Friday, July 7, 2017

Riordan, Rick: THE HIDDEN ORACLE (TRIALS OF APOLLO #1) - Giliran Dewa Matahari yang Disorot dalam Petualangan Baru Menjalani Ujiannya

Mantan dewa, Apollo namanya
Terperosok dalam gua biru hampa
Naik kendaraan tiga penumpang
Si perunggu pemakan api yang bisa terbang
Menelan maut dan kegilaan di luar kehendaknya
Penulis: Rick Riordan
Tahun terbit: 2017
Penerbit: Mizan Fantasi
Edisi: Paperback, Bahasa Indonesia
"Genre": Children, Family, Fantasy, Awesomeness, Contemplative, Greek Mythology

(Sedikit Intro)
Petualangan greek-mythology kekinian karya Rick Riordan rasanya masih "nggak ada matinya" buat saya. Dari kenal Percy Jackson sebagai mulanya, itupun secara mengejutkan dari filmnya yang memang langsung kebanting begitu baca bukunya (...eh), sampai ke Heroes of Olympus yang saya kira nggak bisa lebih epik lagi. Sebenarnya masih banyak lagi sih ekstensi petualangan yang diciptakan Rick Riordan, yang sebenarnya semacam kayak punya universe sendiri untuk koleksi kisah-kisah petualangan mitologi kekiniannya, dari Kane Chronicles (saya udah khatam dongg termasuk cerita bonus cross-overnya dengan Percy - ups spoiler dikit), terus yang lagi "berjalan" seriesnya juga ada Magnus Chase and the Gods of Asgard (saya masih nunggu buku ketiganya). Rick Riordan juga menulis buku-buku mythology-themed secara "lepas" juga untuk menceritakan-ulang kisah-kisah mitologi Yunani a la Percy Jackson (sebagai narator), dan dari semua buku beliau baik yang series atau spin-off yang belum saya baca cuma yang Greek Heroes (ada yang mau beliin? Eheh.).

Intinya saking setianya saya (#...) pada karya Rick Riordan, kalau suatu saat Rick Riordan/penerbitnya secara ajaib mengadakan event tentang bukunya beliau di Indonesia, rasanya kayak nggak afdol sih kalau saya yang udah setia baca ini nggak dinotis atau diundang atau secara ajaib bisa hadir juga. Semoga ya, who knows, right? Amiin...

Seolah menjawab pertanyaan yang mungkin belum sempat terucap dari fans/pembaca setianya soal apakah ada petualangan seru lagi untuk Percy cs dan demigod lain, atau mungkin karena beliau memang mempunyai amunisi pengembangan cerita yang belum disajikan ke pembacanya; Rick Riordan menghadirkan seri baru berjudul 'Trials of Apollo'. Buku pertamanya yang akan menjadi bahasan postingan ini (setelah intro yang maaf kalau kepanjangan, meski sebenarnya bebas-bebas aja saya orang ini blog saya hehe) adalah 'The Hidden Oracle'.


Berpetualang Mitologi Kembali: Ada Nostalgia dan Banyak Wajah Baru
Berbeda dengan seri petualangan mitologik-kekinian sebelumnya yang biasanya bertokoh utama demigod (anak setengah dewa/i mitologi), pusat dari seri Trials of Apollo adalah Dewa Apollo. Setersanjung-tersanjungnya Apollo "diutamakan" di seri ini (mengingat sifatnya yang agak narsis, dan pastinya pembaca karya Riordan familiar sih dengan sifatnya itu), Apollo diceritakan sedang ditimpa kemalangan karena dijatuhi hukuman oleh ayahnya, Dewa Zeus. Hukumannya cukup "telak", dicabut keabadiannya, dijadikan manusia fana remaja yang serba nggak-keren di bawah nama samaran Lester Papadopoulos.

Rupanya masih sebagai imbas dari rangkaian kejadian sejak perang bangsa Olympia (baik Yunani maupun Romawi) dan demigodnya melawan Gaea serta antek raksasanya, Apollo masih mempunyai kewajiban untuk menyelamatkan para Oracle atau peramal dan/atau sumber ramalannya. Musuh sedang berusaha meniadakan sumber ramalan, padahal ramalan memegang peranan penting untuk membantu membentuk masa depan dan mengarahkan tindakan bangsa Olympia dan demigod.

