Galbraith, Robert, TITIAN KEJAHATAN (CAREER OF EVIL - Cormoran Strike #3)

Wednesday, October 05, 2016

I choose to steal what you choose to show
And you know I will not apologize
You're mine for the taking.

I'm making a career of evil...

(Lirik lagu Career of Evil - Blue Oyster Cult, ditulis Patti Smith)

Tahun terbit: 2015
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Edisi: Paperback, bahasa Indonesia
"Genre": Mystery, Crime, Cormoran Strike Mystery

Saya merasa bahwa buku ini menjadi pengalaman membaca kisah misteri yang sangat "segar" setelah cukup lama absen membaca buku fiksi, entah terdistraksi oleh skripsi atau oleh tontonan hiburan daring (Game of Thrones, video Youtube tentang teori Game of Thrones, to name a few #...). Pantas untuk dikatakan di awal review saya bahwa ini adalah kisah misteri yang ada di level kemapanannya sendiri, dengan penulisan reliabel Galbraith yang tidak kehilangan kekuatan magisnya meskipun tidak menggunakan nama J. K. Rowling untuk menulis buku ini. Career of Evil amat sangat sepadan ditandaskan untuk "memanjakan" pikiran dan emosi pembacanya.

Ada ungkapan third time is a charm, dan saya ingin mengaitkan ungkapan tersebut dengan fakta bahwa buku ini adalah buku ketiga dari seri detektif Cormoran Strike. Saya merasa bersyukur karena masih memiliki kesempatan membaca dan mengikuti cerita detektif partikelir ini dalam bentuk buku fisik dan terjemahan sejak buku pertamanya, Dekut Burung Kukuk (The Cuckoo's Calling) yang saya ulas sebagai awal menjanjikan, misalnya dari bagaimana Galbraith dapat mengenalkan sesosok Cormoran Strike sebagai detektif yang ternyata bisa memikat dengan segala aspek "kerusakannya" - pincang akibat amputasi saat kecelakaan yang membawanya ke akhir karir militernya dan nyaris bangkrut membangun karirnya. Bagaimana dengan sosok "jagoan"nya yang broken itu Galbraith dapat mengolah misteri yang engaging dengan latar modern dan segala intrik-intrik sosialnya, lalu makin disedapkan dengan dinamika interaksi dan hubungan si tokoh detektif dengan partnernya, Robin Ellacott, karena memberikan prospek dan kemungkinan romansa yang realistis tapi juga membuat gemes dan greget (#doyoufeelme #pleasetellmeifyoudo). Sebenarnya buku keduanya yaitu Ulat Sutra atau The Silkworm juga menyajikan misteri yang "sadis" dalam hal kekejaman atau kebrilianan resolusinya, tapi entah kenapa saya nggak menuliskan reviewnya, karena kalau dibandingkan memang terasa seperti terhimpit dengan sensasi membaca buku pertama dan ketiganya. Untuk memberikan keadilan ke The Silkworm, bisa dikatakan bahwa tetap saja The Silkworm layak dibilang berhasil karena sukses membawa saya ke kelanjutan cerita Cormoran Strike. Nah, tapi menurut saya, masing-masing pesona "misteri yang engaging" dan "prospek dinamika Strike/Robin" telah berhasil disajikan secara epik dan fatal (#LOL) pada pembaca di buku ketiga ini.

Buku ini dimulai tanpa banyak bertele-tele dan membangun sirkumstansi kasus lewat paragraf-paragraf atau bab pendahuluan yang panjang karena bahkan dari blurb nya saja sudah ketahuan bahwa kasus yang akan diulas adalah mengenai teror yang diterima Robin melalui kiriman tungkai manusia yang didapatnya. Sebagai partner Strike dalam mengusut kasus-kasus yang telah mengangkat namanya sebelum ini, yaitu kasus kematian supermodel Lula Landry di buku pertama dan kasus penulis nyentrik Owen Quine di buku kedua, tidak dapat disangkal bahwa Robin akan berada di posisi terancam, terutama oleh pihak-pihak yang ingin menjatuhkan Strike. Sebagai sosok detektif yang nggak sembarang detektif, nggak mengherankan juga bahwa Strike berhadapan dengan sosok penjahat yang dapat menantang kecerdasannya. "Musuh" Strike kali ini punya level berbahaya tersendiri, karena dari kiriman untuk Robin tersebut tersirat bahwa si musuh nggak sembarangan mengancam - tungkai adalah bagian tubuh Strike yang hilang dari dirinya, bisa dibilang menunjukkan kelemahan Strike juga secara fisik. "Keberanian" si musuh ini mengirimkan tungkai manusia ini menunjukkan bahwa ancaman yang diberikannya nggak main-main. Si musuh ini membuat Strike jadi harus menilik masa lalunya untuk mengetahui siapa orang yang paling memiliki keberbahayaan dan alasan untuk mengancam Cormoran Strike dengan potongan tungkai manusia.

