mitologi Yunani a la Percy Jackson (sebagai narator), dan dari semua buku beliau baik yang series atau spin-off yang belum saya baca cuma yang Greek Heroes (ada yang mau beliin? Eheh.).

Intinya saking setianya saya (#...) pada karya Rick Riordan, kalau suatu saat Rick Riordan/penerbitnya secara ajaib mengadakan event tentang bukunya beliau di Indonesia, rasanya kayak nggak afdol sih kalau saya yang udah setia baca ini nggak dinotis atau diundang atau secara ajaib bisa hadir juga. Semoga ya, who knows, right? Amiin...

Seolah menjawab pertanyaan yang mungkin belum sempat terucap dari fans/pembaca setianya soal apakah ada petualangan seru lagi untuk Percy cs dan demigod lain, atau mungkin karena beliau memang mempunyai amunisi pengembangan cerita yang belum disajikan ke pembacanya; Rick Riordan menghadirkan seri baru berjudul 'Trials of Apollo'. Buku pertamanya yang akan menjadi bahasan postingan ini (setelah intro yang maaf kalau kepanjangan, meski sebenarnya bebas-bebas aja saya orang ini blog saya hehe) adalah 'The Hidden Oracle'.

Wednesday, June 7, 2017

Wishful Wednesday #9: Literary of Writings

Today I finally got the opportunity to post a Wishful Wednesday after so longg I haven't because somehow I can't catch up in the right Wednesday (?) or I simply only remember about the opportunity when its not Wednesday instead = =. Well, for this edition of Wishful Wednesday, it's co-incident with how I was tempted to browse through bookdepository bargain sale when I check my email inbox and there is the one email they told me about the bargain sale. I have picked one mystery/thriller book to add to my wishlist from there, but then I am somewhat thinking of checking out books about writing. 



Friday, May 12, 2017

Writerstruck Experience: Mbak Windy Ariestanty, Bang Raditya Dika... and Other Writers! (Reading Gets Personal #3)

Does the title succeeded in luring you into reading this?? Well, it's just an attempt to do clickbait that seem to matter in these digital era. Whichever the case, please #BEWITH_MILANOCASE please continue reading...

I have been meaning to share my writerstruck experience since forever, lol. The actual "event" are actually had been happened for almost several months, even years but I just recently made up my mood/energy/focus to actually write it here. All of the occasion that allows me to interact with writers whose book I read are surely lasted enough that I still have the urge to share the experience after quite much time has passed since the actual event.

Tuesday, April 4, 2017

A Book is a Gift's THIS OR THAT BOOK TAG - with Rambles

I don't even know if I can still call myself a book-lover or book-blogger the like considering not only how long I didn't post new thing here, but also how I haven't read anything for sometime I am unable to count until now T___T. I bought newest Detektif Conan's comic book a few days ago and even I didn't finish it until now. I think I read more in my laptop now in forms of articles or Quora feed than in the classical context of properly holding a concrete book and just read it all day, ignoring my phone or the Internet or daily domestic chores.


 Life's a bit different now when I'm adapting to an employee's 8-to-5 routine (this girl ain't complaining since she got a start and a taste of HRD in her current job thanks to mom) and at the same time has to take some responsibility in domestic routines at home. The later is not burdening actually since its just basically helping out with the laundry and cooking in weekend, yet somehow on those free time I  get I have been preferring to mingle with my laptop than my books. Actually its not really bad and useless, though, since I am sort of running an online shop brand of custom smartphone case and helping out a dear friend with her start up by pushing myself to write and edit articles.

