Albom, Mitch. THE FIRST PHONE CALL FROM HEAVEN.

by - Tuesday, February 04, 2014


They teach you, as a children, that you might go to heaven. They never teach you that heaven might come to you.

Penerbit: HarperCollins Publishers
Tahun terbit: 2013
Edisi: E-book (.epub), bahasa Inggris
"Genre": Reflective, Contemplative
Get your Indonesian-translated copy of this book!

Di kota kecil Coldwater yang diceritakan berada di daerah Michigan, beberapa orang mengangkat teleponnya dan mendengar suara orang terkasih mereka yang telah tiada di ujung telepon. Namun benarkah mereka semua menelepon dari kehidupan- setelah-kematian, tepatnya, dari surgakah? Ibu dan saudara perempuan yang tiada karena sakit, anak lelaki yang tewas dalam perang, anak perempuan yang menjadi korban kecelakaan, sampai pada rekan kerja yang kematiannya menyisakan rasa bersalah, panggilan telepon yang memuat suara mereka menimbulkan reaksi yang berbeda-beda dan mengubah hidup orang yang menerima panggilan telepon tersebut.

What do you do when the dead return? It is the thing people most fear — yet, in some cases, most desire.


Mula-mula sebagaimana kejadian "tak biasa" yang terjadi ketika seseorang mengangkat telepon di waktu yang berbeda-beda, panggilan telepon dari "ujung sana" itu berlangsung sebagai suatu "keajaiban kecil" yang kalaupun ternyata hanyalah bayangan dari rasa rindu dan kehilangan yang masih dirasakan, biarlah menjadi rahasia pribadi. Namun Katherine Yellin yakin bahwa jikalau yang dialaminya adalah sebuah keajaiban, haruskah ia menyimpannya untuk dirinya sendiri? Hal itulah yang membuat Katherine untuk "mengumumkan" pada jemaat di gereja yang dihadirinya bahwa ia telah menyaksikan keajaiban, saudarinya Diane yang telah tiada menghubunginya dari surga.

Tindakan itu pun akhirnya membuat kejadian panggilan telepon itu berkembang menjadi sebuah "fenomena", sebuah berita. Berita itupun sampai pada kantor berita di mana Amy Penn bekerja sebagai seorang reporter, dan ia pun ditugaskan untuk meliput cerita tentang telepon-dari-surga itu, entah benar-tidaknya, namun setidaknya Amy berharap akan ada kesempatan bagi karirnya untuk meningkat.

Benar saja, dunia dibuat geger oleh liputan awal Amy, dan sontak saja Coldwater kebanjiran pengunjung, atau malah "peziarah" yang berbondong-bondong mendatangi Katherine Yellin dan memenuhi pekarangan rumahnya. Berbondong-bondong orang- orang datang ke Coldwater, berharap agar "berkat" yang diterima Katherine juga dapat mereka alami.

Fenomena telepon-dari-surga itu pun juga membuat Sully Hardings, dulunya berada di semacam satuan-penerbang-militer, mengalami permasalahannya sendiri. Sully yang kembali ke Coldwater selepas berada di penjara atas kecelakaan pesawat terbang yang ikut andil sebagai sebab kematian istrinya, masih harus menghadapi isu tentang telepon-dari-surga yang juga telah sampai pada Jules, putranya yang masih kecil. Padahal belum sepenuhnya pula Sully sendiri pulih dari pahit dan rasa bersalah yang ditinggalkan kematian Giselle sang istri. Lalu ada Jules yang dengan lugu ikut berharap bahwa suatu ketika Mommy nya akan meneleponnya dari surga.

"I do believe in heaven. And I do believe God might grant us a glimpse."
"I understand."
"But not this way."

Sully yang juga masih dihantui rasa bersalah atas kematian Giselle hanya merasa dibuat "galau", bagaimana harus menjelaskan pada Jules bahwa pengharapan Jules tidak bisa begitu saja terjadi. Didorong oleh rasa pahitnya sendiri pada segala kehebohan fenomena telepon-dari-surga, Sully pun terdorong untuk menemukan kebenaran di balik panggilan telepon yang memuat suara orang-orang telah meninggal yang menghebohkan Coldwater.

