Christie, Agatha. SAD CYPRESS.

by - Thursday, August 22, 2013

Tahun terbit: 2013, cetakan ketujuh
Penerbit:  PT. Gramedia Pustaka Utama
Edisi: Paperback, bahasa Indonesia, cover baru
"Genre": Mystery, Crime, "Mindblowing", Pitiful-to-read-but-nice

Bisa dibilang segala hal yang menjadi sebab-musabab misteri dimulai dari surat yang dikirimkan ke pasangan bertunangan yang sudah kenal sejak kecil, Elinor Carlisle dan Roderick Welman. Surat yang dikirimkan kepada mereka itu pada akhirnya membawa mereka menemui “bibi” mereka, Laura Welman (sehingga bisa dibilang Roderick dan Elinor ini masih sepupu) yang sudah lama sakit keras, separuh karena simpati yang tulus dan separuhnya lagi karena harapan akan kepastian menerima warisan dari sang “bibi” meskipun hal itu terlalu “rendahan” untuk diakui. Sebabnya, karena sang “bibi” juga memiliki seorang lain yang sangat disayangi, seorang gadis muda yang sangat cantik bernama Mary Gerrard yang sudah lama diurus oleh sang “bibi” layaknya anak sendiri.

Well, intinya “drama” pun terjadi ketika selepas pertemuan pertama yang tidak disengaja, Roderick langsung jatuh hati pada pesona Mary Gerrard. Elinor yang sebenarnya sangat mencintai Roderick meski tak pernah membiarkan rasa cintanya terlalu menggebu bagi Roderick pun diam-diam terluka karena mengetahui hal itu, pity her, but nothing that she can do. Dia tidak bisa membenci Roderick, dia juga tidak bisa membenci Mary yang juga sama-sama sudah dikenalnya sejak kecil, Mary yang sangat cantik dan baik hati. Namun di sisi lain, tetap saja Elinor diam-diam memendam sakit hatinya, diam-diam membayangkan seandainya saja Mary Gerrard tidak lagi ada



That may be the drama, tapi awal dari misteri pun dimulai ketika sang “bibi” telah tiada akibat pemberian morfin dalam tidurnya, yang diberikan bukan dalam pengawasan sang dokter, Peter Lord. Sementara di sisi lain, kedua suster yang merawat sang “bibi” diresahkan oleh sebotol morfin yang hilang… Namun toh bukannya memang sang “bibi” sudah tak punya banyak waktu lagi? Meski begitu, singkatnya, Elinor pun menerima warisan sangat besar dari sang “bibi” sesuai yang sudah tertera di surat wasiatnya. Pertunangan dengan Roderick pun dibatalkan, intinya Elinor ingin memberikan jeda bagi Roderick untuk memutuskan saja perasaannya dengan sebaik-baiknya tanpa pengaruh ataupun tekanan.

Namun misteri benar-benar dimulai ketika Mary Gerrard terbunuh akibat morfin yang meracuninya, dan dengan begitu cocoknya dengan motif, kesempatan dan hal-hal lain – Elinor harus menerima tuduhan sebagai pembunuh Mary Gerrard. Ya, semuanya nampak cocok… namun ada satu orang yang benar-benar keberatan akan tuduhan itu, sehingga meminta pertolongan Hercule Poirot untuk membebaskan Elinor, tapi bukankah Hercule Poirot hanya akan menemukan kebenarannya? Jadi, apakah kebenarannya? Eaa, eaa… *PLAK*

Yah, ini adalah review novel Agatha Christie dengan penampilan salah satu tokoh detektifnya Hercule Poirot – yang pertama saya tulis di sini 8’D sudah beberapa lagi yang sudah saya baca, sih, tapi biarlah saya mulai dengan ini karena ceritanya meskipun sama-sama memberikan penyelesaian yang tak terduga – memiliki atmosfer yang sedih, hiks. Maksudnya, dengan segala hal yang harus terjadi di antara Elinor, Roderick, dan Mary yang notabene juga teman sepermainan sejak kecil… sangat heartbreaking saja harus melihat gimana Elinor harus terluka hatinya, apalagi Mary yang harus terbunuh…

Nah, aside for that sentimental thing, penyelidikan Hercule Poirot dalam novel ini sangat sangat “mengikat” untuk terus diikuti, sangat membuat penasaran karena banyak sekali harus ditemukan kenyataan yang tidak menyisakan orang lain selain Elinor, tapi begitukah? Sebagai pembacanya jujur saja saya jadi merasa berhasil “dipermainkan” oleh unsur feel di novel ini karena sudah terlanjur diliputi perasaan kasihan pada Elinor sehingga sebenarnya tidak ingin mendapati kalau Elinor-lah pembunuhnya, nah akhirnya dibuat “gemas” saja karena selama penyelidikan, pada akhirnya pasti buntu lagi ke Elinor… tapi diam-diam juga bertanya-tanya apa jangan-jangan juga ternyata apa yang tidak ingin diakui benar itu ternyata memang kebenarannya? NAH LHO =)) Yah beginilah kalau membaca novelnya Agatha Christie xDDb Silakan pintar-pintarlah menggunakan sel-sel kelabu kecilmu :3 or just enjoy the thrills like I always did =))

Penggambaran bagaimana hampir tidak ada orang yang bisa percaya bahwa Mary terbunuh pun menambah atmosfir heartbreaking novel ini, tapi sesuai dengan yang dikatakan juga di novelnya – namun Mary Gerrard sudah mati… tsah! Balik lagi ke soal-soal sentimentilnya hehehe. Intinya tentu saja pada akhirnya Hercule Poirot pun berhasil mengungkap semua kebohongan-kebohongan dan kejanggalan-kejanggalan sehingga yang terlihat pun hanyalah kebenarannya (: dan begitupula dengan yang terjadi pada tokoh yang terlibat di novel ini (: Jangan lupa untuk siapkan diri juga pada kejutan-kejutannya A___A

Sebagai penutup, saya ingin menyertakan satu perkataan bijak Hercule Poirot yang dikatakan di sini untuk menjadi semacam “jaminan” titik terang despite dari tema kasus di Sad Cypress dengan segala kesentimentalan soal Elinor/Roderick/Mary yang terasa seperti yang sudah saya ucapkan =))
”Tak bisakah kau menerima fakta-fakta? Dia mencintai Roderick Welman. Tapi apakah artinya itu? Dengan kau, dia bisa berbahagia…"

Penasaran? Go go go read it, folks 8D

PS: Cerita ini saking "njleb"nya dirasakan bagi saya membuat saya menulis analisis salah satu karakternya, Elinor Carlisle, yang membuat saya simpati sekali padanya melihat "kiprah" nya sepanjang cerita. Silakan baca di sini, Can a Rose Bleed by it's Thorn?

You May Also Like

2 comments

  1. Yang bikin saya tambah amaze sama buku ini adalah, karena meskipun judul terjemahannya spoiler abis tapi saya masih bisa kena twistnya XD. Nice review (y)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eh... iya juga ya kak? Saya gak begitu nyadar malahan xD tapi emang serem juga kebenaran kasusnya, kasian banget mary gerrard nya harus dibunuh gitu u u terima kasih sudah mampir kak :D

      Delete