Friday, November 9, 2018

SONG FOR ALICE BLOGTOUR GIVEAWAY: Penerbit Twigora x A Book is a Gift


Sama seperti kata Arsen di gambar di atas, saya juga ingin membuat kalian bahagia karena sudah menyimak blogtour Song For Alice sampai penghujung ini (di giliran saya~) dengan mengadakan giveaway juga seperti host lainnya, berhadiah satu eksemplar buku Song For Alice untuk seorang pemenang! Gimana kesan kalian sejauh ini? Semoga posting interview dan review saya bisa diterima dan menjadi pertimbangan kalian ya, supaya bisa segera baca Song For Alice karena kalian pastinya nggak akan nyesel untuk baca novel ini :'

Saya tunggu tanggapan dan partisipasi kalian ya! Untuk mengikuti giveaway novel Song For Alice, caranya juga nggak susah kok, mohon disimak ya ketentuannya di bawah ini...

Thursday, November 8, 2018

Ramadhina, Windry. SONG FOR ALICE Book Review and Photo Challenge (Blogtour)

Hidupnya sempurna - atau setidaknya, dia pernah berpikir hidupnya sempurna.
Sekarang, ya, dia akan menyesal. Sangat. Bukan karena dia kehilangan musik, atau karena tidak lagi bisa merasakan cahaya menyorot ke arahnya, atau karena rindu mendengar lautan manusia menyebut namanya dengan putus asa.
Bukan karena itu semua.
(hlm. 55)

PENERBIT RORO RAYA SEJAHTERA
NOVEL
SONG FOR ALICE
WINDRY RAMADHINA
SC; 14 x 20 cm
Jumlah Halaman: 328 halaman
Bookpaper 55 gr;
ISBN 978-602-51290-7-0
Harga: Rp 85,000
Tagline: "Mencintaimu adalah penantian yang panjang."
"Genre": Love, Family, Drama, Music

Kisah Berjiwakan Cinta yang Bukan Sekedar Cinta

Setelah Follow Me Back, ternyata di Song For Alice saya kembali bertemu dan mengenal seorang pemusik muda, tampan, dan terkenal; tapi dengan kekosongan di hatinya. Namanya Arsen Rengga, seorang rocker muda yang tidak hanya jago nyanyi tapi juga menulis lagu dan memetik gitar. Kehidupan gemerlap musisi terkenal rupanya tidak memberikan segalanya bagi Arsen, karena rupanya ada yang hilang dalam dirinya hingga tercermin dalam musiknya. Wild Cherry boleh jadi menjadi lagu terpopuler, namun di sisi lain kritikus musik merasa bahwa Arsen menunjukkan penurunan kualitas gemilang yang dimilikinya. Memang berat untuk menerima semua kritik itu dan mengakui ada yang "hilang",  tapi kalau begitu terus, bukan hanya karir Arsen yang terancam. Tentunya bukan seperti itu hidup yang diinginkan Arsen, dibayang-bayangi kekosongan di dalam hatinya.

Sementara itu ada Alice Lila, yang bertahan menjaga kenangan keluarganya lewat Lilt, sekolah musik di pinggiran kota tempat ia mengajar kelas piano. Banyak hal tentang Alice Lila yang nampak berkebalikan seratus delapan puluh derajat dari Arsen Rengga. Dari penampilan dan tingkah-lakunya, Alice kurang-lebih merepresentasikan musik klasik kesukaannya, cantik dan anggun. Tapi saya kurang berani menjamin, sih, untuk sifat lain dari Alice - apalagi kalau belum mendapat asupan kafein karena bisa jadi super-galak, terutama ke Arsen kalau berulah. Nah, aneh kah buat kalian kalau seorang idola rock yang berantakan, berambisi besar, dan sulit dikekang seperti Arsen Rengga bisa punya relasi dengan seorang Alice Lila? Eits, hati-hati jangan sampai terburu-buru tanpa tahu lebih dalam, misalnya darimana keduanya berasal dan tumbuh. Lilt lah yang kurang-lebih menjadi benang merah bertautnya kedua insan berhuruf-depan A ini sejak mereka kecil, sebagai anak yang sama-sama menyukai musik (terlepas dari perbedaan preferensi genre nya).

