Friday, April 18, 2014

Green, John. AN ABUNDANCE OF KATHERINES.

When it comes to girls (and in Colin's case, it often did), everyone has a type. Colin Singleton's type was not physical but linguistic: he like Katherines. And not Katies or Kats or Kitties or Cathys or Rynns or Trinas or Kays or Kates or, God forbid, Catherines. K-A-T-H-E-R-I-N-E-S. He had dated nineeteen girls. All of them had been named Katherine. And all of them - every single solitary one - had dumped him.

Penerbit: PENGUIN Group
Tahun terbit: 2011
Edisi: E-book (.epub), bahasa Inggris
"Genre": Young-Adult, Love, Contemplative, Interesting 'Premise'
Get an Indonesian-translated copy of this book!
Ceritanya mungkin saja saya memang lumayan "ngebet" baca buku-bukunya John Green setelah The Fault in Our Stars dan Paper Towns xD Entah bagaimana saya suka sama quirks dari karakter-karakter dari novel om John yang pernah saya baca sejauh ini dan ingin melihat bagaimana variasinya xD Soalnya menurut saya om John cukup bisa mengambil tema-tema yang unik untuk dijadikan cerita young-adult.

Untuk buku An Abundance of Katherines ini (mungkin terjemahannya: "Terlalu Banyak Katherine"? xD), kita akan menemui Colin Singleton, seorang anak prodigy yang bukan jenius (satu hal baru yang saya tahu dari membaca buku ini #...) dan sudah sembilan belas kali patah hati karena perempuan yang semuanya bernama Katherine. Patah hati berkali-kali sudah cukup buruk, menambah "kegundahan" Colin sendiri karena dirinya yang seorang prodigy "tidak-bisa" menjadi jenius dan menjadi orang yang "sesuatu" (#...), meskipun Colin tahu banyaak pengetahuan umum, pintar membuat anagram (semacam membuat kata baru dari pengacakan huruf suatu kata), dan bisa bicara sekitar sebelas bahasa, tapi toh, rasanya tetap saja.

"The problem exactly is that she dumped me. That I'm alone. Oh My God, I'm alone again. And not only that, but I'm a total failure in case you haven't noticed. I'm washed up, I'm former. Formerly boyfriend of Katherine XIX. Formerly a prodigy. Formerly full of potential. Currently full of s*it."
...
Prodigies can very quickly learn what other people have already figured out; geniuses discovered that which no one has ever previously discovered. Prodigies learn; geniuses do. The vast majority of child prodigies don't become adult geniuses. Colin was almost certain that he was among that unfortunate majority. 


Perjalanan road-trip nya dengan sobat terdekatnya, Hassan (and he is a Sunni Moslem like he said but still it is interesting^^), akhirnya membawa mereka ke sebuah kota kecil di Tennesse (duh gak tahu ejaannya males cek lol), bernama Gutshot, tempat mereka bertemu dengan Lindsey Lee Wells, putri pemilik pabrik besar di kota tersebut yang memberi Colin dan Hassan pekerjaan musim-panas yang tak-terduga. Di Gutshot pula, Colin mencetuskan gagasannya untuk membuat atau menciptakan sebuah teorema yang akan dapat "memprediksikan akhir suatu hubungan laki-laki dan perempuan".

"Because relationship are so predictable, right? Well, I'm finding a way to predict them. Take any two people, and even if they've never met each other, the formula will show who's going to break up with whom if they ever date, and approximately how long the relationship will last."

Kisah pun berlanjut dengan hari-hari Colin, Hassan, dan Lindsey - dengan Colin yang berusaha menyempurnakan teoremanya untuk membuktikan bahwa ia bisa "berarti", meskipun pertemuannya dengan Lindsey Lee Wells membuat Colin jadi mengetahui bagaimana seseorang bisa juga justru ingin selalu aman di bawah radar, dengan menyesuaikan diri menjadi diri yang sesuai dengan orang-orang, seperti yang selama ini Lindsey sudah lakukan. Begitupula dengan berkembangnya interaksi Colin dan Hassan, dua sahabat yang sebenarnya "berbeda", pendapat mereka seringkali nampak bertentangan, dan keduanya juga bisa saling sebal pada satu sama lain. Hal itu juga membuat Colin memikirkan tentang diri dan "hidupnya" selain tentang teoremanya.

