Wednesday, February 5, 2014

Utami, Nunik. GERIMIS DI ARC DE TRIOMPHE.

Penerbit: Bentang Belia
Tahun terbit: 2013
Edisi: Paperback, bahasa Indonesia
"Genre": Romance, Kuliner, Abroad-setting
Get the book!

Seperti di blurbnya, kata kunci "Paris" dan "kuliner" lah yang membuat saya tertarik pada buku ini cukup lama sebelum akhirnya bisa membelinya beberapa hari yang lalu. Condong ke impulsif beli karena harganya di bawah 50k A___A. Dari eksemplar yang terbuka dan saya intip-intip, rupanya di dalamnya memuat informasi-informasi pengetahuan (sama aja sih ya #...) tentang kuliner Prancis. Dasar saya memang "naluri TLC" (Travel - (Living?) - Cuisine(?)), membuat saya akhirnya sah dengan buku ini menutup petualangan (?) siang (?) saya di Gramedia Amaris (yang... btw, rasanya koleksi bukunya memang tidak terlalu lengkap dengan yang di Pandanaran, tapi apa daya itu yang terdekat dengan sekolah adik saya untuk alasan kepraktisan u,u) - bersama dengan The Journeys 3 (udah baca reviewnya?).

Yah curcol lagi, pake promosi, lagi, maaf ya. Nggak juga ding. ((PLAK)). Haha yuhuu tapi saya senang karena bisa memulai mengepost untuk challenge New Authors nya kak Ren melalui menuliskan review buku ini, yang notabene pengarangnya memang baru bagi saya^^.

"Paris" dan "kuliner" memang terasa sebagai "latar" yang menggoda, terutama bagi Bunga sang tokoh utama yang memang mengalaminya sebagai impian yang jadi kenyataan. Ia ada di Paris untuk kuliah di Le Culinaire, kampus kuliner ternama di Paris! Impiannya membuka toko roti sendiri terasa selangkah di depan mata (?), dan angan Bunga (btw, bukan nama samaran, kok, saya kan udah namatin bukunye #YAIYA) pun juga makin terbang tinggi tentang "prospek romansa"nya di kota paling romantis di dunia itu, apalagi ketika Darel, sosok yang diidolakannya sejak dulu dan menjadi sumber semangatnya untuk menjadi chef menjadi semakin dekat ketika Bunga sekarang telah berada di Paris.



Paris dan kuliner~ dan FYI, Laduree dan makaron juga muncul di novel ini

Bisa berbagi apartemen dengan sahabatnya, Odetta, hmm hidup Bunga terasa lengkap di Paris, deh, "tinggal" berusaha mewujudkan mimpi cinta dan cita nya itu di Le Culinaire, karena Darel adalah asisten chef-dosen (??) di kampus kuliner tertua tersebut. Eit, eit, tapi ternyata memang mewujudkan impian itu nggak mudah! Di samping tantangan besar mempelajari teknik memasak yang benar di Le Culinaire, Bunga juga dihadapkan pada ketidakpastian mengenai kelanjutannya dengan Darel, cowok yang selalu dianggapnya sempurna dan hebat itu - padahal mereka sudah sedekat ini, kapan dong Darel akan "menunjukkan jawaban" pada sinyal-sinyal yang selama ini diterbangkan Bunga?

Di sisi lain, atau harfiahnya, di beranda sebelah apartemen, rupanya si penghuni unit sebelah adalah cowok yang "misterius" sekali bagi Bunga. Ditambah lagi, ketampanannya juga membuat Bunga makin penasaran. Pascal - cowok bermata abu-abu itu sering terlihat memperhatikannya, padahal sepengetahuan Odetta, cowok itu dikenal tak banyak bicara, "berjarak", seolah menyembunyikan kisah masa lalu yang gelap. Mungkinkah kedatangan Bunga dan sikap yang ditunjukkannya pada gadis itu akan menjawab kemisteriusan cowok itu pada akhirnya?