Bayangkan ramalan sebagai benih bunga. Asal benihnya benar, kita bisa menumbuhkan tanaman apa saja yang kita inginkan. Tanpa benih, tidak akan ada yang tumbuh. (hlm. 118).

Dalam usahanya untuk memperbaiki kesalahannya agar bisa kembali menjadi dewa, Apollo ternyata dipertemukan dengan Meg McCaffrey, karakter demigod baru yang unik sekaligus agak bikin gemes kalau menurut saya, kalau tidak mau dibilang eksentrik karena keahlian utama yang pertama-tama ditunjukkannya adalah berkelahi dengan menghujankan sampah-sampah ke lawannya. Selalu nilai tambah buat Rick Riordan untuk bisa membuat karakter-karakter yang menunjukkan keberagaman, tidak hanya soal penampilan tapi juga kepribadiannya. Saya nggak bisa bilang kalau Meg ini favorit saya sih, tapi saya selalu heran dan geli sih dengan pendeskripsian Apollo tentangnya sepanjang cerita. Bahkan penggambaran kesan awal penampilannya tidak mengesankannya sebagai tokoh utama yang "normal", dan itu gemes banget haha.

Anak perempuan itu tangga darurat itu sejatinya tidak membangkitkan rasa takut. Dia kecil montok, berambut gelap yang dipangkas pendek asal-asalan sehingga membentuk mangkuk, dan mengenakan kacamata dengan bentuk mata kucing bergagang hitam yang dihiasi permata-permataan di bagian sudut. Meskipun suhu sedang dingin, dia tidak mengenakan mantel. Busananya seperti dipilihkan oleh anak TK - sepatu olahraga merah, celana ketat kuning, dan rok terusan hijau berlengan kutung. Barangkali dia hendak menghadiri pesta kostum sebagai lampu lalu lintas. (hlm. 12)

Meskipun memperkenalkan tokoh utama baru, Rick Riordan membawa pembaca kembali ke Perkemahan Blasteran di Long Island (dan entah bagaimana memang kerasa kayak udah lama banget sejak ngikutin Heroes of Olympus). Kembali ke Perkemahan Blasteran, ternyata sudah ada banyak wajah-wajah demigod baru yang makin memberikan nuansa keberagaman. Saya sampai gak hafal nama-namanya, meski demikian saya rasa Rick Riordan sedang menunjukkan kalau turunan demigod itu bisa dari asal muasal yang beragam banget, ada yang ternyata keturunan Brazil, Italia, dan intinya bukan "warga/turunan setempat" saja.

Datangnya Dewa Apollo ke Perkemahan Blasteran tidak lantas memberikan titik terang atau solusi all-in, mengingat wujudnya yang fana dan ingatan/pengetahuan yang juga jadi ikut terbatas, karena Apollo mengaku memiliki ingatan yang kabur tentang enam bulan terakhir, sekitar selepas perang dengan Gaea (timeline Heroes of Olympus). Perkemahan Blasteran sedang menghadapi situasi bermasalah di mana terdapat sejumlah demigod yang mendadak hilang. Yah, imbas dari terancamnya sumber ramalan Apollo memang panjang jadinya. Semua menjadi tantangan dan ujian bagi dewa yang sedang tengah dihukum menjadi fana.

Seri Baru yang Tak Sekedar "Baru"
Saya sangat mengapresiasi bagaimana Rick Riordan ternyata menunjukkan kesolidan dalam menyusun semua kisah-kisah petualangan mitologi kekiniannya. Rupanya seri Trials of Apollo ini masih berkerangkakan unsur-unsur cerita petualangan dari seri yang lalu, sampai ke masa Perang Titan (berantagonis utama Kronos di jaman seri Percy Jackson and The Olympians). Ancaman musuh pun tidak diada-adakan karena punya benang merah yang memang masuk akal untuk ditarik dan diolah menjadi arc Trials of Apollo ini.

