Roth, Veronica. The Divergent Series Complete Collection. 8'Db

Thursday, January 16, 2014

Penerbit: Katherine Tegen Books
Tahun terbit: 2013
Edisi: E-book, bahasa Inggris
"Genre": Dystopia, Young-Adult, Teen, Action, Romance

Mesti mulai dari mana sih guys kalau ngomongin trilogi yang saya habisin dalam (kurang lebih) sembilan hari ini? #nyombongkeleus



Awalnya memang saya dibuat mupeng memang sama “premis” cerita ini yang intinya merupakan dystopia “topi-seleksi” (entah saya baca ungkapan ini dari mana, lupa, Goodreads kayaknya) yang mengharuskan orang di “semesta cerita”nya memilih suatu faksi yang akan menentukan cara hidup mereka di masa depan. Faktor mengapa sampai ada istilah “topi-seleksi” nyangkut di situ tadi pun sebenarnya nyambung sama konsep di mana orang-orang memilih faksi yang menilai tinggi “sifat diri” yang dianggap penting. Seperti halnya Gryffindor yang menghargai tinggi keberanian, Ravenclaw yang menghargai tinggi inteligensi dan seterusnya^^ Faksi sendiri kalau menurut terjemahannya dictionary.com: “a group or clique within a larger group, party, government, organization, or the like” di mana kalau dalam trilogi Divergent ini, larger group yang dimaksud adalah berbentuk suatu pemerintahan di sebuah kota. *setengah nyotoy sebenarnya, nyadar gak sampai sini? #plak* Coba aja mengecek nama-nama faksi di cerita ini ke kamus, sebenarnya nama faksi dalam trilogi ini seperti diambil dari kata lain “nama sifat” yang diwakili masing-masing.



Abnegation
n. the act or an instance of abnegating, or denying oneself some rights (“hak”), conveniences (“kenyamanan”)
abnegate – vb. to deny to oneself; renounce (priviliges, pleasure, etc.)
Amity
n. friendship; peaceful harmony
n. mutual understanding and a peaceful relationship, especially between nations; peace; accord
Candor
n. the state or quality of being frank, open, and sincere in speech or expression; candidness
n. freedom from bias; fairness; impartiality
Dauntles
adj. not to be daunted or intimidated; fearless; intrepid; bold
Erudite
adj. characterized by great knowledge; learned or scholarly

via dictionary.com
Keren, ya. Dari sudut pandang awal saya waktu belum baca dan hanya tahu soal pembagian faksi memang kelihatan keren, kan, semacam masih terbawa sama pandangan pembaca mengenai kualitas-kualitas seorang Gryffindor, Hufflepuff, Ravenclaw, Slytherin. Eit, tapi kalau yang digagas Tante Rowling itu masih “bentuk awal”nya yang intinya “hanya” untuk keperluan pembedaan asrama dan nggak mempengaruhi cara hidup orang-orangnya secara “total” seperti dalam Divergent ini. Di sini bergabung dengan faksi berarti bener-bener total banget mengikuti bagaimana cara faksi itu hidup sampai juga mempengaruhi soal selera pakaian, cara pikir, prioritas, sampai cukup ekstrem yang bisa terlihat mata juga. Meninggalkan keluarga di faksi lama untuk bergabung ke faksi baru ya berarti ya udah mengikuti faksi barunya dan berpisah dari keluarga asal, sesuai dengan “asas” yang disinggung di cerita ini, “faction before blood”.


Dari “asas” itulah sumber konflik menarik yang membuat kita akan mengikuti kisah Beatrice Prior. Beatrice di usia enam belasnya akan menghadapi Tes Kemampuan (Aptitude Test) dan Upacara Pemilihan (Choosing Ceremony) yang akan menuntut dia memilih “jalan-faksi” mana yang akan dia ikuti sebagai caranya hidup di masa depan. Beatrice yang lahir di faksi Abnegation yang menilai tinggi selfless-ness (apa sih terjemahan enaknya, intinya golongan yang mengesekiankan diri sendiri deh) punya dorongan untuk meninggalkan cara hidup faksi asalnya itu karena merasa dirinya tidak bisa benar-benar seikhlasnya menjadi seorang Abnegation. Kalau akhirnya ia akan memilih faksi lain, itu juga akan berarti meninggalkan orangtua dan kakak cowoknya, Caleb, yang menurut Beatrice terlihat sebagai orang yang bakalan cocok untuk hidup dengan cara Abnegation.

