Thursday, February 20, 2014

Riordan, Rick. THE HOUSE OF HADES (Heroes of Olympus #4) - Grha Hades.

Hazel kembali memandangi setiap pintu gerbang yang berpilin itu: perang demigod, kehancuran Argo II, malapetaka untuk dirinya sendiri dan teman-temannya.

Penerbit: Noura Books (Mizan Fantasi)
Tahun terbit: 2014
"Genre": Fantasy, Awesomeness (#...), Greek Mythology
Jangan ketinggalan untuk punya bukunya ya!

Demigod-demigod muda yang berpetualang menantang bahaya dan harapan keberhasilan yang serasa semakin sedikit, melawan kekejaman monster, kekhawatiran takdir dalam ramalan, dan mimpi buruk lainnya - paket lengkap dari eksisnya mitologi Yunani di jaman modern yang tidak hanya menawarkan kekuatan tersembunyi, tapi juga bahaya-bahayanya. Akhirnya saya bisa kembali "menikmati" suguhan cerita ini setelah cukup lama menunggu dalam keyakinan bakalan-baca-dan-beli-terjemahannya, dan saya sudah "belajar" untuk tidak mengharapkan yang kurang dari kepiawaian Om Riordan untuk menghadirkan lanjutan cerita yang lebih seru.

Indeed, om Rick "kembali" menghadirkan pahlawan-pahlawan mudanya yang sedang berjuang mencegah kebangkitan Gaea sang "Ibu Bumi" dengan mengarungi dunia menggunakan kapal-terbang fantastis Argo II - dalam petualangan yang lebih seru karena bahaya dan tantangan yang makin nggak main-main. Malang bagi anak-anak demigod itu, sob, tapi mantap bagi para pembaca (sok) setia seperti saya =))b. Jason putra Jupiter, Piper putri Aphrodite, Leo putra Hephaestus, Frank putra Mars, Hazel putri Pluto, dan gak ketinggalan duo-pasangan Percy putra Poseidon dan Annabeth putri Athena (yep, them, Percabeth dari seri Percy Jackson and the Olympians) serta jangan lupa Nico diAngelo putra Hades akan menghadapi makin banyak ujian yang menantang kekuatan dan keberanian mereka masing-masing.

Bukan kenapa-kenapa kok saya sebutin Nico pakai nama lengkap, kasihan soalnya anak satu itu karena (kalau tadi pada ngitung #plak) dia disebut yang kedelapan kan, soalnya dalam ramalan yang jadi salah satu alasan petualangan Heroes of Olympus ini dimulai, tujuh demigod lah yang disebutkan - serta karena secara umum Nak Nico ini kasihan deh pokoknya, tapi sayang kok sayanya. #penting

Sejak awal, perjalanan Argo II memang sudah tidak mudah, karena kapal-terbang itu dimaksudkan untuk membawa para demigod ke Negeri-Negeri Kuno - Roma dan Yunani dengan tujuan untuk mencegah kebangkitan Gaea yang berniat (biasalah) menghancurkan dunia dengan anak-anak kaum raksasanya - ancaman yang jauh lebih mengerikan karena raksasa hanya bisa dikalahkan dengan bekerjasamanya dewa dan pahlawan. Jangankan menghitung bahaya dari raksasa, "kuasa" Gaea juga mencakup pada kekuatan untuk menghadirkan monster-monster yang serasa tak habis-habis dari Tartarus dengan membiarkan Pintu Ajal tetap terbuka. Petualangan di buku empat ini pun akan menceritakan kelanjutan dari "langkah" untuk menghentikan Gaea dengan menutup Pintu Ajal dari kedua sisi, yep, di sisi yang ada di Tartarus dan di sisi yang ada di "dunia fana" yang terletak di Grha Hades (House of Hades) langsung di Epirus, Yunani.