Remaja sekali, ya. Harusnya memang penerbit Bentang Belia yang menaungi terbitnya novel ini sudah memberi tahu saya lebih banyak kalau saya mau lebih ngeh di awal. Seperempat awal membaca buku ini, saya jadi teringat pada novel teenlit yang sudah lama gak saya baca lagi dan tersimpan lama di lemari. Tokoh dan cerita yang ada di novel ini terasa sangat "remaja" bagi saya, remaja yang awal, bahkan, ketika permasalahan yang paling nyata bersumber dari sosok cowok dan urusan kupu-kupu di perut. "Keberadaan" dua tokoh cowok ternyata tidak membantu membuat konflik cerita jadi lebih menarik .___.a
 
Jujur saja saya mengharapkan cerita yang sedikit lebih ter-olah karena judulnya yang terasa catchy untuk membuat yang baca judulnya berpikir "memang ada apa banget gerimis di arc de triomphe?". Tanpa mengurangi respek saya terhadap penulis dan buku ini sebagai karya pertamanya, catatan saya yang pertama adalah ketidakpuasan saya pada konflik yang mengalir di cerita berlatar Paris dan kuliner ini. Hal ini juga timbal balik dengan ketidakpuasan saya pada penggambaran karakter-karakter utama di buku ini yang entah kenapa tidak terasa realistis bagi saya, dan konflik romens terkesan sebagai konflik-romens-yang-mudah, bahkan meskipun memang ini cerita yang ditunjukkan pada pembaca belia. Hmm, apakah konfliknya juga memang menyesuaikan untuk target pembacanya, ya? Mungkin memang kapasitas saya sekarang sudah nggak mampu lagi menikmati konflik yang sangat remaja, ya .____a

Catatan saya tentang ketidakpuasan saya pada tokoh-tokoh dalam cerita ini sebenarnya lebih pada bagaimana kesemuanya terasa "kurang matang" ketika diceritakan dalam buku ini. Meskipun sifat Bunga yang sungguh-sungguh tentang kecintaannya pada memasak bisa saya hargai, sosok Bunga terasa agak kurang menjanjikan (??) sebagai anak yang udah lulus SMA karena masih terasa terlalu "remaja awal". Kayaknya ini memang subjektifitas saya aja sih ya = =a karena saya annoyed aja sama penggambaran gimana Bunga ini bisa cepet galau, tapi juga bisa cepet klepek-klepek gitu (#...).


Tokoh cowoknya juga gak ada yang berkesan bagi saya, di sini, dengan sangat menyesal saya katakan ((plis deh ris)). Darel yang ceritanya "flaw"nya itu memang kesombongan, tapii buat saya sifat sombongnya digambarkan secara nyebelin dan entah kenapa terasa "berlebihan" dan "gak realistis" untuk usianya yang ceritanya delapan tahun di atas Bunga (O__O). Pascal, hmm penggambaran soal dia juga gak membuat saya "setuju" sama kepenasaranan Bunga. Jatuhnya, sosoknya jadi terkesan "labil"-cenderung-emo, dan kadang dialognya terasa terlalu menye, gak peduli seperti apa masa lalu dan kejadian buruknya dia dulu... yang setelah saya tahu juga gak bikin saya ikut sedih atau apa ><

Satu catatan tambahan gak penting setelah kegagal-paham-an saya pada Pascal, ya. Umm... diceritakan bahwa salah satu pesona Pascal terletak di matanya yang abu-abu, dan hal itu dengan "berusaha keras" ditekankan dalam banyak deskripsi. Syangnya itu gak mempan bagi saya ((halah)) karena posisi pertama tokoh pria bermata abu-abu mempesona masih dipegang tokoh Niccolo Machiavelli di seri The Secrets of the Immortal Nicholas Flamel =v=b

Saya juga kurang yakin sama latar belakang tokoh Bunga dan Odetta yang kayaknya anak yang cukup kaya kalau bisa diceritakan tinggal di apartemen di jalan yang gak mlipir, bisa belanja pake kartu kredit unlimited. Rasanya terlalu "gampang" juga, gitu. Tokoh Odetta yang sempet saya kira mungkin juga bisa ikut ambil andil dalam perkembangan cerita ternyata harus puas sebagai tokoh sahabat yang seringnya diceritakan sibuk kuliah atau apa sehingga jarang diceritakan untuk berpengaruh dalam lika-liku "konflik cinta Bunga". Rasanya yang dipilih utnuk disajikan dalam buku ini "terlalu mudah" padahal settingnya sendiri sudah menjanjikan dengan menggadang-gadangkan Paris dan kuliner lho. Soal mimpi Bunga buka toko roti itu juga kayaknya bisa jadi gampang-banget seperti di cerita di buku cerita ((NAH LHO)), dan membuat saya jadi semakin merenungkan kalau buku ini bersettingkan di suatu dunia yang entah bagaimana lebih baik dari dunia nyata ((ISTIGHFAR OI)).


