Green, John. THE FAULT IN OUR STARS...or theirs',

by - Wednesday, October 30, 2013



I know that there's so many sparks lighted caused by this book so that I assume there's not quite an obligation for me to explain the storyline since you, readers, can found it elsewhere easily. Like, seriously, easily. Even better, you can find the more appropriate reviews elsewhere, like, easily, though. What I'm going to write here are maybe not quite a review because I think it will discusses things around the main character of this book, Hazel Grace and his boyfriend Augustus Waters; and that apparently, discussing them can not be separated from discussing their stories that is also being the story of this book. Especially because this book use a 1st person POV (point of view) of Hazel in its tellings. Do you find this mindblowing? Nevermind what I'm saying, let's just start.

Hold a second, I'm going to switch language here. Tee-hee.

Baru saja dua hari lepas Sumpah Pemuda, kan? ...dan apa bahasa persatuannya? Bahasa Indonesia. Cukup adil. A-ha.

Saya cukup membutuhkan satu hari ternyata, untuk menamatkan membaca buku ini. Rasanya sebabnya adalah karena mengikuti sudut pandang Hazel yang disajikan Mr. Green dalam buku ini terasa cozy dan asik dengan cara pikir dan pendapat- pendapat Hazel yang cerdas, lucu, mungkin sedikit sarkas. Saya rasa Mr. Green sangat mampu membangun kekuatan Hazel sebagai pribadi yang tidak hanya mengantarkan bagaimana ceritanya terjadi atas dirinya, tapi juga mengenai bagaimana dirinya (Hazel) atas ceritanya. Saya jadi merasa ingin bisa ngobrol dengan sosok seperti Hazel, hehe. Hm, tapi rasanya sebabnya juga tidak lepas dari gimana "persuasi" sang pemilik asli salinan TFIOS yang saya baca, Sany, kasih mengenai kecemerlangan ceritanya. Haha. Makasih ya san :*



Sekali lagi, buat saya kesan "kepribadian" Hazel itu sangat terasa ketika saya membaca buku ini. Hazel tidak terasa seperti "tokoh fiksi", meskipun Mr. Green sendiri bilang kalau cerita dalam buku TFIOS ini adalah fiksi dan sebaiknya kita (pembaca) tidak perlu (bukan kutipan persis, omong-omong) mencari kaitannya dengan kenyataan. Hazel terasa seperti seorang pribadi yang memang tidak mungkin sama dengan orang lain, sebagaimana memang setiap orang akan berbeda-beda. Jadi, terlepas dari gimana dengan kondisinya sebagai penderita kanker, saya rasa sosok Hazel yang tergambar dalam penarasian orang pertama buku ini ya merupakan sesuatu yang "wajar" saja seperti kita dapat memandang orang lain dengan wajar karena orang lain itu juga punya pikiran, perasaan, dan pandangan sendiri. Sehingga bukan masalah bagi saya apakah sosok Hazel sebagai-penderita-kanker dengan pandangan yang dimilikinya itu adalah sosok yang "ah-masak-beneran-ada- gitu" karena, well, saya merasa bisa merasakan "keunikan pribadi sebagai individu" dalam penggambaran Mr. Green di buku ini.

Dengan Augustus, well, this is that kind of guy that you wish upon a star...
"Kau benar-benar memukau ibuku."
"Ya, dan ayahmu penggemar Smits. Itu membantu. Menurutmu mereka menyukaiku?"
"Pasti. Tapi, peduli amat. Mereka hanya orangtua."
"Mereka orangtua-mu," kata Augustus seraya melirikku. "Lagi pula, aku suka disukai. Gilakah itu?"
Awoy awoy the kind of guy who cares about your parents despite its possible narcissm aspects of caring, in this cute, it is, still, ...no words for that Haha saya sebenarnya tidak bisa berkomentar secara "yakin" mengenai ke- manusiawiannya (dalam batas fiksi) karena sosok Augustus itu diceritakan dalam pandangan Hazel. Sebagai orang yang kesengsem, ya, jadinya mungkin Hazel seolah melihat hampir segalanya dari Augustus itu seakan sempurna dan sekseh sehingga notabene sebagai pembaca pun saya jadi begitu saja "setuju". Seakan-akan, kita percaya begitu saja pada gimana pandangan Hazel mengenai Augustus. Demikian larut dan terlenanya saya ikut hanyut pada keterbuaian yang dialami Hazel terhadap Augustus sehingga twistnya yang kemudian hadir pun juga sangat terasa. Augustus jadi tidak hanya "meyakinkan" Hazel, tapi juga meyakinkan saya sebagai pembacanya.