Wednesday, November 7, 2018

BLOGTOUR INTERVIEW with WINDRY RAMADHINA: Penulisan SONG FOR ALICE dan Detail Menarik Lainnya!


...and now the blogtour is perfect, kalau kata saya~~ Maksudnya, blogtour nya sudah hampir tersempurnakan siklusnya karena tibalah giliran saya menyambut sebagai host juru kunci alias host penutup alias host terakhir dari rangkaian blogtour Song for Alice~~~

HAI, SELAMAT DATANG! Halo buat Anda yang baru pertama mampir ke A Book is a Gift, nama saya Risa, host ke-tujuh Song for Alice. Hai juga buat yang sebelumnya pernah mampir atau nyasar ke A Book is a Gift, semoga kalian semua sehat ya! Gimana kesan kalian yang sudah mengikuti blogtour dari host pertama? Gimana yang udah menang giveaway? Adakah yang masih penasaran sama Song For Alice? Hhee... saya rasa masih banyak sih yang penasaran banget pengen baca Song For Alice, apalagi ngedepetin bukunya gratis. Kalian datang ke blog yang tepat kok untuk itu, karena blog A Book is a Gift juga akan menyajikan setlist manggung, eh ngeblog maksudnya, yang sama dengan host-host sebelumnya. Akan ada interview (disini dan sekarang!), review, dannn GIVEAWAY!

Sabar dulu ya kalau kalian udah gak sabar banget pengin ikut giveaway dan menangin buku Song For Alice karena penasaran banget sama bukunya. Ijinkan saya terlebih dulu membagikan kepada kalian semua hasil sesi wawancara saya langsung dengan sang penulis, kak Windry Ramadhina.

WINDRY RAMADHINA lahir dan tinggal di Jakarta; percaya atau tidak, mampu mendengarkan berbagai bentuk rock, yang paling keras sekalipun. Dia menulis fiksi sejak 2007. Buku-bukunya banyak bercerita tentang cinta, kehidupan, impian, dan harapan. Song for Alice adalah bukunya yang kesebelas.

Windry suka membaca surat dan menjawab pertanyaan. Dia bisa dihubungi lewat e-mail windry.ramadhina@gmail.com, Instagram @beingfaye, atau blog www.windryramadhina.com

Saya kembali beruntung banget mendapat kesempatan untuk bisa ngepoin sosok penulis yang sudah saya kagumi sejak cukup lama ini //////. Menurut saya tulisan Kak Windry lekat dengan kesan elegan dan puitis nan aesthetic, kayaknya apapun yang ditulis Kak Windry jadi ada sihirnya tersendiri gitu deh dan saya bahkan baru baca satu buku beliau yang judulnya London: Angel (padahal Kak Windry sudah menulis sebelas buku termasuk Song For Alice), tapi sudah begitu berkesannya gaya menulis Kak Windry buat saya. Makanya, dipercayai penerbit Roro Raya Sejahtera untuk bisa menjadi host blogtour buku terbaru Kak Windry merupakan kehormatan yang sangat besar buat saya yang notabene hanyalah blogger buku seadanya~~ uwu.

Alhamdulillah banget dengan adanya kesempatan wawancara dengan Kak Windry, saya bisa menyampaikan kekepoan saya mengenai kepenulisan Song For Alice dan hal-hal lainnya. Apa aja sih hasil wawancara saya dengan kak Windry kemarin? Yuk disimak ya!

Thursday, September 27, 2018

THE MAN WHO PLAYS PIANO BLOGTOUR GIVEAWAY: Twigora x A Book is a Gift


Halo, Tuan dan Nona semuanya. Bagaimana, sudah baca sesi interview? Sudah baca review saya untuk The Man Who Plays Piano?  Sudah meninggalkan komentar di semua posting blogtour di sini? Saya harap sudah yaa karena akan krusial juga kalau kalian berminat memenangkan 1 (satu) eksemplar novel The Man Who Plays Piano gratis dari Penerbit Twigora. Kesempatan menang kamu cukup banyak lho karena giveaway diadakan di kesepuluh blog yang berpartisipasi sebagai host blog tour, dan blog ini, A Book is a Gift adalah blog yang ketiga. Jadi, semangat ya! *insert senyum manis Rizzi* ((YHA)).