Gambar dari robert-galbraith.com

Mengungkap atau berurusan kembali dengan masa lalu bukan hal yang menyenangkan bagi Strike, meski di sisi pembaca justru menjadi pengalaman membaca yang greget karena pembaca seperti saya amat tertarik untuk mengenal sosok Strike lebih jauh (#GELIBANGET). Seolah bersikap adil baik pada tokoh yang ditulisnya dan pembacanya, Galbraith pun menggiring penyajian masa lalu Strike dengan cara-cara yang terasa relevan dengan perkembangan cerita. Kegregetan semakin bertambah karena ternyata cerita juga berkembang untuk akhirnya membuat Robin juga jadi mengungkap bagian masa lalunya pada Strike, begitu pula sebaliknya (#AWAWAW). Ironi kembali terjadi ketika dengan segala keberbahayaan musuh di petualangan Strike dan Robin (#AWAWAWAWAW #PLAK), pembaca justru dibuat makin greget  - mengikuti ketegangannya, tersentuh dan ter-engage dalam keruwetan misteri dan konflik, sehingga makin nggak bisa melepaskan simpati untuk Strike dan Robin, terutamanya. Kekaguman saya pada sosok Robin menjadi semakin besar di buku ketiga ini, ketika melalui konflik yang dialaminya dan bahkan melalui diungkapnya posisi terlemah dari seorang Robin (#MAAFSPOILERDIKIT) justru saya makin makin respek dan kagum; selain tentunya semakin yakin kalau Robin itu cocok buat Strike (#YESPLZ).

Kendati segala upaya kerasnya untuk menjaga jarak, mereka telah saling mengandalkan.

((BE STILL MY HEART, BE STILL. YOU HANG IN THERE STRIKE BECAUSE WE HOPE FOR THE BEST FOR YOU T_______T))

Terlepas dari bagaimana saya merasa sangat "dimanjakan" dengan perlakuan Galbraith dalam mengembangkan relasi Strike/Robin, jangan lupa bahwa fokus utama yaitu kasus misteri tetap harus diperhatikan. Galbraith juga sukses besar membuat proses investigasi menjadi seru dan menarik diikuti, suatu hal yang menurut saya sulit untuk dilakukan dalam penulisan kisah misteri; dari proses mengumpulkan informasi hingga klimaks untuk mengeluarkan kartu-kartu kebenaran tersaji bagaikan naik roller coaster, karena atmosfer tegangnya sangat terasa. Cara Galbraith untuk meramu kisah misteri juga terasa kesan modern nya karena uniknya di buku ini, Galbraith nampak terinspirasi dengan lirik-lirik lagu Blue Oyster Cult - dan menjadikan lirik-lirik atau judul lagunya sebagai judul bab. Ternyata Blue Oyster Cult ini adalah band "jadul" yang juga punya kaitan dalam masa lalu Strike, dan meskipun penasaran juga untuk mendengarkan lagunya, saya juga jadi semacam ngeri xD. Saya juga lagi-lagi berhasil terkecoh, padahal seharusnya sebagai orang yang udah baca beberapa misterinya Poirot seharusnya saya lebih "awas" untuk mencocokkan "profil" yang paling sesuai untuk pembunuh terlepas dari beragamnya motif, alibi, atau pengecohan... huhu, salute to Galbraith yang berhasil mempermainkan saya sebagai pembaca xD.