Akhir buku ketiganya sudah membiarkan para pembaca deg-degan pada nasib Percy dan Annabeth karena keduanya jatuh ke Tartarus sebagai "aftermath" dari pertarungan mereka di Roma - dan kini di buku keempatnya, para pembaca (untungnya?) dapat menyaksikan kelanjutan nasib pasangan itu saat mengarungi Tartarus yang penuh kegelapan dan kekejaman untuk mencapai Pintu Ajal, sementara sisa pahlawan kru Argo II melanjutkan perjalanan yang gak kalah berat menuju Epirus, Yunani dengan panduan Nico di Angelo. Ketika harus melanjutkan perjalanan di Argo II tanpa Percy dan Annabeth, seluruh awak Argo II harus makin menempa keberanian dan kekuatan mereka karena mereka tidak punya banyak waktu untuk sampai di Grha Hades agar bisa segera menyelamatkan Percy dan Annabeth.

Haha saya bukan shipper hardcore siapa-siapa sih, tapi perjalanan Percy dan Annabeth di Tartarus tetap punya "rasa" tersendiri yang membuat ikatan di antara mereka (halah) jadi terasa jauh lebih bermakna, dan ada cukup "pelajaran" mengena lain yang tidak hanya dialami mereka tapi juga bisa diserap oleh pembaca dari pertemuan mereka dengan Bob dan Damasen, yang ternyata menjadi teman yang berharga dalam perjalanan mereka di Tartarus. Penasaran mereka siapa dan bagaimana bisa, di Tartarus yang lubang monster itu ketemu teman? Don't make me explain more just read x)) Saya tersentuh dengan pengorbanan yang dibuat kedua teman tak terduga itu, terutama karena "pesan" soal mengingat teman yang berharga buat kita dan menerima masa lalu kita tapi tak berarti menerima begitu saja takdir yang dapat "membelenggu" dapat tersampaikan melalui kedua tokoh itu hiks.

"Masa depan ...." Bob merenung. "Itu konsep ciptaan manusia fana. Aku tidak semestinya berubah, Percy kawanku." Dia menatap ke kerumunan monster di sekelilingnya. "Kami selalu sama ... selamanya."
"Kalau kau sama seperti dulu," ujar Percy, "Annabeth dan aku pasti sudah mati. Mungkin kita tidak ditakdirkan untuk berteman, tapi sekarang kita berteman. Kau sahabat terbaik yang bisa kuminta."

Don't fret, perjalanan Argo II maupun petualangan di Tartarus sama-sama seru untuk diikuti, yang didukung dengan adanya semua "sudut pandang" ketujuh demigod dalam ramalan. Adanya sudut pandang penceritaan dari ketujuh demigod memungkinkan pembaca untuk bisa menyaksikan sendiri bagaimana kekuatan dan ujian masing-masing yang bertambah dan berkembang, dan itu kereen banget ORZ. Memang kasihan sih dan gak bisa ngebayangin aja gimana mereka demigod-demigod belasan tahun itu kok kayak gak ada istirahatnya ketemu monster dan petaka (#...) tapi om Rick berhasil meramu setiap "halang rintang"nya dengan sangat seru, tetap menghadirkan tokoh-tokoh dalam mitologi Yunani baik baru maupun lama di sepanjang seri, sehingga banyak petualangan "kecil" yang bisa dinikmati terlepas dari kenyataan "masih panjangnya" perjalanan menuju tujuan utamanya. Soalnya, tiap pahlawan akan punya peran dan kesempatan masing-masing untuk unjuk kekuatan, menegaskan bahwa tidak ada satu-satunya demigod yang bakalan jadi "peran utama". SERIOUSLY THEY ALL JUST LITTLE KIDDO BADASS(ES?).


Dari menelisik review-review di Goodreads (yang juga merupakan sumber dari sebagian besar gif-gif ekspresi yang saya pakai #...), rasanya pendapat saya mungkin bakal gak jauh beda sih. BIG APPRECIATION emang terutamanya untuk Frank, Piper, dan Hazel yang sepanjang buku-buku sebelumnya cukup banyak mengalami keminderan tertentu tapi mereka di sini bisa menyelamatkan semuanya juga di situasi gawat. Piper hebat dengan caranya sendiri sebagai anak Aphrodite untuk bisa mengalahkan musuh dan membalik keadaan gawat "hanya" dengan charmspeak nya yang dilakukan berdasar emosi rasa (?), dan kalimat tentang gimana kekuatan Aphrodite itu termasuk yang paling "purba" bahkan sebelum Zeus itu KEREN BANGET.