Tes Kemampuan yang harusnya memberikan pertimbangan berbobot untuk memudahkan pengambilan keputusan pilihan faksi pun ternyata menghasilkan hasil yang inkonklusif bagi Beatrice. Yap, Beatrice tidak dapat “disimpulkan” sebagai orang dengan kecenderungan untuk masuk ke faksi manapun dan itu menjadikannya seorang Divergent. Masalah menarik lagi pun muncul dari kenyataan ini karena keberadaan Divergent itu dianggap membahayakan dan mengancam nyama penyandangnya (?). Beatrice harus menyembunyikan ke-Divergent-annya dan teteup harus bisa memilih dan diterima di suatu faksi untuk menghindari juga menjadi seorang factionless (terjemahan kasarmya “tanpa-faksi”). Ceritanya golongan factionless ini adalah orang yang terbuang karena gak bisa lolos ikutan “inisiasi” faksi yang dipilihnya atau (meskipun jarang) memang keluar/dikeluarkan dari faksinya. Keberadaan sistem faksi bukan berarti akan begitu saja menerima orang yang ingin bergabung, karena agar seseorang bisa menjadi betul-betul bagian dari sebuah faksi, ya harus membuktikan dirinya “punya” kualitas yang diinginkan faksi yang bersangkutan dengan lolos mengikuti inisiasi.

Balik ke Beatrice, nah, keseruan mengalir dalam ceritanya karena pembaca akan diajak mengikuti kisah seru si heroine ini bertahan-hidup dengan ke-Divergent-an dan keputusan peliknya meninggalkan faksi Abnegation untuk bergabung di Dauntless yang mengutamakan keberanian. Inisiasi Dauntless bisa dibilang “keras” banget untuk Beatrice yang sehari-hari biasa dibesarkan dengan cara Abnegation, karena inisiasi Dauntless sampai mengharuskan untuk memakai senjata, berantem, menantang bahaya untuk menguji “keberanian” pesertanya. Konflik-konfik “menegangkan” banyak kejadian di bagian pengalaman inisiasi Beatrice yang mengganti namanya jadi Tris sejak kedatangannya di Dauntless. Seru, dan bikin gak kebayang gimana jadinya kalau diri sendiri yang kecebur inisiasi Dauntless yang kayak begono.



Di buku pertama ini buat saya sangat nampak keunggulan diri Tris yang smart dan strong dengan keikutsertaannnya dalam inisiasi Dauntless, apalagi dengam keberadaan sosok lawan-jenis, Four, yang membawa kisah tentang Tris juga jadi makin menarik. Saya pribadi suka juga sama pengembangan chemistry Tris dengan Four di sini karena terkesan gak picis, gak terburu-buru, tapi juga gak muter-muter dan “dapet” untuk diterima akal dan hati (ha!) serta gak mengganggu keseruan cerita tentang faksi, insiasi, dan divergenity (?). Tokoh Four juga tampil adorable but humanly, jadinya interaksi yang nampak juga bikin serrrr dirasa (…). Kehidupan Tris memang menjadi lebih “berwarna” dengan berada di Dauntless, karena di sini dia bisa lebih “bebas” dan punya keterlibatan dengan teman-teman dan musuh baru. Teteup, namanya juga remaja, sih, tapi kalau latarnya di inisiasi Dauntless, memang rada gahar juga (…) karena taruhannya untuk lolos inisiasi Dauntless itu tinggi, ogah kan jadi factionless. Hidup di compound Dauntless memang memberikan Tris apa yang gak bisa ia punyai di Abnegation, tapi juga membuat Tris sadar kalau hidup dengan cara suatu faksi bisa bikin “lupa” sama kualitas penting lain selain yang dipentingkan di faksi yang bersangkutan.
"I think we've made a mistake," he says softly. "We've all started to put down the virtues of other factions in the process of bolstering our own. I want to be brave, and selfless, and smart, and kind, and honest." He clears his throat. "I continually struggle with kindness."
Permasalahan Tris yang sejauh soal kudu-lolos-inisiasi-Dauntless-tanpa-ketauan-Divergent ternyata bukan “puncak”nya yang akan membawa kita ke buku kedua, Insurgent, yang alurnya menempatkan Tris sebagai orang yang mempunyai keunggulan sebagai Divergent, tapi itu juga membuat dia menjadi lebih banyak terancam bahaya. Ternyata orang Divergent bukan hanya Tris, dan gejolak yang muncul di buku pertama membuat sistem faksi jadi semacam “goyah” dan “makin dipertanyakan”. Banyak kebenaran yang rasanya masih disembunyikan dan layak untuk diperjuangkan meskipun harus menantang bahaya dan bertentangan pendapat dengan “kubu baik”.