"Are you doing this for him or for you?"
...
Maybe some of this was for him. To make him feel like he was doing something with his life, maybe some of it was to make the rest of the world feel the pain that he was feeling, the dead is dead, and Giselle was never making contact again and neither their mothers or sisters or sons.

Sully yang selepas bebas dari penjara kemudian bekerja sedapatnya di surat kabar lokal Coldwater, Gazette, pun memulai "penyelidikan"nya untuk mencari kebenaran di balik datangnya telepon-dari-surga. Benarkah mereka yang telah tiada dapat sungguh-sungguh bicara lagi denganmu? Benarkah ada surga seperti yang mereka katakan?

Selain dari premis soal "telepon-dari-surga" yang belum-belum sudah membuat penasaran dan terdengar menjanjikan untuk membuat trenyuh (#...), mengikuti cerita dalam buku ini juga terasa lebih "mengikat" dengan penceritaan yang juga menyinggung soal "rasa percaya", juga tentang "kehilangan dan merindukan" orang-orang yang dikasihi.

Rasanya cukup menyentuh bagi saya untuk membaca tentang bagaimana dari setiap telepon yang memuat suara orang-orang yang telah tiada, orang-orang yang menerimanya mengalami suatu "fase mengingat-kembali" yang melibatkan bagaimana kenangan mereka dengan orang-orang yang telah lama tiada tersebut. Meskipun tidak semuanya membangkitkan "kenangan indah", sih.

Terutamanya, saya paling tersentuh waktu membaca kenangan dari Tess Raferty soal ibunya, Ruth, yang tiada karena serangan Alzheimer; serta kenangan tentang Katherine Yellin dengan kakaknya Diane. Ughuhuks. Lebih ughu lagi juga, soal bagaimana kenangan yang kembali datang itu karena telepon-dari-mereka membuat mereka memandang yang terjadi pada mereka setelah telepon-telepon itu datang. Seperti Tess yang teringat tindakan ibunya untuk membuka makan malam Thanksgiving bagi orang-orang yang "sendirian", lalu membuat dia mengajak orang-orang yang berkumpul di luar rumahnya setelah ketahuan bahwa ia orang yang pertama menerima "telepon-dari-surga" - untuk sekadar ikut makan di rumahnya.

Hal lain yang menarik juga soal "cerita-sejarah-telepon" yang ikut tersisip di dalam penceritaannya, tentang gimana Alexander Graham Bell bisa sampai dikenal menjadi orang yang memperkenalkan teknologi dari telepon. Sangat menarik untuk membaca kalau di lika-liku dalam mengembangkan dan mempatenkannya, cinta dan dukungan yang datang dari istrinya yang tuli banyak terlibat ♥. Lalu, cara om Albom (!!!) untuk dapat meramu ide dengan "telepon"nya juga sangat menarik, dalam rangkaian kalimat yang serasa effortless, tapi "terasa" banget.

...the very first telephonic conversation, between Bell and Thomas Watson, standing in separate rooms, contained these words: Come here. I want to see you.
In the uncountable human phone conversations since then, that concepts has never been far from our lips. Come here. I want to see you. Impatient lovers. Long-distance friends. Grandparents talking to grandchildren. The telephone voice is but a seduction, a bread crumb to an appetite. Come here. I want to see you.

"Premis" tentang "hakikat-telepon" itu pun juga berpadu dengan persoalan tentang "rasa percaya" serta "kehilangan dan merindukan" tadi dengan cara yang terasa menyentuh. Bahkan meskipun buku ini menceritakan dan melibatkan banyak tokoh, rasanya justru malah memberikan "dinamika" yang cukup "kaya", tentang bagaimana orang bisa menerjemahkan "kehilangan", "rindu", dan gimana orang bisa mengambil sikap yang berbeda-beda tentang rasa percaya, terhadap "surga". Sebagai orang yang syukurnya memang baru bisa sedikit berempati pada perasaan kehilangan orang tersayang, rasanya masih tetap ada yang "nyess" ketika membaca gimana orang- orang bisa mengenang dan menata ulang pikiran dan perasaannya setelah ditinggalkan orang yang disayangi, juga dengan adanya fenomena seperti yang diceritakan buku ini.

