Wednesday, February 26, 2014

Elyta, Riawani. Setiap Tempat Punya Cerita FIRST TIME IN BEIJING

Rasanya seperti melihat sebuah keajaiban, setelah segenap harapanku untuk menemuinya kembali telah kusingkirkan sejauh-jauhnya.

Tahun terbit: 2013
Penerbit: Bukune
Edisi: Paperback, cetakan pertama, bahasa Indonesia
"Genre": Abroad-setting, Love, Culinaire
Terima kasih buat kak Yuska lagi karena saya bisa punya buku ini tanpa beli hasil event STPCnya tempoh dulu^^...but you can have your own copy as well here!

Nostalgia kisah cinta semusim lalu bagi Lisa dimulai sejak kedatangan pertamanya ke Beijing, membawa rasa duka yang atas ketiadaan ibunya yang masih belum sepenuhnya pergi. Namun keluarga ayahnya yang baru di Beijing telah menunggunya, setelah sekian lama Lisa tak pernah lagi bertemu ayahnya akibat perceraian antara ayah dan ibunya.

Tidak mudah memulai hidup yang "baru" di Beijing bersama keluarga "baru" yang masih terasa asing baginya, tapi juga tidak disangka oleh Lisa bahwa ia diharapkan untuk sebuah tanggung jawab besar. Ayah lisa mengharapkan Lisa dapat meneruskan eksistensi Restoran Shan yang telah sedari dulu dikelola ayahnya. Lisa otomatis diharapkan untuk bisa memasak dengan baik; mengurus dapur, padahal selama ini Lisa tidak pernah diajari memasak.

Suasana "asing" yang dirasakan Lisa berhasil dinarasikan dengan atmosfir yang "terasa" - sendu tapi hangat, sepertinya gaya menulis kak Riawani cocok sekali untuk menggambarkan perasaan Lisa. Sebagai pembaca, saya cukup dapat membayangkan posisi Lisa yang berada di negeri asing, di tengah keluarga asing meskipun itu keluarga ayahnya sendiri. Bahkan dengan ayahnya sendiri terasa asing, canggung, dan "kaku" setelah lamanya mereka tidak pernah bertemu.

Meskipun memang ingin bisa memasak, "keharusan" Lisa untuk belajar memasak mengikuti "arahan" ayahnya terasa lebih berat karena harapan yang ditumpukan ayahnya, padahal diam-diam Lisa memendam keinginan untuk melanjutkan studi di perguruan tinggi. Namun Lisa tidak punya banyak pilihan, ia adalah satu-satunya yang bisa diharapkan untuk meneruskan Restoran Shan.

"Keyakinanku dan keinginanmu. Itu sudah cukup. Tinggal lagi bagaimana kamu membuktikan bahwa kamu benar-benar ingin belajar."

Kerja keras Lisa untuk dapat belajar memasak dengan baik memang tidak mudah, namun Lisa ternyata memiliki keinginan yang kuat serta dukungan yang ternyata cukup didapatnya, terutama dengan keberadaan Daniel, salah satu koki "senior" di restoran ayahnya. Perlu dicatat di sini bahwa buat saya karakter Lisa juga cukup berhasil digambarkan kualitas-kualitas ketekunan dan kerja kerasnya oleh kak Riawani, sehingga karakter Lisa pun terasa cukup kuat juga kesannya dibandingkan dengan tokoh utama perempuan lain yang pernah saya baca dan saya ingat waktu lagi baca #... Otomatis, ya, antara lain saya jadi membandingkan dengan karakter Aline di STPC Paris yang belum lama saya baca, dan saya jauh lebih suka karakter Lisa daripada Aline ;).

Kembali lagi dikatakan, sepertinya hal itu juga karena pengaruh gaya penulisan kak Riawani yang sendu-sendu-hangat bak teh Oolong #apa untuk menggambarkan sudut pandang orang pertama dari Lisa yang karakternya juga emang semacam-lembut-hati. Namun demikian meskipun sebenarnya dia menghadapi tantangan cukup berat, dalam sosok Lisa masih tetap punya optimisme yang juga "hangat" sehingga buat saya tidak terasa lebay mengikuti sudut pandang Lisa^^. 

Aku percaya, impian adalah wujud prasangka manusia terhadap Tuhan. Suatu hari nanti, Tuhan pasti akan mendekatkan kita pada impian itu, sepanjang kita pun berusaha keras untuk meraihnya.

...tuh, kalimatnya ughu ya^^ Nah, tapi agak disayangkan bahwa rasanya "pas"nya kesan Lisa di sini seperti dibayar dengan "kekuatan" karakter utama lainnya yang lama-lama terasa "kabur" di sepanjang cerita. Daniel yang memang diceritakan bukan jenis yang "eksplisit" tentang maksud dan isi hatinya meskipun punya kualitas yang bisa "menolong" Lisa berjuang di dapur akhirnya terasa "kurang" porsi "insight"nya untuk membuat pembaca paham soal "siapa dirinya".

