Sunday, August 25, 2013

Littlewood, Kathryn. BLISS (The Bliss Bakery Trilogy #1). Long review due to overwhelmed excitement.


Pertama-tama saya harus berterimakasih dulu ke Sany yang sudah meminjamkan, membuka mata saya mengenai keberadaan buku ini, setelah notabene cukup lama gak mampir ke toko buku (it hurts but you shall survive with that, still). Jujur saja, pertamanya sewaktu dibilangin Sany soal ceritanya (yang tentang toko roti dan buku resep ajaib – watde?) saya nggak begitu memasang ekspektasi apa-apa, malah sampai diam-diam bertanya-tanya apakah ceritanya bakalan kekanakan apa gimana.

Namun alhasil SAYA TERBUKTI GAK NYESEL SAMA SEKALI dengan cerita di buku ini setelah mulai membacanya ♥ indeed ceritanya pun MEMANG mengandung suatu kesan yang kekanakan dalam penuturannya tapi toh ternyata memang dari dulu saya memang masih suka aja sama hal-hal yang masih dianggap kekanakan, contohlah Disney Princess but that’s out of the topic right. Jadi, ya, emang saya agak gak beres sewaktu pertamanya sok-sok bertanya-tanya gimana kalau cerita di buku ini bakal kekanakan (...).



So what is this book all about? Yup, tentang toko roti dan buku resep ajaib – di mana persisnya adalah toko roti Bliss milik keluarga Bliss yang menyimpan rahasia resep-resep kue yang tidak hanya lezat tapi juga ajaib dalam Bliss Cookery Booke (de olde spelling I guess? :3). Mengambil sudut pandang anak kedua dari keempat Bliss bersaudara yang namanya Rosemary Hathaway eh salah universe Bliss, buku ini membawa kita dalam cerita yang manis dan lezat untuk diikuti :3

Mulanya suasana masih damai-damai seperti biasanya di Calamity Falls, kota kecil di mana Bliss Bakery berada dan menjadi toko roti yang tak pernah absen dikunjungi warganya (iya emang mau ke mana lagi juga beli kuenya but that’s not the sole reason of course) – meski ketika sesekali bisa juga ada situasi-situasi yang gawat pada warga tertentunya (contoh: tersambar petir, patah hati, dst.), entah bagaimana “kelezatan” kue/roti dari pasangan Purdy dan Albert Bliss sebagai pasangan pemilik toko selalu terlihat memiliki peran ajaib untuk memerbaiki hal yang tidak baik itu.

a better view of the cover, not mine.

Hanya Rose dan keluarganya lah yang tahu bahwa toko roti mereka dapat memroduksi roti-roti ajaib dari bahan-bahan ajaib dengan resep dari buku resep yang sudah turun-tumurun diwariskan di keluarga Bliss. Purdy dan Albert mengizinkan keempat anak mereka: Thyme “Ty”, Sage, Rosemary, dan Parsley “Leigh” tahu hal ini meski tidak pernah menunjukkan buku resep ajaib itu pada mereka, namun di antara semuanya, hanya Rose yang paling memendam keinginan besar untuk bisa suatu saat dipercaya untuk melihat Bliss Cookery Booke (selanjutnya biar saya singkat BCB).

Selain karena dari sananya Rose memang suka dan pandai membuat kue, bermimpi untuk suatu saat bisa dipercaya dengan BCB seakan menjadi “solusi” bagi Rose untuk bisa menemukan “nilai dirinya” di antara saudara-saudaranya yang dirasa sudah memiliki keistimewaan masing-masing – Ty yang tampan, Sage yang lucu-talkative, dan Leigh si kecil yang manis. Apalagi Rose juga memiliki seorang gebetan yang tidak pernah berani diajaknya bicara, Devin Stetson. Mungkin saja suatu saat dengan menjadi seorang pembuat roti yang hebat ia akan bsia menarik perhatian Devin. Untuk itulah, Rose selalu menjadi yang paling rajin membantu di toko kue lebih dari semua saudaranya.

Rose pandai membuat kue, yang artinya dia cukup cermat dan pandai matematika. Namun, belum pernah ada orang yang tersenyum kepadanya dan berkata, "Wow! Betapa cermat dan pintarnya kau dalam matematika, Rose!"

Tapi siapa yang menyangka bahwa kesempatan bagi Rose untuk bisa membuktikan dirinya telah datang seiring kedatangan Walikota Hammer yang membutuhkan bantuan kedua orangtuanya untuk mengatasi suatu wabah flu selama seminggu? Purdy dan Albert yang tidak bisa menolak memberikan bantuan dengan “kelezatan” kue mereka pun akhirnya menyanggupi untuk meninggalkan toko roti selama seminggu, sambil menitipkan pada Rose sebuah kunci cadangan untuk membuka tempat disimpannya BCB – serta amanat untuk menjaga BCB. Well, tentu saja Rose tidak akan melewatkan kesempatan ini untuk membuktikan kredibilitasnya (asek), bukan? Dan rupanya kesempatan bagi Rose ini akhirnya membuka kesempatan bagi Bibi Lily – yang cantik dan memesona dalam kedatangannya yang tiba-tiba – untuk membantu selama kepergian orangtua mereka.

