Penerbit: Mizan Fantasi
"Genre": Mythology, Awesomeness, Fantasy, Children
Edisi: Paperback, bahasa Indonesia
Leo mengangkat bahu. "Perkara masa depan. Tidak perlu dirisaukan."
Sebagai mantan Dewa Ramalan, aku selalu menganggap masa depan sebagai sumber kerisauan tak berkesudahan. Namun, kuputuskan untuk tidak mendesak lebih lanjut. Saat ini, satu-satunya target penting untuk masa depan adalah mengembalikanku ke Gunung Olympus supaya dunia bisa kembali menikmati kegemilanganku. Aku harus mengutamakan kemaslahatan bersama.
(hlm. 247)
Setelah berhasil mengamankan Oracle kuno pertama yaitu Hutan Dodona di buku pertama "The Hidden Oracle"; cobaan lain yang lebih spektakuler tentunya masih menanti sang mantan dewa tokoh utama kesayangan kita, Apollo alias Lester Papadopolous. Mengingat bahwa menyongsong semua cobaan spektakuler itu adalah cara bagi sang mantan dewa agar bisa memperoleh kembali kejayaan dewatanya, maka berangkatlah Apollo, kali ini ditemani Leo Valdez sang putra Hephaestus yang mengendalikan dan tahan api, serta mantan penyihir putri Titan Atlas, Calypso. Ketiganya bersama dengan Festus si naga perunggu peliharaan Leo pergi ke Indianapolis untuk menyambangi Oracle kuno kedua, Gua Trophonius yang terkenal karena biasa mengambil kewarasan para penanya ramalannya. Ancaman yang mengintai Apollo kali ini juga bukan main-main, dan untuk mengamankan kembali Oracle sumber ramalan kuno tidak segampang itu karena besarnya ancaman pihak musuh. Ada sosok dari masa lalunya yang tidak hanya terkenal kuat dan bengis, namun juga merasa telah dikhianati olehnya dan menyimpan dendam. Pasukan monster dan abdi-abdi jahat akan menghadang langkah sang mantan dewa. Bagaimana kali ini Apollo yang minim kekuatan dewata dan hanya berbekal ukulele serta anak panah tukang ngoceh dari batang pohon Dodona menghadapinya?