Interaksi keduanya (Hazel dan Augustus) seakan diproyeksikan secara wajar dan "sungguhan" dalam buku ini, karena dituturkan Hazel, dari halaman satu ke halaman berikut dalam kewajaran berkat "proses berpikir" atau proses "nalar" Hazel terhadap sensasi (?) yang didapatnya dari setiap waktu dan pengalaman dengan Augustus. Rasanya nggak picisan untuk mengikuti gimana setiap waktu perasaan Hazel semakin kuat pada Augustus u u. Semua rasanya bisa diikuti pembaca secara "nyaman" (dalam hal ini, secara sempit ya saya #...). Mungkin itu juga sih, ya, yang pada akhirnya pembaca juga sampai bisa terlibat secara mendalam dengan kesedihan Hazel (waduh hampir spoiler kayaknya) berkaitan dengan Augustus.

Saya pun bukan pengecualian, saya juga merasakan emosi kesedihan yang disebabkan oleh bagaimana buku ini berjalan (ceritanya, btw) meskipun saya gak sampai tersedu-sedu karena thank God, Mr. Green juga pintar membuat saya sebagai pembaca tertawa ikhlas (apacoba) dengan aspek humor yang selalu ada dari pikiran, tingkah, ucapan Hazel sendiri atau dalam interaksinya dengan tokoh lain, terutama dengan Augustus serta sahabatnya, Isaac. *puk puk Isaac karena jadi kayak dicuekin dalam postingan ini padahal pemerannya ganteng #...*

Keterlibatan saya sebagai pembaca dengan sudut pandang Hazel juga tidak terbatas hanya soal Hazel dan Augustus, tapi juga soal lainnya seperti mengenai kondisinya sebagai seorang penderita kanker, atau mengenai Hazel sebagai orangtua, remaja yang punya sesuatu (dan atau seseorang) yang "diobsesikan", juga seorang anak. Ah, rasanya juga nyess banget baca gimana kuatnya orangtuanya Hazel, dan gimana mereka bisa ngertiin Hazel dengan tabah juga T T duh.
Mum meraih Bluie dari rak dan memeluknya di perut, sedangkan Dad duduk di kursi, dan berkata tanpa menangis, "Kau bukan granat. Bagi kami bukan. Memikirkan kau sekarat membuat kami sedih, Hazel, tapi kau bukan granat. Kau menakjubkan. Kau tidak mungkin tahu, Sayang, karena kau tidak pernah punya bayi yang menjadi pembaca muda cerdas, yang punya minat-sampingan pada pada acara- acara televisi mengerikan, tapi kegembiraan yang kau bawa untuk kami jauh lebih besar dari kesedihan yang kami rasakan karena penyakitmu."
Tidak ada sesuatu yang sempurna dan begitupula dengan Hazel dan Augustus, serta barangkali juga cerita mereka. Beberapa sisi yang "flaw" dari Hazel tentu bisa dirasakan secara otomatis mengingat penggunaan sudut pandang orang pertama, tapi meskipun dari nampaknya Augustus itu terasa aw aw sempurna di mata Hazel (dan otomatis di mata saya pembaca), seiring cerita dan konflik muncul juga akhirnya terkuak juga saat ketika saya sebagai pembaca jadi ikut merasa "gemas" pada gimana bersikerasnya Augustus berharap untuk menjadi orang yang tidak akan dilupakan karena hal-hal besar.
"Kau bilang kau tidak istimewa karena dunia tidak mengenalmu, tapi itu berarti penghinaan untukku. Aku mengenalmu."
Meskipun demikian memang adanya, saya juga tetap bisa memahami keinginan Augustus itu :''' (hiqs).

