Primasari, Prisca. Setiap Tempat Punya Cerita - PARIS: ALINE

by - Saturday, February 15, 2014

Tahun terbit: 2012
Penerbit: GagasMedia
Edisi: Paperback, cetakan pertama
"Genre": Abroad-setting, Love
Terima kasih ya kak Yuska yang udah kirimin buku STPC ini sebagai salah satu dari tiga buku dalam paket STPC hadiah even STPCnya waktu itu. Norak ya saya seneng amat ngeliat stempel "Buku ini tidak dijual" dan "Persembahan penerbit"nya, padahal di foto ini gak jelas keliatannya, ck.
Jangan ketinggalan untuk punya bukunya ya!

Nama 'Aline' memang nama yang cukup bagus dan "cantik" untuk dijadikan judul yang mewakili kisah STPC yang ditempatkan di Paris sih ya. Konsep judul STPC keluaran GagasMedia yang "mutlak" menempatkan nama latar tempatnya di depan memang kayaknya membuat "kreasi" pembuatan judulnya jadi mengikuti agar terkesan gak meng-"overshadow" latar tempatnya dengan memilih kata yang irit, tapi tetap mewakili cerita yang dimuat.

Soalnya saya rasa memang bakalan agak gak lucu sih kalau judulnya misal Paris: Dari Pecahan Keramik, atau Paris: Misteri Pemuda Bagai Angin... OKE MAAF INTRONYA =)) but seriously, yah, saya pikir soal judulnya STPC itu menarik, dan khususnya yang Paris ini menariknya karena pakai nama tokoh utamanya untuk judul. Aline, dan "pemuda misterius bagai angin karena seperti kata Aline sendiri, suka tiba-tiba datang dan pergi", Aeolus Sena (dan omong-omong, Aeolus juga nama Dewa Angin bukan sih, fellow PJO fans? #halah) - keduanya bertemu karena pecahan hiasan keramik yang ditemukan Aline di Jardin du Luxembourg. Hiasan keramik yang sudah pecah itu ternyata asalnya dimiliki oleh si pemuda yang meminta tolong Aline mengembalikan padanya dengan janji-temu tengah malam di Bastille, bekas penjara yang konon angker.

Tanda-tanda kalau tokoh cowok ini nyebelin? Iya sih sebenernya, kalau menurut pandangan Aline yang gak-butuh-paparan-cowok-nyebelin lagi (tunggu, kenapa kesannya cowok jadi kayak sinar UV? Oke skip) setelah sukses dibuat patah-hati sama si Ubur-Ubur yang sama-sama kerja di bistro makanan Indonesia milik Monsieur Borodin. Terlepas dari gimana Aeolus Sena ini cukup bisa bikin Aline sebel dengan janji-ganjilnya, si Aeolus Sena ini ternyata memberikan kesan yang "gak biasa" setelah akhirnya Aline bertemu dengannya.

Tadinya, kupikir dia adalah penjaja keliling dari Montmartre. Lehernya penuh syal yang tampaknya dikumpulkan dari semua toko fashion di Paris, dengan beraneka ragam motif, dari yang polkadot hingga Lily of the Valley, menjulur hingga ke perutnya. Pakaiannya kedodoran, berupa sweter bergambar Big Ben dan celana panjang kargo. Kacamata bulatnya pun terlihat kebesaran. Tapi, senyumnya yang sangat lebar itu membuatku lupa untuk bersikap sinis.

Aline yang tidak membiarkan pemuda itu "lolos" begitu saja setelah membuatnya mengikuti janji-temu yang ganjil itu pun meminta agar tiga permintaannya dikabulkan. Jadilah, saat-saat Aline dan Sena yang dihabiskan bersama di Paris pun berlanjut dari janji-temu-ganjil itu. Aline jadi tahu bahwa gak hanya dari penampilan yang membuat Sena terasa berbeda, tapi juga dari sikap dan tindak-tanduk Sena yang berkesan seenaknya sendiri tapi juga ekspresif. Rasanya ada yang disembunyikan Sena di balik keseluruhan paket unik yang diperlihatkannya. Itu, ditambah lagi dengan bagaimana sikap Sena bisa membuat Aline kebingungan dan kepikiran (asek asek jos), apakah Sena akan menjadi masalah atau "hadiah" bagi kehidupan Aline yang sedang cukup down di Paris karena Ubur-Ubur dan juga "kejenuhan" terhadap "berada di Paris karena ambil S2 sesuai keinginan papa"? 

