A Book Is A Gift are Spelling Quote Freely for a Freebies

by - Tuesday, October 01, 2013

Hello October. Hello reader, and the viewer. Memilih quote sebenarnya agak sulit, apalagi kalau sebenarnya lebih suka me-refer pada suatu "momen" dalam buku tanpa benar-benar menitikkan pada suatu quote yang di sana "hanya" terasa sebagai bagian dari suatu hal yang lebih besar. Halah. Entah sudah sejak kapan saya membaca buku-buku yang gak bisa semuanya saya masukkan lagi reviewnya ke dalam blog yang masih unyu-unyu ini. Namun berhubung ada even ber-reward yang terkadang "memaksa" juga untuk menilik kembali apa yang sudah saya baca dan biasanya selama ini dijadikan suatu pengalaman yang bersifat "keseluruhan" bukan per-"bagian", saya akhirnya membuka-buka kembali ingatan dan kesan yang masih membekas, serta halaman-halaman buku yang sudah saya baca itu. Bismillah, coba lagi ikutan "freebies" Freebies The 13th #2 dari Kilas Buku yang sebenarnya masih sampai tanggal 10 Oktober, silakan yang mau tanggal cantik deadlinenya klik di sini.


Pilihan saya pun jatuh pada quote ini:
"Makhluk aneh dan monster bengis sudah sejak lama tidak lagi membuatku takut. Bahkan hanyalah manusia — dan kerabat dekat mereka, para Tetua dan Generasi Selanjutnya — yang selalu membuatku ngeri. Makhluk malang di sana hanya bertindak berdasarkan kebutuhan untuk bertahan hidup dan makan. Itu hakikat hidup mereka, membuat mereka mudah ditebak. Sebaliknya, manusia memiliki kemampuan untuk mengubah hakikat hidupnya. Manusia adalah satu-satunya binatang yang dapat menghancurkan dunia. Binatang buas hidup hanya untuk saat ini, sementara manusia memiliki kapasitas untuk hidup demi masa depan, untuk menyusun rencana bagi anak-cucu mereka, rencana yang membutuhkan waktu bertahun-tahun, berdekade-dekade, bahkan abad untuk menjadi matang."

(Niccolo Machiavelli, dalam The Warlock dari seri The Secrets of the Immortal Nicholas Flamel oleh Michael Scott, halaman 240)

Panjang, ya? Tenang, ini masih mau saya analisa. #JEGEEER Kalau tutup tab juga saya gak akan ngeh, sih ya.



What's so notable about this quote?

Tokoh (karakter) yang mengucapkan quote ini ceritanya adalah "manusia abadi" yang didasarkan pada tokoh sesungguhnya dengan nama yang sama. Entah benar abadi seperti diceritakan Mr. Scott di sini atau tidak, tapi Niccolo Machiavelli adalah karakter kesukaan saya di buku (atau seri) ini. Machiavelli dimunculkan sebagai antagonis, karena ceritanya merupakan abdi dari ras Tetua (yang dalam cerita merujuk pada figur-figur yang dikenal dalam mitologi sebagai dewa atau sebangsanya, begitu juga dengan yang disebut Generasi Selanjutnya) yang ingin menguasai bumi dan dipuja kembali sebagai Dewa para manusia. Namun seiring cerita terus berkembang, semakin lama karakter Machiavelli "berkembang" dan mengambil suatu keputusan besar karena (kalau kata saya) "kemanusiaannya" yang tetap bisa "berbicara" terlepas dari keabadian yang selama ini dimiliki.

I think one reason why I favorited Machiavelli in this book (or series) is that how as a character he is able to being "gray" - abu-abu, meskipun abadi dia tetap manusia dan tahu itu, meskipun arogan dan antagonis, dia menunjukkan adanya "nurani" - so that it makes him feels so realistic.

Quote ini saya ambil karena memunculkan "kekuatan" dari tokoh Machiavelli itu sendiri, selain dari kandungan kata-kata atau maksudnya. Karakter Machiavelli di cerita ini, sebagai seorang manusia abadi yang sudah menghimpun banyak pengalaman dan bertemu banyak hal, selamat dari banyak situasi karena kecemerlangan pikirannya dan kemampuannya; antara lain dalam membuat rencana dan menilai sesuatu... intinya banyak karakteristik Machiavelli yang saya kagumi dapat tersiratkan dengan baik dalam quote ini. Pada akhirnya dengan menjadi abadi dengan segala wow-wownya dia tetap bisa melihat suatu "kelebihan" dari manusia, atau "aspek manusia" dari Tetua dan Generasi Selanjutnya (dan bahkan dirinya sendiri) secara lebih jauh dari yang terlihat... tapi juga tetap memiliki sisi arogan. Iya kale, gak semua orang juga bisa enteng ngomong gak takut sama monster, kan?

Hal itu nyambung juga ke "maksud" dari quote ini yang "nyess" dan "jlebb" dalam suatu cara yang membuat mindblown bagi saya. Yep, dari booming soal vampir yang abadi dan sempurna dan seterusnya juga dari kisah-kisah film seperti Mortal Instruments (...ha) yang seolah membuat manusia itu ya... gitu, fana... gak bisa pakai sihir, ya gitunya yang kadang membuat berpikir "kenapa sih gak bisa semejik di film (atau buku) itu".

Quote ini seperti mengingatkan lagi soal "daya" sebesar apa yang kita miliki sebagai manusia "belaka", gitu lho. Meskipun pada awalnya terasa "berat", tapi memang benar 'kan kalau manusia bisa dan mampu untuk memiliki tujuan dalam hidup, bahwa hidup manusia itu gak hanya untuk makan doang tanpa hal lain yang lebih valuable dan manusia itu memang bisa mewujudkan, bahkan "mengubah" masa depannya. Seperti suatu penggalan dalam Al-Qur'an atau hadis bahwa Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubahnya.

Kita selalu bisa punya hakekat soal mengapa dan bagaimana dan untuk apa kita "ada" di dunia ini, yang bisa kita pilih dan tentukan. Waktu saat ini gak hanya berarti "saat ini" tapi juga berarti untuk "nanti" dan untuk masa depan. Bahwa terlepas dari apapun, nilai menjadi seorang manusia adalah seperti anugrah yang paling besar dan paling berat. >< Semua "terserah kita", bahwa at some point, we are not as powerless, as limited as we may think. So cheer up, tegakkan punggungmu dan kuatkan bahumu, jangan berkecil hati... and like said in The Perks of Being a Wallflower, we are infinite. :'''

You May Also Like

1 comments