Aduh, jadinya merupakan suatu hal yang berkesan banget bisa mengikuti "perjalanan hati" (....) Hazel dan Augustus yang terasa manis dan ughu sekali. Melihat bagaimana mereka seperti saling mendukung satu sama lain dan mengisi satu sama lain... gimana mereka secara perlahan mengenal satu sama lain, dari saling berbagi soal pengalaman dan kenangan terdahulu sampai menciptakan pengalaman dan kenangan bersama. Saya bener-bener secara tulus (...) menikmati dan ikut senang pada tidbits-tidbits percakapan dan interaksi Hazel dan Augustus yang sukses juga mendukung sosok Augustus yang one of a kind sekali ><
Ponselku bergetar. Sms dari Augustus.

TIDAK BISA memutuskan harus pakai apa. Kau lebih suka aku memakai kaus polo atau kemeja?

Aku menjawab:

Kemeja.
*permisi ngajak Hazel tos secara metaforis* >> something that the reader's of this book will understand, haha. Nggak juga deng, Intinya? Simpel, manis, unyu. T T #UDAH

Sampai cerita dalam buku berakhir, rasanya saya jadi nggak bisa memutuskan, gitu, mengenai apa sih tepatnya yang saya bener-bener tangkep dari buku ini saking banyaknya pemikiran-pemikiran dari tiap tokohnya yang dibagikan ke pembaca, soal macem-macem hal juga. Dari cinta, rasa takut, harapan, sampai ke soal keberadaan dan alam semesta. Beuuuh nggak sih but well that is, folks. Apalagi mengingat dari gimana mayoritas pemikiran-pemikiran yang didapat dari buku ini adalah dari sudut pandang (fiksional) tokoh-tokoh dengan kanker, kayaknya kapasitas berpikir dengan lebih dalam juga semacam efek sampingnya :'
Aku teringat betapa Ayah mengatakan bahwa alam semesta ingin diperhatikan. Namun, yang kita inginkan justru diperhatikan oleh alam semesta. Kita ingin dunia peduli dengan apa yang terjadi pada kita — bukan kepedulian terhadap manusia pada umumnya, tetapi kepedulian secara pribadi. Kepedulian terhadap masing-masing dari kita.
Saya sendiri tidak termasuk golongan yang berinteraksi dekat dengan mereka yang berkondisi sehubungan dengan kanker (baik penderitanya sendiri atau keluarga), namun membaca buku ini juga seperti menyajikan satu sudut pandang tersendiri, seakan saya bisa mencoba lebih "memahami", meskipun secara metaforis. #HALAHH Tentu mungkin kenyataan sesungguhnya (karena sekali lagi cerita ini fiksi) memiliki cerita yang lebih beragam dan berbeda, tapi saya merasa senang bisa membaca satu cerita yang ini. Ternyata setelah dipikir-pikir (atau dibaca-baca lagi) cerita ini bukan hanya soal Hazel dan Augustus :')

Some stories are indeed, written in the stars.

You May Also Like

5 comments

  1. Ah, Augustus memang tokoh yang bikin saya klepek-klepek. Cara dia mencintai, cara dia menghadapi tantangan hidup, dan bahkan cara dia menerima yang ditawarkan oleh kehidupan padanya.

    Saya sukses dibuat terharu oleh buku ini (>_<)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga >< #lha
      Muchas amore buat Augustus, juga buat cintanya dengan Hazel :''')

      Delete
  2. Saya juga jatuh cinta sama pasangan Hazel-Gus :D
    Saya rasa kisah cinta mereka tuh romantis banget! Padahal sama-sama memiliki kekurangan padahal sama-sama diambang kematian (Karena sama-sama sakit kan) Tapi dua-duanya berusaha saling mengautkan :")
    Saya pun nggak sampe nangis sih baca ini buku cuma berkaca-kaca aja matanya... Ada saat dimana kebersamaan mereka di Belanda dan itu tuh so sweet banget. Dugaan saya ternyata sempat meleset soal siapa yang akan meninggal duluan, ah tapi tetep ngerasa diaduk-aduk sih perasaannya pas dari bagian tengah menuju ending :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setujuuu >< saya suka banget gimana "kisah cinta" mereka terasa gak picisan tapi tetep gak kehilangan "kesan" fun yg notabene mereka juga masih remaja dlsb. sehingga gak terasa menye-menye juga =')) iya, sewaktu mereka di Belanda emang ughu sekali :'') yup yup, prokprokprok juga sih buat om john yang bikin cerita mereka :'''

      terima kasih ya^^

      Delete