Mari berdoa supaya Tuhan juga memudahkan cerita hidup kita seperti saudari Bunga, ya, kalau begitu, amiin. Serius.

Satu kejanggalan minor ingin saya catatkan karena entah kenapa buat saya ketika membacanya rasanya jadi mengganggu (??) - yaitu ketika Bunga bisa diceritakan dilupa-janjikan di restoran muahal yang katanya didatangi orang-orang penting dan artis (?) padahal kayaknya sebelum pergi Bunga justru bisa makan di resoran itu karena diajak, saking bergengsinya itu restoran. Yang terjadi adalah, oke meskipun bernagkat sendiri-sendiri janjinya, Bunga masuk duluan dan bisa dengan enteng bilang minta meja-dua-orang begitu saja tanpa tetek-bengek reservasi. Segala konsep soal makan-di-tempat-bergengsi-itu-pake-reservasi yang saya miliki langsung tergoncang dan saya cuma bisa menganga imajiner waktu membaca episode itu =)). Maaf, maaf, mungkin saya yang gak tahu gimana kalau di Paris ye.


NAH AKHIRNYA sampai ke bagian-yang-saya-suka dari buku ini ♥ banyak hati saya berikan pada ilustrasi cantik yang menghias dalam dan luar buku ini. Suasana kulinernya sangat terdorong karena banyak disisipkan ilustrasi yang cantik-cantik! ♥ ♥ Lalu, saya juga memberikan hati ♥ pada sisipan informasi pengetahuan (iya sama sih...) tentang masak dan bahan masakan Prancis DAN JUGA RESEP MAKANAN yang disisipkan penulis di sini ♥ Saya berpendapat kalau dengan demikian, penulis bisa dibilang sudah cukup banyak berpengalaman di dunia kuliner dan melakukan riset yang tidak sedikit (PS: Penulisnya ternyata pernah bekerja di toko roti selama 15 tahun lho *w*) dan itu sangat saya hargai sebagai pembaca ♥

Afterall, saya rasa buku ini memang sudah memiliki target-pasarnya sendiri (?) dan sebagai novel pertama dari penulisnya, kemauan untuk memadukannya dengan Paris dan kuliner agar menarik merupakan hal yang patut untuk dihargai sebagai upaya untuk membuat bacaan yang menarik^^ Semangat terus!

Beberapa kutipannya yang boleh juga:

"Orang yang sering ingkar janji padamu itu orang yang tidak benar-benar menghormatimu."

"Nggak ada yang bisa mewujudkan mimpi selain diri kita sendiri. Kita nggak bisa mengandalkan orang lain. Justru kekuatan terbesar untuk meraih cita-cita itu ada pada diri kita sendiri."

"Orang yang lagi jatuh cinta memang nggak terasa kalau sedang disakiti."

"Kalau pemuda yang kamu cintai tidak membalas perasaanmu, berarti dia memang bukan untukmu. Cinta itu seperti tali yang kedua ujungnya sudah dipegang oleh dua orang yang ditakdirkan berjodoh. Kedua orang itu akan saling mencari dan pasti bertemu ketika tiba saatnya nanti."

"Sesuatu yang diciptakan dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati akan tetap dihargai orang lain, bagaimanapun bentuknya."

This entry is submitted for Ren's Little Corner New Authors Reading Challenge 2014

4 comments:

  1. Ada cinta, ada setting LN novel ini menjadi acuan saya menggambarkan #giveaway yg sedang kakak adakan :D ngerasa aja pernah mengalami hehehhe

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe iya bisa, bisa ;))
      pernah mengalami di mana?^^ terima kasih ya^^

      Delete
  2. Aaaah.. terima kasih atas banyak hati buat ilustrasinya.. banyak hati juga buat kamuu.. ♥♥♥

    ReplyDelete
  3. Aaah terima kasih atas banyak hati buat ilustrasinya.. banyak hati juga buat kamuu.. ♥ ♥ ♥

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Back to Top