Bibi Lily yang datang entah dari mana dengan segala pesonanya, membuat saudara-saudara Rose amat terkesan sehingga lambat-laun mereka pun mendesak Rose untuk bisa memerlihatkan BCB kepada Bibi Lily yang memiliki tanda lahir yang sama seperti yang dimiliki keluarga Bliss. Ini jelas menimbulkan konflik batin bagi Rose, yang diam-diam juga sebenarnya sangat ingin bisa melihat BCB dan memratikkan resep-resepnya meski di sisi lain itu menentang pesan Purdy dan Albert. Membuka BCB di tempat penyimpanannya juga memberikan godaan tersendiri bagi Rose karena dengan demikian itu memungkinkan baginya untuk mendapat “penghargaan” di mata saudara-saudaranya yang lebih suka sibuk dengan urusan masing-masing. Namun pada akhirnya, pertahanan Rose pun runtuh, dan ia mengizinkan dirinya sendiri dan saudara-saudaranya untuk membuka BCB, menyalin beberapa resepnya diam-diam untuk menguji keajaibannya di toko roti.

This image are not mine

BCB adalah buku resep yang menakjubkan, yang memberi tahu mereka caranya membuat kue yang menakjubkan dari bahan-bahan yang tidak biasa. Karena resep dalam buku itulah Rose bisa merasakan saat-saat kompak bersama saudara-saudaranya yang sebelumnya bisa dibilang langka terjadi, namun lagi –lagi siapa yang menyangka bahwa kesenangan itu menyembunyikan berbagai masalah yang tidak terperkirakan? Masalah pun muncul karena kekeliruan dalam pembuatan kue-kue ajaib sehingga membuat kota dalam keadaan heboh dan ganjil, belum lagi ditambah dengan masalah yang dialami batin Rose sendiri, yang bertanya-tanya mengapa tidak seperti saudara-saudaranya Ty dan Sage – ia tidak bisa sepenuhnya memercayakan pada Bibi Lily yang begitu cantik dan memesona dan hebat untuk melihat BCB.

Apakah karena ia diam-diam menyimpan iri hati pada pesona Bibi Lily yang seakan-akan hanya bisa diimpikannya? Namun godaan untuk bisa memberitahukan semuanya semakin lama semakin besar, karena Bibi Lily bilang bahwa ia memahami bakat Rose, bahwa Rose punya kehebatan dalam dirinya dan menawarkan jalan keluar...

Buku ini mempunyai formula yang sangat membuat saya sebagai pembacanya menjadi semakin “terpikat”, karena ceritanya, penuturannya dan segala macamnya disajikan dengan cara-cara yang terasa ringan – tanpa kebanyakan diksi rumit atau apa yang membuat pembacanya serasa bodoh (haha). Ide ceritanya saya kira sangat manis dan kreatif, karena gagasan untuk tentang keajaiban kue-kue ajaib itu diceritakan seperti mimpi kanak-kanak yang menjadi nyata, bahwa kita bisa benar-benar menambahkan bahan seperti halilintar atau angin utara untuk ada dalam kue-kue kita. >< Buku ini tampil seperti kisah kanak-kanak yang menakjubkan dan menghibur, tapi sama sekali bukan berarti buku ini memiliki mutu yang kanak-kanak xDb

Saya bisa bilang begitu karena buku ini juga mengemas suatu bentuk konflik yang dialami tokoh utamanya secara psikis (uhuk aja terus) dalam bentuk yang wajar dan dekat, not being dream-like seperti gagasan-gagasan ajaib dalam buku ini. Rose yang di usianya yang baru dua belas merasa tidak punya hal yang istimewa padanya sehingga berusaha mencapai prestasi sedapat mungkin, punya gebetan yang hanya bisa dikagumi diam-diam, juga ingin bisa dekat dan diakui saudara-saudaranya terlepas dari gimana at some point bahkan saudara-saudaranya si Ty dan Sage itu membuat saya yang baca sampai sebel karena berkesan tidak memikirkan perasaan Rose ahaha.

That’s what I imagined to be familiar with many girls (or boys) and even with the magical story like this the people involved are not being dream-like people, so that I really touched to this emotionally because at some (many) point, Rose’s mental conflict are very much easy to relate with :’’’’ I also love the fact that this is a story about family, tentang gimana semua orang dalam keluarga itu pasti punya peran masing-masing untuk memerjuangkan apa yang berharga dalam keluarga. xDD

What’s lovely about this book is the oldies atmoshphere it has due to being set on a small city, yang semua penduduknya kenal satu sama lain dan segala macem xD saya pasti bakalan berpikir bahwa setting waktu dalam buku ini adalah di jaman tempo doeloe kalau misal tak ada penyebutan hal-hal seperti Justin Bieber atau syuting Law and Order xD AND LAST BUT NOT LEAST THE FACT THAT THE SECOND BOOK, "A Dash of Magic" INDONESIAN VERSION IS ALREADY PUBLISHED A____A

This image are not mine

I really, really want to continue reading the Bliss’ story but I should consider more monetary (?) issues right now, ALTHOUGH the idea of the Bliss family in PARIS looking for magical ingredients such as THE SECRES OF MONALISA SMILE, THE SOUND OF NOTRE DAME BELL IS TOO MUCH TO IGNORE T T

Go have your own cookie, I mean your own copy! 8D
Dapatkan buku seri pertamanya, The Bliss Bakery, di sini. 
Dapatkan buku seri keduanya, A Dash of Magic, di sini.
Dapatkan buku seri ketiganya, Bite Sized Magic, di sini.

3 comments:

  1. Dari dulu mau baca ini ga jadi2 terus. Mana reviewnya terbelah juga, ada yg bilang bagus ada yg bilang biasa aja XD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waah baca aja gak rugi kok kak kalau menurut saya, ceritanya emang bener punya sisi "lezat" xDDb dan segala alasan lain yang udah tumpah semua di review -)) #plak

      Terima kasih ya kak untuk kunjungannya^^

      Delete
  2. Sama kayak Mbak Zee, dari dulu-dulu pengen baca ini, tapi banyak yang bilang mengecewakan, jadi bingung -_- haha

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Back to Top