Persyaratan giveawaynya mudah kok. Mohon disimak ya...

Wednesday, September 26, 2018

Dhi, Rufin. THE MAN WHO PLAYS PIANO: BLOGTOUR REVIEW & PHOTO CHALLENGE!


Halo, Tuan Pianis.
Permainan pianomu indah sekali. Sama indahnya seperti saat pertama kali aku mendengarnya beberapa bulan lalu. Aku sudah lama menjadi penggemar rahasiamu, mendengar dari jauh. Aku tahu dari seseorang bahwa kamu merahasiakan identitasmu, jadi aku tidak akan berusaha mencari tahu identitas aslimu.
Tapi, kamu tidak keberatan kan kalau aku menjadi pengagum rahasiamu?


Tertanda,
Pengagummu.
P.S. Aku merekam sedikit permainanmu untuk diperdengarkan ke adikku. Apa kamu tidak keberatan?
(hlm. 7)

PENERBIT RORO RAYA SEJAHTERA
NOVEL
THE MAN WHO PLAYS PIANO
Penulis: RUFIN DHI
SC; 14 x 20 cm
Jumlah Halaman: 240 hlm
Bookpaper 55 gr;
ISBN : 978-602-51290-1-8
Harga: Rp 67,000
"Genre": Love, Unyuness, Interesting Premise, Young Adult

Bersahabat dengan Nona Pengagum dan Kisah Manis yang Diceritakannya

Surat yang ditinggalkan Anka diam-diam untuk sosok pianis misterius di gedung yang dulu merupakan Fakultas Musik, setelah sejak dua bulan sebelumnya hanya menyimak permainan piano itu dari gedung perpustakaan fakultasnya, ternyata berbalas. Sejak hari itulah Anka bukan hanya penggemar rahasia, ia menjadi Nona Pengagum bagi Tuan Pianis yang sebelumnya memainkan piano tanpa mengira ada yang akan mengetahui tentang hobi rahasia tersebut sejauh ini. Meskipun keduanya bersepakat untuk tidak saling mencari tahu identitas masing-masing, tapi tetap saja Anka, sang narator dalam cerita, merasa berhutang budi pada Tuan Pianis. Permainan piano Tuan Pianis yang sudah ia rekamkan mampu mengembalikan senyum Erika, adiknya yang sakit keras. Melihat Erika, satu-satunya keluarganya yang tersisa karena kedua orangtua Anka telah meninggal sepuluh tahun lalu kembali tersenyum, sangatlah berarti bagi Anka.

Kini permainan piano Tuan Pianis menjadi makin dinanti-nanti oleh Anka setiap harinya antara pukul dua sampai tiga sore, begitupula balasan-balasan surat dari Tuan Pianis yang ternyata juga bersimpati dan menyemangatinya. Seorang pianis misterius dan pengagum rahasianya, rupanya kisah mereka tidak hanya sebatas berbalas-balasan surat tanpa nama. Tetap saja, ada perasaan yang terlibat, ada hati yang tersentuh, dan ungkapan terima kasih yang lama-kelamaan tidak cukup hanya ditampung pada selembar kertas. Tetap saja, menyimpan rahasia tidak selalu berarti bebas dari konsekuensi. Bagaimana kisah akan bermuara untuk Tuan Pianis dan Nona Pengagum?

"Kalau jatuh cinta membuatku jadi orang yang egois, lebih baik aku nggak usah jatuh cinta..."
(hlm. 124)  

Tuesday, September 25, 2018

BLOGTOUR INTERVIEW SESSION WITH RUFIN DHI! Studying, Writing, and THE MAN WHO PLAYS PIANO


Halo, Nona dan Tuan semua. Sebuah kehormatan besar buat saya untuk kembali mendapatkan kepercayaan sebagai host blog tour, kali ini bekerjasama dengan Penerbit Twigora untuk buku karangan Rufin Dhi yang berjudul The Man Who Plays Piano. Selamat datang buat para Tuan dan Nona yang mungkin baru pertama kali mampir ke blog saya ini dalam blog tour The Ma Who Plays Piano, panggil saya Nona Risa, host ketiga kalian. Salam kenal ya!