Di buku kedua ini, Tris memang mengalami hantaman kejadian-kejadian traumatis (seperti yang mungkin gak bisa dihindari tokoh sentral di cerita begini, *colek Katniss) sehingga menjadikan Tris mengalami konflik dalam dirinya sendiri menambahi konflik besar di luar yang ada. Meskipun demikian, hal yang menjadi catatan saya di sini adalah Tris jadi semacam menyebalkan karena kesannya “memaksakan diri” sebagai orang-yang-harus-mengorbankan-semuanya dan jadi-yang-paling-baik-dan-benar-meski-berat, sebagian karena apa yang dia rasa harus dilakukan dengan dirinya sebagai Divergent, sih, tapi setelah diungkap bahwa Divergent itu gak segitu one-in-a-million nya, melihat pemikiran dan tindakan Tris rasanya menyebalkan. Buat saya dia jadi semacam mengalami “sindrom-tokoh-utama” (…), dan itu juga dampak ke hubungannya dengan Four, di mana mereka jadi saling berantem karena beda pendapat dan sama-sama keras kepala (= =). Sosok Tris yang buat saya keren banget di buku pertama lama-lama jadi gak segitunya di buku ini dan akhirnya saya anggep sebagai pencerita-utama yang mungkin, sih, masih memiliki otak dan tekad dan “hati” yang bagus dan masih saya hargai.
"You choose this moment to act like the Abnegation?...All that time you spent with insisting that you were too selfish for them, and now, when your life is on the line, you've got to be the hero? What's wrong with you?"
Buku kedua, tapi, untunglah masih punya amunisi keseruan meskipun sebenarnya lebih karena banyak kejadian yang mengambil nyawa dan serius, karena berkaitan dengan kestabilan sistem dan keteraturan berkota (kan ceritanya bukan di suatu negara) yang jadi goyah. “Twist” baru juga muncul dalam buku kedua ini dan berhubungan sama orang yang paling deket sama Tris, dan sejujurnya saya gak terlalu suka sama twist tersebut, since I’m not that twist-lover atau mengharapkan harus selalu ada yang baru, gitu. Twist bersangkutan soalnya buat saya gak memperbaiki kesan nyebelin Tris yang saya sebutkan itu, dan lama-lama kesannya seperti memposisikan Tris sebagai pihak heroine yang keras hidupnya, hehe. Meskipuun, ada twist lain yang lumayan mengejutkan juga untuk diketahui dan terhitung gak memaksa sehingga membuat saya terkesan sama cara Tante Roth membuatnya masuk akal. Di sini malah saya mulai mengembangkan lebih banyak respek untuk karakter selain Tris, yaitu Erudite bernama Cara dan temannya, Fernando yang gak disangka ternyata menjelaskan apa itu “Insurgent”. #eak.
"Insurgent," he says. "Noun. A person who acts in opposition to the established authority, who is not necessarily regarded as belligerent."
Buku kedua pun dipotong dengan adanya pengungkapan kebenaran yang mengagetkan semua orang, karena berhubungan dengan bagaimana-awalnya-sistem-faksi-ada dan apa-yang-selama-ini-tidak-pernah-diketahui-di-luar-pagar-kota. Oke, Tris memang berjasa soal pengungkapan kebenaran itu, tapi, ya like I said, saya hanya punya respek yang secukupnya saja sama beberapa kualitas Tris yang memang masih kuat dengan berjalannya buku kedua ini.
Then, di buku ketiga, di Allegiant, bisa dibilang sebenarnya banyak pengungkapan yang bikin mindblown sama apa yang sudah sejak buku pertama dan kedua kokoh banget dijadikan sebagai sentral konflik yang kuat banget, yaitu sistem faksi. Kebenaran tentang sistem-faksi, seperti mengapa dari awal sistem faksi dibentuk dan seterusnya dibeberkan di sini dan ternyata semuanya justru berawal dari yang namanya gen, dan sistem faksi ternyata gak segitunya murni untuk “membangun dunia yang lebih baik” karena latar belakang isu tentang gen yang jadi alasannya itu. Allegiant, yang awalnya maksudnya “beraliansi” dengan penggagas sistem faksi ini juga mendukung pembangunan dinamika konflik ceritanya
"Some of the people here want to blame genetic damage for everything, it's easier for them to accept than the truth, which is that they can't know everything about people and why they act the way they do."

