Sunday, March 16, 2014

Forman, Gayle. JUST ONE DAY.

"So, Lulu? What do you say? You want to go to Paris? For just one day?"
... this time, instead of saying no, I try something different. 
I say yes.
Tahun terbit: 2013
Penerbit: RHCP
Edisi: E-book (.epub) - bahasa Inggris
"Genre": Love, Young-Adult, Travelling
Get your Indonesian-translated copy of this book!

Allyson bukan tipe yang terbiasa dengan "kejutan", "kebebasan", "hal-hal menantang" , apapun yang bukan telah diatur - sebagaimana selama ini ia dibesarkan sebagai anak tunggal yang tidak mengecewakan ekspektasi orangtuanya, terutama ibunya. Namun apa sih yang dapat terjadi dalam satu hari ke Paris, melenceng dari jadwal yang diketahui detil oleh sang ibu, satu hari ke Paris bersama Willem yang sebenarnya hanya dikenalnya sebatas di pertunjukan teater jalanan dan percakapan tak-terduga di kereta api yang kebetulan berjurusan sama? Melakukan perjalanan satu hari itu mungkin sulit dibayangkan untuk dilakukan "Allyson yang biasa", tapi dengan Willem, Allyson menemukan dirinya jauh lebih dari itu, menjadi seorang Lulu (sebagaimana Willem menjulukinya) yang lebih bebas, dan terutama selalu mengatakan "ya" - pada kejutan, pada tantangan, pada kebebasan untuk seolah ada dalam dunia yang lebih luas dari yang selama ini dikenal "Allyson".

We are born in one day. We die in one day. We can change in one day. And we can fall in love in one day. Anything can happen in just one day.


Kalau sudah bersedia "menebak", tentu saja satu hari itu tidak hanya satu hari "saja" bagi Allyson, terutama dengan apa yang kemudian terjadi antara Willem dan Allyson - meskipun keduanya tahu bahwa semuanya hanyalah untuk satu hari itu dan sebenarnya tidak pernah ada janji apa-apa setelahnya. Itu pun menjadi lebih jelas, meskipun menyakitkan dan memalukan, bagi Allyson setelah kemudian ia bangun (jangan tanya apa terus mandi dan gosok gigi #plak) keesokan hari untuk menyadari bahwa Willem telah pergi.

Buku ini memang bisa terbilang dibagi dalam dua "babak besar", babak "One Day" yang menceritakan segala yang terjadi dalam satu hari itu - Paris, Allyson dan Willem, Allyson pada Willem (ini adalah lagi-lagi cerita sudut pandang orang pertama, and what can you expect of the guy with that lol) diakhiri dengan ditinggal-pergi-menghilang Willem (oke, paket combo ngenes sih ya #plak), dan "One Year" yang sebenarnya membuat saya harus menahan rasa gemas-frustrasi-pengen-nampol (oke lebay) si pencerita sudut pandang orang-pertama (iya si Allyson) di sebagian besar bab-bab awalnya yang semacam melanjutkan ke-"ngenes"-an hidup Allyson setelah Willem dan combo-ngenes-pasca-sehari-itu.

Saya harus mengakui kalau rasanya hampir tak-tertahankan bagi saya untuk menyimak ke-"lifeless"-an dan lebih banyak bukti ke-"labil"-an Allyson akibat just one guy itu, meskipun memang sang penulis sudah memiliki "maksudnya" bahwa Allyson ini memang selama ini apa-apa manut, sampai kadang akhirnya "menerima" apa yang sebenarnya dia tidak sepenuhnya "mau". Padahal dengan Willem dulu dia seperti menemukan "keberanian baru" di dalam dirinya "sebagai Lulu" terus ternyata dia sekarang ditinggal-pergi-menghilang.


Indeed, bukan hal yang mudah untuk ditanggung, dan bukannya saya gak berusaha simpati pada keadaan itu sih, cuma rasanya itu karena pengaruh penceritaan sudut-pandang-orang-pertama yang membuat setiap perasaan dan "kejadian" bener-bener terpusat pada si tokoh pencerita. Porsi "keadaan kacau" Allyson jadi terasa terlalu "banyak dan gak perlu", juga semacam memicu perasaan "sebel" yang masih sisa (#...) di bagian "One Day" ketika si tokoh utama ini menggambarkan oh-betapa-semua-berbeda-sebelum-dengan-engkau-disini-sekarang (maaf kalau saya nyinyir banget). Seolah segala hal di hidupnya kayaknya hambar, "begitu-begitu saja" - termasuk tur keliling-Eropa yang dibayarin ortunya, tentang gimana dia gak bisa "feel the moment" sesignifikan ketika ia "berani" kabur-sehari sama Willem - betapa si tokoh utama wanita kita masih banyak banget "inferioritas" dan (lagi-lagi) "kelabilan".