Tuesday, January 3, 2017

Scene On Three #4: Hidup Selamanya dan Selamanya :''')

Salah satu hal aneh tentang hidup di dunia, adalah bahwa hanya sesekali seseorang merasa cukup yakin akan hidup untuk selamanya dan selamanya dan selamanya. Terkadang seseorang mengetahuinya saat terbangun pada waktu fajar baru yang hening. Lalu dia keluar dan berdiri sendirian, melemparkan kepala jauh ke belakang dan melihat ke atas dan ke atas. Kemudian dia menyaksikan langit yang pucat perlahan berubah dan memerah dan hal-hal aneh yang mengagumkan terjadi sampai sang Timur nyaris membuat orang berteriak dan jantungnya berhenti karena menatap keindahan terbitnya matahari yang selalu luar biasa - yang selalu terjadi setiap pagi selama ribuan dan ribuan dan ribuan tahun. Saat itulah seseorang mengetahuinya untuk sejenak. Dan kadang-kadang seseorang mengetahuinya ketika berdiri sendirian di dalam hutan saat matahari terbenam dan keheningan emas pekat yang misterius menembus dari bawah dahan-dahan seperti mengatakan berulang-ulang dengan perlahan sesuatu yang sulit didengar, seberapa keras pun seseorang berusaha. Lalu terkadang hitam biru sunyi yang sangat luas pada malam hari dengan jutaan gemintang menunggu dan menyaksikan dapat membuat seseorang yakin. Kadang-kadang suara musik di kejauhan, dan juga terkadang tatapan ke dalam mata seseorang, membuat hal itu terasa benar.

Setelah membaca The Secret Garden (dan mereviewnya), menurut saya buku tersebut juga sama-sama mengandung keunyuan besar (#...) sekaligus makna yang dalam melalui pengkomunikasian hal-hal berarti, meskipun sederhana - yang mungkin terlupakan di tengah kesibukan yang fana (#...). Salah satu uraian yang saya suka dari buku Secret Garden tersebut, yang telah saya kutip di atas sebenarnya deskripsi di satu halaman penuh. Mungkin terlalu panjang kalau dipaksa disebut scene, tapi saya merasa tersentuh saat membacanya dan ingin membagikannya ke Anda yang mampir di sini. Gambaran yang dilukiskan oleh penulis dalam uraian deskripsinya terasa membuai saya, bahkan meski saya sebenarnya bukan orang yang "seunyu" itu untuk rajin melihat matahari terbit dan terbenam atau apa (#...). Membaca uraian tersebut membuat saya jadi membayangkan saat-saat "hidup selamanya" bagi saya, ketika saya bisa berkumpul dengan keluarga, memeluk orangtua dan saudara-saudari saya (HIQSBAPER), saat-saat yang membuat kita merasa nggak berbatas dan bahagia sepenuhnya, dalam-dalam sampai ke hati. Let me know what do you feel and think about those one-page paragraph above!...dann jangan lupa untuk membagi Scene on Three kalian ya!

Yuk ikutan share adegan unyu maxima Anda juga dari buku. Here's how:
1. Tuliskan suatu adegan atau deskripsi pemandangan/manusia/situasi/kota dan sebagainya dari buku pilihan kalian ke dalam suatu post.
2. Jelaskan mengapa adegan atau deskripsi itu menarik, menurut versi kalian masing-masing.
3. Jangan lupa cantumkan button Scene on Three di dalam post dengan link menuju blog Bacaan B.Zee.
4. Masukkan link post kalian ke link tools yang ada di bawah post Bacaan B.Zee edisi hari ybs, sekalian saling mengunjungi sesama peserta Scene on Three.
5. Meme ini diadakan setiap tanggal yang mengandung angka tiga, sesuai dengan ketersediaan tanggal di bulan tersebut (tanggal 3, 13, 23, 30, dan 31).

Friday, December 30, 2016

Burnett, Frances Hodgson. THE SECRET GARDEN. Bertumbuh Lewat Keajaiban Sederhana.

Dia tak bisa berhenti memikirkan kebun yang tak dimasuki seorang pun selama sepuluh tahun. Dia penasaran seperti apa kebun itu dan ingin tahu apakah masih ada bunga yang hidup di dalam sana.