"Everyone has to blame something for the way the world is,"
Pengungkapan di buku ketiga ini memang besar juga dampaknya ke tokoh utama kitah, ya makanya juga berdampak ke jalannya cerita yang terkesan dataar dan lambat karena seperti masih mengikuti gimana tokoh-tokoh utama kita mencerna kebenaran yang ada dan menyesuaikan apa yang mereka ketahui selama ini ternyata masih sebagian keciil banget dengan apa yang ada sebenarnya .___.

Meskipun memang rada krik…krik…krik, tapi di sini ada catatan positif dari saya tentang cara Tante Roth sebagai pengarang meramu asal konflik dari triloginya ini. Dari pengamatan membaca saya, rupanya Tante Roth mengangkat “tema” perdebatan “nature vs nurture” yang juga (ehem) beken diperdebatkan dalam psikologi sebagai basis ceritanya. Apakah bagaimana diri kita ditentukan dari apa yang sudah kita “bawa” dari lahir, atau dari bagaimana lingkungan luar membentuk kita sebagai diri kita? Peramuan itu juga bisa ditemukan dari tokoh Four, yang mempunyai pengalaman gak enak sama orangtuanya dan cukup membuat dirinya sendiri goyah dengan bagaimana jadinya dirinya karena hal tersebut. Pukupuk Four, dan tambah poin respek buat Tante Roth karena awarenessnya tentang dinamika psikologis seperti itu dalam caranya membuat cerita (?? iya nyotoy lagi, maaf).

Balik ke gimana akhirnya ceritanya berjalan, meskipun tetap saja sebenarnya gak sekuat buku pertama, ya itu juga memang gak bisa dihindari juga karena buku ketiga itu seperti “menjelaskan” banyak hal dari buku satu dan duanya. Tapi kalau soal ketegangan dan aksi, pada akhirnya buku ketiga masih menyajikannya, karena isu soal pemberontakan bisa diangkat sebagai “harga” dari pengungkapan kebenaran di-buku-tiga, haha. Di sini pembaca juga dapat menikmati penceritaan sudut pandang tokoh selain Tris, sih, dan kayaknya itu memang poin menarik untuk membuat buku ini being anticipated waktu mau terbit, tapi jatuhnya emm… buat saya biasa-biasa saja karena saya kadang suka kecele karena mengira saya masih baca bagiannya si Tris ternyata udah enggak #krikkrik.

Akhir buku ini juga bikin mindblown saya, gak tahu apakah harus bereaksi emosional seperti pembaca lain yang mengikuti buku ini sejak buku satu dan bersabar dengan terbitnya buku selanjutnya. Buat saya memang ada benarnya kalau Tante Roth membuat akhirnya seperti demikian mengagetkan (?) dan heartbreaking (?), penarasiannya pun memang bisa diterima di akal dalam aftermathnya.

Meskipun demikian (haha saya udah berapa kali bilang begini), saya masih merasa bahwa akhir trilogi ini seperti “mensucikan” sosok Tris begitu rupa sebagai tokoh utama yang punya kualitas kuat dan nyata dalam berjalannya cerita sampai akhir = = (iya, Tris itu respectable banget, tetep, meskipun di buku dua saya zzz banget ngerasain dia #eh). Apa, ya, salah satu hal yang menarik dari pindahnya Tris dari Abnegation ke Dauntless itu memang pada penyadaran bahwa keberanian bisa datang dengan tindakan tidak memikirkan diri-sendiri, tapi buat saya.. gak perlu-perlu banget menegaskan itu sampai ekstrem juga hehee. Krik…krik..krik juga jadinya buat saya entah kenapa =))