Mengikuti kisah dalam buku ini juga membuat pembaca mendapat kesempatan untuk tahu dan bersimpati terhadap sejumlah realita sosial yang diangkat Galbraith karena terdapat tokoh-tokoh yang "mengkomunikasikan"nya dalam konflik dan cerita mereka. Sosok mendiang ibu Strike, Leda Strike misalnya; yang kematian overdosisnya mungkin dianggap "wajar" mengingat reputasinya padahal Strike yakin bahwa ibunya dibunuh. Potret realita sosial itu sebenarnya juga sudah disinggung dalam buku Dekut Burung Kukuk, namun di kisah Titian Kejahatan kembali dimunculkan karena relevan dengan masa lalu Strike yang harus "ditengok" kembali untuk memecahkan kasus. Sebenarnya juga ada sejumlah realita sosial lain juga diangkat beriringan dalam cara yang apik dalam cerita ini,  misalnya tentang betapa ngerinya keadaan bagi korban pedofilia, atau penggambaran ngerinya kejahatan mengintai perempuan yang nggak waspada, atau kecenderungan menyalahkan korban kejahatan... tapi mending tidak usah saya jelaskan lebih jauh gimana diangkatnya (???) karena resiko spoiler aja...

Sebagai pembaca, saya sangat menikmati bagaimana Galbraith menceritakan latar Inggris sebagai panggung misteri yang gelap bagaimana aspek "kebobrokan sosial" yang tidak dapat ditampik dari Inggris digambarkan dengan cara yang entah bagaimana tetap terasa cantik, sedih, ironis - seperti kesan yang terasa di Dekut Burung Kukuk. Banyak topik-topik khusus yang terangkat dalam proses investigasi Strike dan Robin, misalnya tentang BIID (Body Integrity Identity Disorder) - suatu kondisi di mana seseorang justru merasakan dorongan kuat untuk menjadi "cacat" yang disajikan sebagai komponen penting dalam kasus secara sesuai, dihadapkan dengan kondisi Strike yang kehilangan tungkai sebagai pengalaman traumatis bukannya atas keinginan sendiri. Yep, lots of things that gets personal to either Strike or Robin. Melihat bagaimana komponen-komponen psikologis kasus juga semakin terangkat dengan latar belakang pendidikan psikologi Robin juga membuat saya merasa semakin dimanjakan saat mengikuti kisahnya.

Well... dari awal sampai akhir, saya merasa bahwa setiap bagian cerita, setiap kejadian, setiap konflik yang disajikan bisa "tersampaikan" ke pembaca. Komponen misterinya, konflik antar tokohnya, semua hal yang terjadi dalam buku ini terpadatkan menjadi kisah yang berhasil menggiring pembaca pada ketegangan dan kegregetan yang sulit ditinggalkan atau diulur-ulur, sepadan untuk membuat saya begadang mengikuti kisahnya. Jelas sekali bahwa Career of Evil juga sukses untuk membuat saya sangat menantikan membaca kisah Strike dan Robin selanjutnya karena akhir ceritanya benar-benar GREGET maksimal, bahkan sampai akhir saya merasa benar-benar sukses "dipermainkan", sampai-sampai saat setelah semua yang terjadi dari awal, pada akhirnya saya tetap merasa penasaran karena BANYAK BANGET YANG LAYAK DIJAWAB DI BUKU SELANJUTNYA. BANYAK. BANGET. ...dan saya sungguh-sungguh berharap agar Galbraith dapat kembali melanjutkan kisah Cormoran Strike dengan kesuksesan yang selayaknya setelah Career of Evil.

  

You Might Also Like

2 comments

  1. sudah mulai aktif blog lagi ya mba hahaha.
    aku nggak mengikuti seri ini nih, mystery is not (really) my thing kayaknya. reviewnya jelas banget qaqaaaaa jadi pengen memulai walaupun agak telat wkwk.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sanyyy :''' makasih udah ngomen di lapakku yang debu dan sawangen =)) whyy but you should really give cormoran a try and start! xD kamu juga baca Cuckoo's Calling kann? xD wah jadi malu~ review ku kayak bias banget yak, hahahaha xD

      Delete

Subscribe