Aliazalea, dkk. AUTUMN ONCE MORE.

by - Saturday, August 17, 2013

Cinta < adj >: suka sekali; sayang benar; kasih sekali; terpikat.

Ada bahagia dan kepedihan dalam cinta. Cinta yang terpendam menimbulkan resah, pengkhianatan pun tak lepas dari cinta, atau bahkan cinta berlebihan sehingga menyesakkan. Galau dan rindu pun dituturkan dalam ribuan kata di buku ini.

Autumn Once More membawa kita ke banyak sisi cinta dari kumpulan pengarang, mulai dari pengarang profesional hingga editor yang harus jadi pengarang “dadakan” dan menunjukkan kreativitas mereka dalam tema abadi sepanjang masa.

Inilah tumpahan rasa dan obsesi karya aliaZalea, Anastasia Aemilia, Christina Juzwar, Harriska Adiati, Hetih Rusli, Ika Natassa, Ilana Tan, Lea Agustina Citra, Meilia Kusumadewi, Nina Addison, Nina Andiana, Rosi L. Simamora, dan Shandy Tan.

(source)

Tahun terbit: 2013
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Edisi: paperback, bahasa Indonesia
"Genre": Romance, Metropop, Light-but-nice-reading


Tidak apa-apakah saya mereview buku kumcer 8D
…well that’s not a question anyway, J(ust)K(idding) Readers!

Tema besarnya, cinta. Tema sakti yang gak akan dibosanin, apalagi kalau meramunya bagus dan di situlah tricky partnya, but that’s not for this circumstance of (likely) review. Di cover depannya sudah terlebih dulu “dipasang” nama-nama seperti Ilana Tan (hail to those seasonal foreign romance ;) ), Ika Natassa, dan Aliazalea; bukan maksud saya pilih kasih menambahkan author commentary, hanya humbly showing my booknowledge about those authors. Menyambung dengan tricky part about love-theme, seakan menjamin kepada calon pembaca kalau ramuan cerpen-cerpen dalam kumcer (kumpulan cerpen kalau masih nggak tahu ;P) ini bagus-bagus; and that is not being too much exaggerating at all, afterall.


Saya sendiri sanggup kok “menghabiskan” buku ini. Selain dari nama-nama yang dipasang di covernya, tidak perlu khawatir untuk mengira kalau kontributor lainnya akan terasa jomplang – di mana mayoritas kontributor lainnya sendiri adalah para editor dan atau orang-orang yang akrab dengan tulis-menulis. Cerpen-cerpen di dalamnya ada dalam benang merah cinta dalam berbagai plot dan aspek. Buku ini pada akhirnya memenuhi intensi saya untuk bacaan yang tidak terlalu “mengikat” (karena saya beli waktu masih belum libur kuliah) tapi masih memenuhi jatah untuk bacaan yang berkesan sebagai penyeling berkualitas.
   
Ibaratnya sekotak permen aneka rasa, kumcer dengan tema cinta ini of course tastes sweet, unyu munyumu begitu. Hanya saja sebagai (likely) reviewer, bolehlah saya menyantumkan judul-judul cerpen yang buat saya terasa paling enak dan berkesan, “permen” yang akan saya cari dengan sengaja ketika lain kalinya saya membuka-buka “kotak” untuk selingan cepat.

Ada Harriska Adiati’s Jack Daniel’s vs Orange Juice yang gaya penceritaannya memakai sudut pandang tokoh laki-laki terasa renyah dan lucu untuk diikuti meskipun resolusi akhirnya tidak terlalu manis bagi si tokoh. Then here we go with what’s guaranteed front, Ika Natassa’s Critical Eleven yang mengolah pengetahuan tentang sebelas (menit) kritis dalam aviasi sipil menjadi sebuah benang merah cerita yang bittersweet antara si tokoh utama dan pria yang ditemuinya di atas pesawat (umumu part here for me since I love flying). Ditambah dengan Ilana Tan’s Autumn Once More (yup, seem to be the "main-title") yang berlatar di Perancis dan agaknya merupakan side story unyumu dari tokoh di seri seasonal foreign romance nya, andai saya sudah membacanya mungkin saya akan lebih “dapet” feel unyumu nya.

Lalu, ada juga Meilia Kusumadewi’s Love is a Verb yang membuat suatu kisah beresolusi manis yang dapat mengikutkan aspek socmed-wonder dalam kehidupan kita sehari-hari, atau setidaknya kehidupan tokoh utamanya. Serta last but not least (which I meant it), Nina Andiana’s The Unexpected Surprise yang bisa dibilang “beda” karena menceritakan tentang hubungan ibu/anak in the midst of growing up and being away to pursue career, this one minblowned and touches me the most anyway.

Sedikit “catatan” kecil saya, mungkin, bahwa saya harap bahwa calon pembaca mengharapkan keseluruhan cerpen-cerpen yang terlalu “mendalam” di kumcer ini. Serta mungkin harus pasang toleransi (?) pada plot “tertakdirkan” dan might be cliché and seem to be circling around at… love, of course.

Nevertheless, I think it never be a harm to have the simplest and most likely of love.
        
 

You May Also Like

0 comments