Akhir bukunya ya bikin saya mengakhirinya dengan “oh, yaudah” yang mungkin gak sepadan dengan “ledakan”nya yang dimulai kuat banget di buku pertama (sampai bikin saya gak nerusin dulu baca buku Mitch Albom!!) dan malah kesannya bukan ending yang kuat bagi pembaca macem saya #plak. Intinya, sih, saya sangat menghargai banyak hal dalam cerita ini yang bukan sekadar YA, dystopia, dan aksi dan romens karena banyak bagian dari trilogi ini yang bisa direnungkan (?) soal keikhlasan, keberanian, kasih sayang, pengorbanan, dan “keyakinan” tentang diri sendiri. Bukan sekedar tagline/catchprase keren-kerenan juga memang kalimat-kalimat “One choice can transform you” di buku pertama, “One choice can destroy you” di buku kedua, dan “One choice will define you” di buku ketiga. Poin plus juga saya berikan pada penggambaran interaksi antar anggota keluarga Tris, terutama dengan ibunya yang juga kuat dan menyentuh saya banget sampai akhir (ups). Saya berikan poin respek juga karena senang bisa menemukan pengarang yang bisa kuat menggambarkan interaksi nggak hanya di konteks romens tapi juga family ><
"My mother wasn't a fool, she just understood something you didn't. That it's not sacrifice if it's someone else's life you're giving away, it's just evil. She taught me all about real sacrifice. That it should be done from love, not misplaced disgust for another person's genetics. That it should be done from necessity, not without exhausting all other options. That it should be done for people who need your strength because they don't have enough of their own." 
Dari semua baik dan buruknya, saya akan tetep bilang kalau Divergent Trilogy tidak boleh dilewatkan, dan saya tetap mengantisipasi adaptasi filmnya di 2014^^ Make your choice, folks, and be brave! #eak

Jangan ketinggalan untuk punya bukunya!
Dapatkan buku seri pertamanya, Divergent, di sini.
Dapatkan buku seri keduanya, Insurgent, di sini.
Dapatkan buku seri ketiganya, Allegiant, di sini. 

You Might Also Like

8 comments

  1. EAAAAAK udah jadi aja nih reviewnya (kemudian ngebut bikin review Where She Went)
    Aku juga masih jengkel sama Tris di buku kedua hiks, tapi tetep Divergent Series berkesan banget :')

    ReplyDelete
  2. Ehehe begitu kamu pulang langsung ngetik kok cyiin hahaha >< langsung tigatiganya deh jadinya =))
    ckck, tris, *tos* ya udah lah ya =)) moga2 gak spoiler #plak
    ciee juga yang review where she went nya udah kelaar xDD aku baca bisa gak yaa kan aku belum baca if i stay kaka xDD

    ReplyDelete
  3. ja...jangan dibaca. aku baru tau kalo nama-nama faksi itu diambil dari kata sifat (langsung ngecek kamus). semangat bikin review mams

    ReplyDelete
  4. Bagiku karya ini overrated ._. *langsung dilempar buku sama Initiates*

    Buku dua nyaris bikin aku nggak tahan. Tapi syukurlah narasinya nggak terlalu banyak, dan nggak terlalu penting, lebih banyak dialognya, sehingga "siksaan" itu tak terasa berat :)))

    Dan setelah baca buku dua itu, aku tidak membaca buku terakhir. Dari judulnya sudah kelihatan bagaimana endingnya, dan dengan membaca review terspoiler di goodreads, aku tidak menyesal tidak membacanya :))

    Tapi meski gitu, aku penasaran juga pengen nonton adaptasi filmnya XD

    ReplyDelete
    Replies
    1. YUP! Buku duanya itu lho duh, saya gak tahan juga sama Tris nya di situ, yaa dan segala yang udah as said di review lol iya emmang bagaimanapun seri ini layak ditunggu adaptasi filmnya karena buku pertamanya emang "njeblak" banget ^^ yah meskipun ending serinya gak berkesan, saya setuju emang kalau melewatkan yang buku ke3 mungkin gak rugi sebenernya :-?.. setelah tahu endingnya haha

      Terima kasih sudah berkunjung~

      Delete
  5. saya udah nonton nih yg adaptasi filmya. menurut saya rasanya sangatt kurangg greget di filmny :(

    ReplyDelete
  6. Udah nonton adaptasi filmnya nih,
    di akhir seri ke 2 rasanya kurang greget gitu :(
    ada tokoh yg gak ditampilkan pada film Insurgent. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya... ada tokoh menarik yang gak muncul di film.. misalnya Fernando meskipundioiakhirnyamatisih hehe terimakasih sudah berkunjung^^

      Delete

Like us on Facebook

Flickr Images

Subscribe