Tentunya saya juga sudah siap "menjamu" Tuan dan Nona semua dalam giliran mampir di blog saya dengan sajian khusus dan istimewa untuk disimak dari hari ini 25 September sampai nantinya ditutup dengan GIVEAWAY pada 27 September 2018. Saya harap Tuan dan Nona semua bisa menyimak dan mengikuti semua rangkaian jamuan konten yang akan tersaji di blog A Book is a Gift, dan seterusnya hingga blog tour selesai. Buat kalian yang penasaran ingin tahu lebih jauh tentang The Man Who Plays Piano dan ingin segera membacanya memang wajib hukumnya untuk menyimak rangkaian blog tour ini sampai selesai karena selain kalian bisa mendapat info seputar The Man Who Plays Piano, kalian juga berkesempatan memenangkan bukunya gratis! Siap-siap deh untuk ketularan ber'Tuan' dan 'Nona' kayak saya setelah baca buku ini, hihi.

Di hari pertama ini mari kita awali dengan sesi tanya-jawab alias wawancara antara saya dan penulis The Man Who Plays Piano, tak lain dan tak bukan adalah Nona Rufin Dhi, yang menurut saya pribadi adalah salah satu penulis muda berpotensi besar. Simak dulu nih biodata singkat beliau berikut ini. 

RUFIN DHI adalah nama pena milik Rifina Dwiseptia Hanafi. Penulis yang lebih akrab dipanggil Ipin ini lahir di Pontianak, 4 September 1997. Kini tinggal di Kota Depok, dan berstatus sebagai seorang mahasiswi di program studi Ilmu Perpustakaan, Universitas Indonesia. Sudah menyelami dunia kepenulisan sejak tahun 2009. A Man Who Plays Piano adalah novel keduanya. Novel pertamanya berjudul The Joker's Secret (DAR!Mizan, 2013). Selain itu, pernah memenangkan belasan lomba menulis dan berkontribusi dalam beberapa buku antologi, yaitu Fragmentasi Ciuman di Bawah Hujan (Hubsche Maedchen, 2012), Kejutan Sebelum Ramadhan #20 (Nulisbuku, 2013), Ground Zero (Divapress, 2014), dan Diakritik dalam Edensor Waktu (Parade Puisi, 2017). Cukup aktif di blog pribadinya, rufindhi.wordpress.com. Tidak perlu sungkan untuk menyapanya di sana, atau bisa juga diajak ngobrol lewat instagram (@rifihana) dan surel (rifinahanafi@gmail.com).

Mantap kaan di usia semuda itu sudah banyak menghasilkan tulisan yang diterbitkan. Saya beruntung banget nih bisa dapat kesempatan untuk kepoin Nona Rufin dalam sesi tanya-jawab yang disediakan Penerbit Twigora. Saya harap hasil tanya-jawab yang akan dibagikan ini bisa bermanfaat buat kalian dan membuat kalian makin penasaran dan yakin untuk mendukung buku kedua dan terbaru Nona Rufin, tak lain dan tak bukan The Man Who Plays Piano. Yuk kita simak transkrip hasil wawancaranya bareng-bareng!

Monday, July 16, 2018

Geiger, A. V. FOLLOW ME BACK Review (BLOGTOUR & GIVEAWAY ALERT!)

Perhatian, penggemar. Kalian tdk mencintaiku, bahkan tdk mengenalku. Aku TDK AKAN mencintai kalian. Taruh ponsel, keluar, dan hiduplah.
(hlm. 32)

Tahun terbit: 2018
Penerbit: Spring
Edisi: Paperback, bahasa Indonesia
Genre: Interesting Premise, Thriller, Millenials, Young-Adult

Kalimat yang saya kutip barusan adalah isi tweet yang sebenarnya ingin Eric Thorn postingkan seandainya ia bisa benar-benar jujur pada jutaan penggemar yang mengikuti akun Twitternya. Namanya juga resiko jadi idola pop terkenal dunia, ya, tapi saya harap kalian nggak terburu-buru menuduh Eric seorang yang nggak bersyukur dan nggak menghargai penggemarnya karena bahkan idola ngetop juga manusia 'kan? Menjadi terkenal dan memiliki jutaan fans bukan sebuah kondisi yang mudah dipahami semua orang. Usianya delapan belas, dan meskipun bakat musiknya telah mengantarkannya menuju ketenaran, ternyata konsekuensi yang mengikutinya mungkin terlalu "tega" bagi seseorang seusianya. Kontraknya dengan label rekaman menuntutnya untuk bisa selalu tampil demi profit dan "kepuasan" penggemar yang bahkan mungkin sebenarnya tidak terlalu peduli seperti apa musiknya dan akan puas dengan wajah ganteng dan tubuh sixpack nya.