Tahun terbit: 2016
Penerbit: Qanita (Penerbit Mizan)
Edisi: Paperback, bahasa Indonesia
"Genre": Children, Family, Unyuness, Reflective

Sebelumnya, saya hanya pernah tahu tentang Frances Hodgson Burnett dari cuplikan-cuplikan buku Little Princess dalam buku Princess Diaries nya Meg Cabot. Alhamdulillah akhirnya saya bisa berkesempatan untuk bisa membaca satu buku utuh tulisan Mrs. Burnett melalui kesediaan Asysyifa mengoperkan satu kopi buku Secret Garden ini pada saya untuk direview. Terima kasih banyaak ya Fa!

Blurb buku ini sudah cukup jelas untuk menggambarkan garis besar ceritanya. Kita akan mengikuti cerita bagaimana Mary Lennox yang harus pindah-kembali ke Inggris menjalani hari-harinya di Misselthwaite Manor, rumah kepunyaan pamannya, Archibald Craven, di Yorkshire. Mary yang usianya sepuluh tahun sebelumnya tumbuh besar di India dan lebih sering dimanja dan dibiarkan, sehingga tak ayal ia pun tumbuh menjadi anak yang kurang menyenangkan, egois, dan suka membangkang (not her fault, though...). Kepindahannya ke Inggris karena kedua orangtuanya meninggal akibat wabah kolera membuat Mary harus menghadapi banyak hal baru, tapi ternyata Yorkshire dan Misselthwaite Manor mengenalkan banyak hal baik untuk Mary. Udara segar Yorkshire, suasana padang kerangas (yang saya sendiri juga sebelumnya nggak tahu), dan orang-orang baru yang ditemui Mary mengisi pengalaman keseharian Mary dengan hal-hal yang bermakna dan "memperkaya" dirinya (#tsah).

Friday, October 21, 2016

Ness, Patrick. A MONSTER CALLS. Insightful Fiction From A Boy's Story.

Here is what will happen, Conor O'Malley, the monster continued, I will come to you again on further nights. ... And I will tell you three stories. Three tales from when I walked before.
...
Stories are the wildest things of all, the monsters rumbled. Stories chase and bite and hunt.
...

And when I have finished my three stories, ..., you will tell me the fourth.
Tahun terbit: 2011
Penerbit: Walker Books
Edisi: E-book (.epub), bahasa Inggris
"Genre": Children, Contemplative, Family, Terminal Illness

Sebenarnya sudah lama saya berkeinginan membaca buku ini, namun baru-baru ini saja saya bisa menamatkan membacanya. Premis tentang kemungkinan metaforis dari sosok monster yang diceritakan dalam buku ini, lalu juga ulasan teman-teman pembaca (terutama Ireisha alias Ru - apa kabar ya Ru?) kalau buku ini ceritanya bagus, kemudian pengalaman membaca karya Patrick Ness yang tidak mengecewakan dari The Knife of Never Letting Go (dari rekomendasi Ru juga) - ketiga hal itu akhirnya bisa dibilang jaminan bahwa saya akan menyukai buku ini, dan memang benar. Saya suka banget sama cerita buku ini :'''

Menampilkan sosok utama seorang 'bocah' laki-laki, Conor O'Maley (seperti halnya di buku The Knife...), buku ini menceritakan bagaimana Conor menghadapi keadaan sakit parah (terminal illness) yang dialami ibunya. Sosok monster dalam buku ini lah yang seakan menjadi "jembatan" menuju tema fiksi yang melingkupi situasi reality based dari pengalaman seorang anak dengan ibu yang mengalami terminal illness. Monster yang mengambil wujud dari pohon yew di halaman belakang rumah Conor ini datang setiap pukul 12:07 malam, bersikeras menceritakan tiga kisah pada Conor, bersikeras bahwa Conor akan menceritakan kisah keempat. Sementara, mimpi buruk yang jauh lebih mengerikan daripada sang monster masih menghantui Conor.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Back to Top