Terus, saya juga seneng banget membaca gimana Frank mendapat restu dan kebanggan ayahnya, Mars, Dewa Perang dan itu ditambah dengan awesomeness ketika Mars muncul dan saya jadi ketambahan "squealing" karena I DO LIKE MARS BETTER THAN ARES ♥ dan last but not least, Hazel yang belajar "kekuatan" baru dan salah satu yang memegang peranan kunci juga dalam petualangan mereka di Grha Hades - tapi caranya Hazel mengalahkan musuh yang menghalangi di perjalanan sebagai caranya membuktikan diri juga hebat banget dan saya suka banget sama pemahaman yang dia dapet untuk menggunakan "kekuatan baru"nya itu, yang ternyata sebenarnya sama dengan yang bisa diaplikasikan Piper untuk charmspeaknya yang lebih termutakhirkan dengan emosi (rasa) tadi (?). SAYA JUGA TERSENTUH LAGI WAKTU BAPAKNYA HAZEL, PLUTO VERSI ROMAWINYA HADES MUNCUL dan isi obrolan (?) singkat mereka itu tuh pas bangetlah, just what needed to get his child faith to go on TATb.


Other awesomeness checkpoint juga gak ketinggalan pada proses "evaluasi" yang Jason alami soal balik-ke-Jupiter atau stay-di-Camp-Galf-Blood yang membuat dia akhirnya lebih mantap pada pilihan yang dibuatnya, ada kalimat keren soal gimana kita gak bisa memilih siapa orangtua kita tapi kita bisa memilih warisan seperti apa yang akan kita tinggalkan, dan itu juga ngena banget >w< bb.

Kepiawaian om Rick juga perlu diapresiasi untuk "mengemas" mitologi Yunani yang muncul dan "ada" sepanjang cerita tetap keren untuk dicerna secara seru dan gak membosankan serta tetap terasa "baru" - misalnya dengan penggambarannya tentang Tartarus, serta caranya mengolah deskripsi dan interaksi yang selalu bisa menghibur. Kemunculan tokoh imortalnya selalu bisa terasa berkesan dan menghibur dengan cara om Rick membuatnya tidak melulu "serius" serta mempunyai unsur humor terkini (?). Hal itu memang keunggulan om Rick yang selalu gak basi untuk diantisipasi setiap kali membaca cerita yang ditulis beliau *w*b. Rasanya sangat menyenangkan bisa membaca humor-humor khas Rick Rior dan lagi, bahkan di edisi terjemahan ini juga saya masih bisa cukup tertawa pada selipan-selipan humornya, misalnya dari keluguan Frank, termasuk (sedikit spoiler gak ya) dialog epik (?) nya dengan Pak Pelatih Hedge (oh I almost forget mentioning him so sorry sir but I do hope you happiness as well) LOL =))

Tapi meskipun demikian, yang hebat lagi dari Om Rick juga adalah gimana banyak juga pesan-pesan (bukan, bukan pesan sponsor) yang bisa didapet dari kejadian-kejadian yang ada sepanjang cerita, tentu tanpa kehilangan atmosfer menghiburnya u,u serta bonus bahan fangirlingan untuk melihat kesemua "pesan" itu dari berkembangnya karakter-karakter para pahlawan itu, and that to sum it all as

 
Berkembangnya cerita di buku empat ini buat saya yang sudah membaca dari awal (ehem) terasa cukup memuaskan, sekali lagi karena perkembangan tiap tokoh pahlawan yang makin terasa dan "ngena", tinggal pilih deh siapa pahlawan favoritnya. Rasanya hal itu semacam sesuai dengan harapan om Rick (kalau saya nggak salah ingat) kalau pahlawan bisa datang dari latar belakang apa saja, seperti kesemua pahlawan demigod yang datang dari beragam latar belakang yang gak melulu "menonjol" di kehidupan "biasa" mereka, bahkan banyak yang mengalami hal-hal gak mudah seperti bullying dan semacamnya.