"Hearing someone you thought you lost... It just feels... like relief. Like the bad things never happened."

Knowing heaven is what heals us on earth.

Heaven, everyone told her. It's proof. Your son is in heaven. But she'd already believed that, long before she heard his voice. Somehow, heaven was more comforting when it was only in her mind.

Sometimes what you miss most is the way a loved one made you feel about yourself.

"If you find one true friend in your life, you're richer than most. If that one true friend is your husband, you're blessed. ...and if that one true friend is your sister, don't feel bad. At least she can't divorce you."

There is a time for hello and a time for good-bye. It;s why the act of burying is natural, but the act of digging them up is does not.

Yup, tapi tetep, yang bikin penasaran memang, apakah semua telepon itu beneran? Seperti apakah kebenaran dan penjelasan dari fenomena telepon-dari-surga tersebut, terutama dengan gimana efek dari pemberitaannya, juga dari "penyelidikan" Sully sendiri. Soalnya, tentu saja seperti sewajarnya, tetap ada pihak-pihak yang skeptis, bahkan protes dan mentah-mentah menyangkal bahwa panggilan-telepon itu hanyalah hoax.

Saat efek dari fenomena telepon-dari-surga itu sudah mencapai lebih dari datangnya "jemaah" dan sampai pada "tuntutan" ketika "bukti nyata" ditunjukkan, akhirnya puncak dari pemberitaan pun akan dilakukan, saat sebuah acara talkshow terkenal akan diselenggarakan, mengundang para "terpilih" yang akan diwawancara - bahkan Katherine Yelllin akan menyiarkan panggilan dari Diane ke seluruh dunia. Lalu apakah pada akhirnya dunia akan sungguh-sungguh mendengar suara dari surga?

Akhir dari buku ini memang tidak bersifat "menyerang dengan kejutan" yang terlalu bagaimana, namun tidak bisa dibilang tidak memuaskan bagi saya. Jujur saja saya pribadi menganggapnya memuaskan karena pertanyaan-pertanyaan yang dirasa penting akhirnya telah terjawab, misalnya, mengapa terjadi di Coldwater? "Dilema" dari tokoh Sully yang juga bersumber dari "ketidakadilan" yang terjadi dalam kecelakaan pesawat yang telah mengubah hidupnya pun terjawab. Buat saya Om Mitch (#...) juga sudah berhasil "menyimpulkan" ceritanya tetap sejalan dengan semua "premis" yang ada dan dikembangkan dari awal. Tentu saja dengan sensasi nyess yang tertinggal setelah membacanya, karena sekali lagi, ughu banget bahkan meski kalimat-kalimatnya tidak akrobat diksi atau apa. Semua tokoh akhirnya menemukan "arah" yang baru setelah semua kejadian tentang telepon-dari-surga itu. Saya jadi berpikir bahwa Tuhan mungkin menunjukkan keajaibannya bukan dari panggilan-telepon-dari-surga itu :)

"If you believe it, you don't need proof."

"Did I lose you?"
"Never."

"I never said good-bye."
"Such a needless word, when you love somebody."

But it was not a new idea. We call out, we are answered. It has been that way from the beginning of belief, and it continuess to this very moment, when, late at night, in a small town called Coldwater, a seven-year-old boy hears a noise, opens his eyes, lifts a blue toy to his ear, and smiles, proving heaven is always and forever around us, and no soul remembered is ever really gone.

You May Also Like

2 comments

  1. Replies
    1. =)) lagi mulai baca juga kak itu yang Audrey, Wait! Banyak slangnya ya ternyata 8'Da *ikutan*

      Makasih udah berkunjung, ya :D

      Delete