Saya sangat mengantisipasi bagaimana kelanjutan petualangan Apollo dan perjuangannya dalam pengalaman kondisi fananya yang diceritakan sangat menarik di sini. Banyak poin-poin mendalam yang disinggung dalam narasi Apollo, yang meski mayoritas kocak/narsis, tapi juga menunjukkan semacam kesan "rapuh". Karena sebenarnya dewa seperti Apollo juga punya kesalahan dan penyesalan. Ironi dari menjadi imortal dan konsekuensinya, dan bagaimana ke-tidak abadi-an manusia itu ternyata tidak menjadikan manusia lemah. Lebih dari itu, ternyata merasakan berada di kondisi "fana" ternyata banyak memberi pemahaman-pemahaman baru yang sulit didapat meski memiliki kekuatan dewata. Salah satunya, merenungi arti menjadi seorang ayah; ketika anak-anak di Kabin Apollo tetap mendukungnya meski kondisinya tidak sekuat biasanya.

Para demigod ini pelindungku dan keluargaku, tapi pada saat ini aku tidak dapat menganggap diriku sebagai ayah mereka. Ayah semestinya bertindak lebih - kepada anak-anaknya, seorang ayah semestinya lebih banyak memberi daripada menerima. (hlm. 138)

Rick Riordan ternyata juga tetap mampu menyinggung banyak topik yang memancing renungan pembaca yang usianya lebih dewasa. Saya yang sudah membaca banyak buku beliau bahkan masih merasa terkejut dengan ekstensi pemahaman yang saya dapat saat membaca buku ini. Barangkali latar belakang Rick Riordan yang memiliki pengalaman sebagai seorang guru membuat beliau belajar banyak tentang apa saja yang mempengaruhi kondisi perkembangan seseorang yang sedang bertumbuh di usia belia, bahkan hingga interaksi mereka dengan orangtuanya. Semua tersampaikan dengan penceritaan Rick Riordan dengan gaya bahasa yang ringan. Iya, masih juga dengan banyaknya referensi generasi milenial yang bisa jadi berasa receh (contoh: membayangkan Dewa Olympia main Snapchat) tapi saya mendapatinya sebagai sesuatu yang bisa diterima sebagai (ehem) pembaca setianya.

Narator cerita adalah tokoh Apollo sendiri dengan sudut pandang orang pertama yang menghibur dan seru, meski agak receh juga (justru karena itu sih lucunya). Narasinya Apollo sering memunculkan banyak judul lagu yang masih asing buat saya, tapi itu hanya sedikit ganjalan kecil. Tiap bab akan dibuka dengan haiku (sejenis puisi pendek) karangan Apollo yang kualitasnya sudah tidak perlu diragukan lagi (...lol). Sebenarnya bukunya memang untuk pembaca yang masih berusia belasan dan jauh lebih muda dibanding saya, jadi bagian-bagian lucu dari referensi kekiniannya memang bisa mengurangi kesan terlalu berat juga. Setidaknya, kekocakan/kerecehan deskripsi perilaku para demigod dan tokoh-tokoh mitologik yang dideskripsikan Rick Riordan di buku tidak membuat pengalaman membaca jadi ikut berkesan "murah".

Saya sempat salah mengira kalau Trials of Apollo akan terdiri dari tiga buku, tapi ternyata akan terdiri dari LIMA buku. Sangat menyenangkan melihat Rick Riordan cukup produktif untuk menjanjikan pada kita kalau masih ada petualangan epik lain lagi. Entah kenapa saya merasa kalau bakal ada titik temunya yang super keren antara seri ini dengan seri Magnus Chase yang juga sedang on-going, mengingat Percy dan Annabeth (yang kayak merupakan pasangan pahlawan seniornya cerita Rick Riordan) punya keterkaitan dengan keduanya.

Buat saya memang kedua seri tersebut seperti memang "sudah seharusnya" untuk dikisahkan ke kita bukannya dibuat karena mengekor kesuksesan seri Percy Jackson atau Heroes of Olympus. Bagi yang suka petualangan mitologi kekinian, tahu Percy Jackson dan Rick Riordan, seharusnya nggak perlu nunggu direkomendasiin sih untuk baca buku ini. Singkatnya, nggak mengecewakan dan nggak menunjukkan penurunan dari keseruan seri/arc lain yang mendahuluinya, malah justru makin menunjukkan prospek keseruan dan ke-epik-an yang basis ceritanya justru lebih solid didukung petualangan sebelumnya. Semoga selalu tetap menanjak deh keseruannya!

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Back to Top