Animo para fans pun makin menjadi ketika tagar #TerobsesiEricThorn yang dimulai oleh Tessa Hart menjadi trending topic worldwide. Ini mungkin kabar baik bagi publisis dan label rekaman Eric, yang kemudian menyuruh Eric membuka sesi mengikuti-balik penggemarnya. Namun Eric tidak bisa mengenyahkan ketakutannya bahwa di antara jutaan penggemar itu mengintai kegilaan dan obsesi yang akan mencelakainya ketika Eric memberikan celah untuk membuat imajinasi obsesif yang maladaptif itu semakin tidak terkendali hanya karena mengikuti-balik, seperti yang dialami Dorian Cromwell yang diduga tewas karena diserang seorang penggemar yang akunnya diikuti-balik. Andai saja segala kehebohan tentang dia bisa mereda, mungkin ia akan bisa lebih tenang, setenang yang dimungkinkan oleh seorang bintang pop remaja.

"Setiap kali Eric menatap lurus ke kamera, kau bisa melihat pendaran rasa takut."
(hlm. 11)

Tessa Hart adalah satu dari jutaan followers Eric Thorn di Twitter. Meski juga sering menunjukkan reaksi fangirling pada ketampanan dan keseksian Eric, Tessa merasakan bahwa lebih dari raut wajah keren dan penuh senyum Eric untuk menghipnotis penggemarnya, ada sesuatu dalam diri Eric yang berbicara kepadanya. Menjadi seorang gadis yang berusia sama dengan Eric dan mengalami kondisi agorafobia membuat Tessa selalu dikelilingi kecemasan tidak masuk akal yang membuatnya menakuti dunia luar dan bertemu orang lain (kecuali terapisnya, ibunya, dan Scott pacarnya), terutama semenjak yang dialaminya di New Orleans.

Dengan bantuan Dr. Regan, terapisnya, Tessa mencoba menaklukkan fobia yang dimilikinya ini, dan Tessa harus memanfaatkan semua sarana yang bisa diraihnya untuk membuatnya bisa mulai kembali berinteraksi dengan dunia luar. Internet dan Eric Thorn ternyata menawarkan peluang baginya untuk memperbaiki kondisi. Kesan lebih dalam yang ditangkap Tessa dari semua yang ditampilkan Eric Thorn membuat Tessa menjadi penuh dengan gagasan yang akhirnya dituangkannya dalam bentuk fanfiksi berjudul "Terobsesi". Fanfiksi yang ditulisnya di Wattpad dan ia bagikan di Twitter dengan tagar #TerobsesiEricThorn tersebut pun menjadi viral dan trending. Lagu "Aloe Vera" dari Eric Thorn menjadi favorit Tessa untuk didengarkan berulang kali karena suara merdu Eric dan lirik yang dinyanyikannya seperti memahami perasaan Tessa walau mungkin saja yang dimaksud Eric dalam lagu itu tidak seperti yang diinterpretasikan Tessa untuk dirinya sendiri. Bisa saja Tessa hanya memroyeksikan kecemasan dan ketakutannya pada sosok Eric Thorn dalam bias proyeksi. 

Terhubungnya Eric yang ingin menghentikan kehebohan #TerobsesiEricThorn dalam interaksi dunia maya dengan Tessa yang memulai kehebohan itu lambat laun menarik benang merah di antara keduanya yang sekilas nampak hidup di kehidupan yang terlalu kontras untuk saling memahami. Koneksi Eric dan Tessa pun tak lepas dari sisi gelap Internet yang kemudian membuat hal yang ditakuti dalam bayang-bayang akhirnya menampakkan diri. Bagaimana Eric dan Tessa akan menghadapinya?

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Back to Top