Salah satu kekurangan yang saya rasakan dari membaca buku ini adalah ketidakmampuan saya untuk benar-benar bisa membayangkan kegalauan Colin tentang kesembilan-belas Katherine nya, karena perjalanan Colin dengan para Katehrinenya diceritakan dalam sisip-sisipan di tengah cerita yang beralur maju sejak Colin dalam masa patah hati karena sudah diputus sama Katherine ke sembilan belas xD. Meskipun demikian, saya mendapati bahwa persoalan "ingin menjadi berarti" yang melingkupi dan berusaha diatasi oleh Colin dengan teorema nya ternyata cukup menarik untuk diikuti. Ke-dork-y-ness an Colin sebagai anak prodigy yang suka dengan fakta-fakta unik yang gak penting bagi orang lain (LOL pukpuk Col) dan kepiawaiannya membuat anagram yang cukup banyak didemonstrasikan dalam cerita juga saya nikmati dengan baik, dan Colin dalam sisi itu - yang tidak sedang galau karena Katherine dan menjadi berarti sebenarnya cukup adorable lho ;))

Saya juga menyukai dinamika (?) yang terjadi di antara persahabatan Colin dan Hassan, gimana mereka tentunya sempat mengalami pertengkaran, dan sebenarnya lucu melihat gimana mereka bisa sobatan, dengan Colin yang secara teknis tidak religius dan Hassan yang religius dan suka "mengatai" Colin karena hal tersebut (note: pembahasan soal religiusitas tokoh dan interaksi mereka ini hanya dalam konteks cerita yang tertulis di bukunya sendiri dan bagaimana saya membacanya sebagai pembaca belaka) tapi saya suka sama peran Hassan dalam "membuka mata" Colin mengenai kegundahannya selama ini xD.

"I don't really know how," he said. "How do you just stop being terrified of getting left behind and ending up by yourself forever and not meaning anything to the world?"
"You're pretty fugging smart," Hassan answered. "I'm sure you can figure something out."   

Lol, saya selalu suka aja sama cara om John menggambarkan "interaksi antar remaja" di novelnya; soal banyak swearing atau apa, menurut saya itu balik ke konteks novelnya aja sih ya xD. Kalau Anda menyadari kata "fugging"nya yang nampak gak wajar (?), "asal mula" mengapa Colin dan Hassan menyebut the f word dengan cara seperti itu (?) juga bisa disimak dalam cerita ini dan merupakan salah satu poin menarik lain x)). Buku ini banyak memuat "keterangan tambahan" di footnotesnya, cuma tidak terlalu banyak saya ikutin karena di versi ebook yang saya baca keterangan-keterangannya semuanya diletakkan di bagian belakang buku dan merepotkan untuk dicek satu-satu x)), tapi secara keseluruhan tidak banyak "hal yang hilang" kok kalau tidak terlalu menyimak footnotesnya.

Cerita yang berlangsung terhitung cukup "cepat" dalam buku yang tidak terlalu tebal, saya rasa karena memang sudah mencukupi untuk membahas mengenai "perjalanan" Colin dengan teorema dan kegundahannya untuk menjadi "mattering to the world" yang kemudian "disesuaikan kembali" dengan hal-hal yang terjadi saat Colin dan Hassan menghabiskan waktu di Gutshot bareng Lindsey xD. Dua pandangan yang bertentangan dari Colin dan Lindsey tentang bagaimana-diri-sendiri-pada-dunia dipertemukan dan berkembang dalam interaksi yang bermakna juga, mengingatkan saya pada gimana om John bisa mengolah tema-tema "kontemplatif" dalam novel remaja seperti dalam Paper Towns. Bahwa terlepas ada kalanya keinginan untuk menjadi "berarti saja" malah justru membuat kita terlalu berpusat ke diri kita sendiri, daripada melakukan sesuatu untuk hal-hal yang memang berarti bagi kita :''').

"I was thinking about your mattering business. I feel like, like, how you matter is defined by the things that matter to you. You matter as much as the things that matter to you do. And I got so backwards, trying to make myself matter to him. All this time, there were real things to care about: real, good people who care about me, and this place. You just get caught in being something, being special or cool or whatever, to the point where you don't even need to know why you need it, you just think you do."

Pembahasan tentang teoremanya memang menuntut pemahaman matematis, sih, tapi buat saya bukan masalah besar asalkan gambaran besarnya tentang maksud teoremanya seperti apa bisa dimengerti - lagipula juga ada bagian appendix yang menjelaskan lebih detil tentang teoremanya di bagian akhir jika masih penasaran xD. Persoalan tentang jitu-tidaknya teoremanya Colin juga menjadi menarik karena mengungkap persoalan tentang masa lalu dan masa depan, lalu membuat Colin bisa menimbang ulang dan "mengambil hikmah"nya^^. 

"And the moral of the story is that you don't remember what happened. What you remember becomes what happened."
...
The past, like Lindsey had told him, is a logical story. It's the sense of what happened. But since it is not yet remembered, the future need not make any fugging sense at all.
This review is submitted for Books in English Reading Challenge 2014       

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Back to Top