Begitu pula dengan sosok tokoh Alex, yang ditemui Lisa di restoran karena Alex adalah pemandu wisata asal Indonesia yang masih punya ijin tinggal di Beijing - meskipun punya kesan "santai-humoris" dan merupakan orang yang "berjasa" mengajak Lisa jalan-jalan di Beijing selain di dapur, akhirnya juga perannya di dalam cerita terasa kurang maksimal buat saya untuk membuat "dinamika".

On the fangirling note, tho, soal kedua cowok ini, I ENVY LISA DUDE AND I'D LIKE TO REPLACE THE L IN HER NAME WITH R so it become Risa #direbus =)) Saya sukaa sama penggambaran sikap Daniel dan Alex yang sama-sama kasih kesan yang "enak" buat Lisa dengan cara masing-masing. 

Setelah sekian lama meninggalkan tanah kelahiranku, baru sekarang kutemukan kembali kehangatan dan keceriaan sebuah hubungan persahabatan yang berlangsung dalam setiap detak hari. Tentu aku juga tak menganggap sepi persahabatanku dengan Alex. Namun Alex adalah sebuah situasi berbeda. Kehadirannya hanya sesekali, belakangan juga sudah mulai kian jarang. Tapi, ia ibarat kembang api yang mampu membuat suasana hatiku jadi lebih semarak setiap kali ia ada.

Meski demikian, menurut saya di sinilah sudut pandang orang pertama jadi memberikan sedikit "hambatan" karena dinamika "kisah cinta" yang disajikan "hanya" lewat sudut pandang Lisa, yang ternyata, ehem, buat saya memiliki semacam-kekurangan berupa entah-polos-atau-nggak-ngeh, tapi-gak-nyadar-kalau-ada-dua-cowok-yang-sebenernya-potensial-suka-sama-dia-lebih lol. Dampaknya saya jadi gemes-gemes geli kalau ngebaca gimana Lisa menanggapi momen-momen dengan salah satu atau dua pilih aku atau dia cowok itu dengan segala charmnya bagi Lisa dengan "keluguan" yang membuat saya pengen nampol terus bilang "NENG PLIS DEH GAK NYADAR APA"... Yasudahlah. Saya masih punya Luhan, dia kan juga dari Beijing #LHO


Nah, makanya begitulah, "gimana" sebenarnya Daniel dan Alex pada akhirnya jadi terasa kurang maksimal dan kurang memuaskan buat saya, meskipun kalau dilihat secara global, konflik romannya sudah tertutur rapi dan gak membosankan ataupun lebay dengan memertimbangkan fakta sotoy bahwa sebenarnya konfliknya tidak "baru". Sekali lagi aplaus deh untuk penulisan kak Riawani^^

Tambahan rada minor, "kurang terungkapnya dinamika personal karakter" ((ealah istilah awak ini apa)) sebenarnya tidak hanya terjadi pada Daniel dan Alex, tapi juga pada tokoh "antagonis" atau "rivalry" Lisa yang terasa masih dua-dimensional atau paper people (ihik, seneng bisa nyadur istilah-hasil-baca John Green #...). Soalnya saya termasuk orang yang berharap pada "unsur abu-abu pada karakter antagonis", sih.

Pada akhirnya dalam cerita ini, saya masih ingin bisa "memahami" karakter-karakter selain Lisa dengan harapan dan dugaan dan ekspektasi kalau harusnya ceritanya masih bisa diakhiri dengan lebih banyak "pengertian" dari penulis (?) tentang tokoh-tokohnya yang berperan di sana, pada pembaca karena entah bagaimana ending konflik romensnya terasa "sampai dengan sedikit terlalu cepat". Not that I am dissatisfied with the ending, in general.

Saya menduga hal itu mungkin terjadi karena porsi "perjuangan dapur" Lisa, yang menurut saya sukses menjadi "latar" yang gak tempelan dalam kisah di buku ini. Penggambaran kak Riawani soal lika-liku perjuangan dan kesibukan di restoran terasa memadai bagi saya dan ini bahkan melebihi ekspektasi saya (#...). Begitu juga dengan perkembangan penyesuaian Lisa dengan keluarga barunya di Beijing... Saya yang notabene punya soft spot sama interaksi antar-keluarga juga merasa terpuaskan dengan interaksi antar-keluarga-Lisa yang akhirnya bisa berkembang dari asing jadi hangat (?). Hha. Pertama kali membaca buku yang ditulis kak Riawani membuat saya ingin mencoba membaca kak Riawani yang lainnya^^

4 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Back to Top