"... Nanti pasti kamu akan dapat yang jauh lebih baik.
Tetanggamu itu contohnya."

Musibah atau hadiah dari Sena nggak ada hubungannya sama kak Ezra, tetangga flat Aline yang selalu baik dan perhatian. Bahkan saat Sena ilang-ilangan tak jelas nan penuh misteri serta bertingkah yang senada (#...), kak Ezra akan selalu siap mendengarkan Aline. Widih, sosok karakter Ezra ini emang terasa "abang idaman" banget karena pembawaannya yang tenang bikin ayem. Mau sih ya pesen yang kayak gitu ((PESEN KATANYA)). Meskipun demikian, kenapa juga ya kak Ezra dan Sena sering terlihat membicarakan sesuatu dengan agak sembunyi-sembunyi agar Aline tidak tahu? Apakah ada hubungannya dengan sikap perhatian yang ditunjukkan kak Ezra pada Aline selama ini?


Yehe, yehe, saya pribadi memutuskan untuk menyukai kedua karakter cowok yang dihadirkan kak Prisca di sini setelah benar-benar membaca bukunya^^. Kedua karakter punya kekhasan masing-masing dan berperan beriringan dengan cerita untuk membuat keseluruhan buku ini enak dibaca - mungkin karena halamannya yang gak terlalu tebal juga kali ya? Kisah Aline jadi punya warna tersendiri dengan kedua hommes (maksudnya "laki-laki" dalam bahasa Prancis kalau saya gak salah tata bahasanya) yang seperti bisa mendukung sifat Aline yang merasa inferior dan mudah "ribut" sama hal-hal yang sebenernya sepele (sedikit mengutip perkataan Sena dan kak Ezra di sini).

Buku ini saya "lahap" dengan cukup mulus juga karena penceritaannya yang ringan dan karena charm Sena-Ezra yang berhasil ditampilkan kak Prisca di sini. Meskipun belum pernah baca novel yang ditulis Kak Prisca sebelumnya, tapi untuk cerita yang ini secara memuaskan bisa dikatakan bahwa Kak Prisca bisa membuat cerita yang cukup berdasar untuk menguatkan dinamika (?) yang dimiliki tokohnya, meskipun buat saya untuk tokoh kak Ezra rasanya masih bisa dikembangkan lagi^^a. Simply because I want more of him to be told, hehe, tapi rupanya kak Prisca sudah menuliskan semacam cerita-pendek spinoff tentang Sena dan Ezra lho di blognya^^

Secara keseluruhan, saya gak protes kok sama cerita yang dimuat di buku ini, tandanya cerita ini sudah bisa saya terima dengan "akal-hati" saya. Meskipun kadang sih ya, penarasian Aline terasa agak terlalu hiperbol ketika menggambarkan situasi tertentu atau suasana hatinya ' 'b Saya juga jujur aja merasa gak "dapet" sama permasalahan Aline dengan si Ubur-Ubur, apalagi ketika di bagian-bagian ketika Aline menyatakan "perasaannya" pada pembaca tentang gimana dia sedih dan sakit hati karena Ubur-Ubur. Makanya, ketika akhirnya kak Prisca "menyudahi" soal dampak-kesengat-Ubur-Uburnya, saya gak merasa bahwa "penjelasan" gimana sebenarnya mulanya Aline dan Ubur-Ubur itu "perlu" - dan ngapain juga sih ya kalau udah ada abang Ezra dan kak Sena. Iya, saya #TeamEzra kalau ada yang tim-tim an, nasi tim juga lebih enak lagi tuh, oke skip.

Untuk karakter Aline sendiri, bukannya saya menyatakan gak suka atau menyukai tokoh utama kita ini sih ya, tapi saya senang bisa mengapresiasi perkembangannya untuk bisa menjadi lebih percaya diri dan "gak terkungkung oleh diri sendiri" seiring cerita berkembang^^ Saya bisa bilang bahwa pada akhirnya saya ikut senang untuk Aline^^ Gakpapa ya, kespoiler dikit kalau akhirnya hepi ^^ 

This entry is submitted for:
BBI Review Challenge 2014

You May Also Like

5 comments

  1. Kertasnya agak gelap kayak London-kah mams? (masih ngiler tapi apa daya)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hmm? Iya agak2 gelap dikit sih san soalnya ceritanya kayak di jurnalnya Aline gitu >< ohoho cepet sembuuh san <33 *tebar-tebar cinta dari bajajnya si kekembar*

      Delete