Mungkin saja itu semua karena ini novel roman pada dasarnya, tapi saya merasa si Allyson ini jadi seperti kurang punya "kekuatan" - baik sebagai tokoh atau sebagai orang-dalam-cerita, atau dalam cerita itu memang Allyson memang maksudnya labil atau bagaimana. #... Lebih jauh, saya pribadi juga merasa agak sulit simpati ketika persepsi yang saya terima juga rasanya seperti Allyson selama ini "melihat" orangtuanya kayak gak pernah benar-benar "memahami" dia seutuhnya (#...), dengan upaya mereka "mengurus" Allyson yang mungkin memang banyak gak tepat, oke, tapi itu gak lantas membuat Allyson harus diaaam melulu dan menerimaaa terus kan? Hello, dia itu juga sudah lulus SMA lho, orang Amerika, lagi. Oke, ini memang subjektif sih.


Benarlah, dorongan, dukungan, apapun sebutannya - dari orang lain (selain orangtuanya) lah yang akhirnya ambil bagian besar untuk sedikit demi sedikit membuat Allyson jadi keluar dari kungkungan kengenesannya. Saya justru malah jadi lebih senang pada karakter yang mendukung Allyson ini, misalnya Dee, teman sekelas tak-terduga (no spoiler I think). Cerita pun berkembang jadi lebih enak dibaca ketika Allyson akhirnya mau dan belajar lebih "tegas" dan "terbuka", bahkan saya juga akhirnya bisa kagum pada upaya Allyson untuk bisa menemukan kejelasan tentang Willem. Perjalanan-menuju-kebenaran yang mengalir sampai cerita di buku usai pun mempunyai bobot pemahaman yang terus berkembang, ketika Allyson bisa lebih banyak "belajar" dan "berkembang".

You're just trying on different identities, like everyone in those Shakespeare plays. And the people we pretend at, they're already in us. That's why we pretend them in the first place.

Indeed, lagi, di buku ini memang "pemahaman" yang dialami bukan soal "cinta" melulu juga, emang. Ada tentang kepercayaan dan "keberanian" terhadap accident, kebetulan, atau apapun sebutannya, tentang diri sendiri yang serasa bukan diri sendiri, hikmah-hikmah (cieh) yang saya akui memang well-delivered. Tentang Willem dan Allyson, yah, memang buku ini tidak langsung "menyelesaikan" (?) mereka (??), notabene karena ini ternyata buku pertama dari yang-kedua-dengan-sudut-pandang-si-cowok (HA!) - tapi mengejutkannya, saya yang biasanya kurang suka akhir menggantung atau akhir yang bittersweetly uncertain, merasa nggak terlalu merasa harus baca buku yang kedua, "Just One Year", ....yakali. #plak =))

Novel romens atau bukan, muatan romensnya tidak terasa terlalu berkesan bagi saya, tapi saya harus bilang bahwa "muatan lain" yang dihadirkan buku ini disampaikan dengan baik oleh sang penulis, banyak kisah-kisah "kecil" yang bermakna dalam arus-ceritanya, dan itu tidak hanya memperkaya sang tokoh-utama tapi juga pembacanya, dan buku ini tidak seharusnya dibiarkan tidak selesai dibaca kok.

This review is submitted for:
Ren's Little Corner's New Authors Reading Challenge 2014
Ketimbun Buku's Books in English Reading Challenge 2014
BBI Review Challenge 2014

5 comments:

  1. Saya lagi baca Just One Year, dan mandeg aja gitu...udah sebulan lebih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. x)) saya malah berpikir (halah) kalau kayaknya gak perlu-perlu amat ya baca Just One Year nya... soalnya jujur aja padahal udah puas sama part waktu Allyson udah "nrimo" ;)) #upsspoiler

      Terima kasih mampirnya kak :D

      Delete
  2. Replies
    1. Sori mam, salahmu sih masang gif nya Benedict uwuwuwu jadi fokusnya ke situ kan. I'll read the book as soon as possible!

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Back to Top