On the fangirl note (#...), HAHA saya senang sekali karena Leo bisa menemukan tambatan hati setelah di ketiga bukunya saya bersimpati karena di antara bertujuh cuma doi yang jomblo sendiri =)). Saya ikut senang untuk dia karena bisa menemukan orang yang cocok dengan pribadinya yang humoris dan jago-pertukangan dengan cara yang buat saya gak terperkirakan, tapi masuk akal dan bisa diterima serta bikin cerita makin seru untuk diikuti x)) lagi-lagi om Rick menunjukkan kepiawaiannya mengelola kesemua jalan cerita dan tokoh-tokoh yang muncul di sepanjang ceritanya *w*b. And it's also precious to see his character slightly being somewhat more mature with the determination and understanding he gets after his meeting with that significant person of him xDD.Ada quote bagus dari Leo yang sebenarnya ingin saya kutipkan dari buku terjemahannya, tapi karena sekarang bukunya lagi dibaca kakak saya, saya akan ambilkan dari salah satu pembaca yang sudah mereviewnya di Goodreads:

“I figure the world is basically a machine. I don't know who made it, if it was the Fates, or the gods, or the capital-G god or whatever. But it chugs along the way it's supposed to most of the time. Sure, little pieces break off and stuff goes haywire once in a while, but mostly...things happen for a reason.”

TO HAVE THIS QUOTE BEING SAID BY LEO IS PRECIOUS BBY AM SO PROUD OF YOU =)) 

 
Selain itu saya juga mengembangkan lebih banyak simpati buat Nico diAngelo di sini, apalagi setelah "ujian" yang harus dia hadapi di tengah usaha untuk mendapatkan "bantuan" di perjalanan. TAPI SERIUS SAYA GAK NYANGKA kalau Nico bisa diarahkan pada isu perkembangan diri yang SEBEGITUNYA di cerita ini x)) Di buku ini pembaca yang tahu lika-liku hidup Nico yang anak Hades, kehilangan orang paling disayang, dan gimana selama ini Nico itu sukanya menyendiri dan kesannya lebih mudah bergaul sama yang mati daripada yang hidup - akan mendapat jawaban yang cukup ber-momentum yang menjawab apa yang mendasari perilaku menarik-diri Nico (> <)

Pengungkapan yang dihadirkan om Rick soal Nico buat saya memang seperti lompatan yang serius dan bisa diterima secara berbeda-beda buat pembacanya karena isu yang diangkatnya. Kalau saya sendiri, sih, merasa perkembangan soal Nico ini cukup mengejutkan karena saya tidak menyangka saja bahwa hal tersebut bisa "diangkat" dalam sosok anak-anak - tapi di sisi lain setelah membaca sebagian diskusi di Goodreadsnya, saya merasa harus lebih membuka pikiran akan hal-hal beragam yang ternyata "eksis" dalam dunia "anak", tidak terkecuali hal yang diungkap soal Nico.

Untuk karakter-karakter lain, saya juga tidak kekurangan cinta kok buat kalian, bcos you're all awesome kids hon just be brave and get home safely til the end will you =)) even Coach Hedge, again I do hope you all happiness x)) meskipun saya sebenarnya punya kekhawatiran kalau entah kenapa kok rasanya bakalan ada karakter yang mati pada akhirnya but let's just hope for the best and that I've finished this book and there's stil more wait for the final (?) in The Blood of Olympus aaaakk (> <).

Meskipun demikian, secara keseluruhan om Rick sudah menunjukkan banyak kualitasnya sebagai penulis dalam caranya mengolah dan mengelola cerita dan perkembangan tokohnya di sini (> <) saya tetap menanti kelanjutan petualangan para demigod di buku selanjutnya dan mengharapkan, pada konteks fangirling-simpatik...

PLEASE HAVE MOAR LOVE FOR NICO DI ANGELO AND I DEMAND NICO'S POV =))
and I just don't dare to think that all of this series are probably getting its final ending in the next book *crossfinger*

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Back to Top