Monday, July 13, 2015

Scene of Three #2: Finally, Edward and Midge - not as Cullens.

Huwa, saya nggak nyangka kalau Scene on Three yang kedua saya post di A Book is a Gift juga bertepatan (kurang-lebih) sama anniversary Scene on Three yang kedua... oh I love numeric coincidence. xD ...dan oke, itu juga untuk mengalihkan fakta bahwa saya miskin banget ngepost Scene on Three selama ini, u u. Kedepannya semoga saya bisa lebih rajin ngikut meme (?) kak Bzee yang sebenarnya simpel dan seru banget ♥ anyway, selamat dan terima kasih untuk menjadi host selama 2 tahun ini ya kak bzee^^

Okee, dan scene yang saya tampilkan dalam kesempatan ini nggak jauh dari pengalaman saya membaca The Hollow, dan bagaimana saya menyukai perkembangan tokoh Midge Hardcastle, dalam kaitannya dengan hubungannya dengan Edward Angkatell. Dari bagaimana mereka adalah sanak-saudara yang banyak menghabiskan masa menyenangkan di Ainswick, lalu mereka move on with their lives dengan perasaan Midge ke Edward yang nggak berubah, meskipun tahu bahwa Edward juga selama ini mencintai Henrietta - dan Midge hanya menginginkan Edward bahagia. Bahkan setelah Edward menunjukkan sisi terlemahnya, memandang dirinya sebagai pria yang nggak akan bisa menggantikan pria lain yang dicintai Henrietta (no spoiler here), Midge tetap teguh di sisinya #EAAAA. Ouch, saya kedengaran klepek-klepek banget sama romens-romensan begini, ya, sudahlah.


Anyways, adegan ini terjadi setelah terdapat semacam "tindak nekat putus asa" yang dilakukan Edward, dan untung saja waktu itu Midge bisa tiba di waktu yang tepat... dan itupun menjadi momen tepat yang membuat saya juga ikut lega (#...). Quite a long scene, maybe for some kind of making up my long absence in joining this meme.


"Henrietta?" Edward menggumamkan nama itu dengan perlahan, seolah-olah ia berbicara tentang seseorang yang tak terkira jauhnya. "Ya, dulu aku sangat mencintainya."
Dan dengan suara yang seolah datang dari tempat yang lebih jauh lagi, Midge mendengarnya bergumam, "Dingin..."
"Edward... sayangku."
Midge memluknya erat-erat. Edward tersenyum padanya, lalu bergumam, "Kau hangat sekali, Midge..., kau hangat sekali."
Ya, pikir Midge, begitulah rasa putus asa. Sesuatu yang dingin — amat dingin dan sepi. Selama ini ia tak pernah mengerti bahwa rasa putus asa itu sesuatu yang dingin. Ia mengira itu adalah sesuatu yang panas, berapi-api, sesuatu yang keras, dan meluap-luap panas. Tapi rupanya tidak demikian halnya. Inilah rasa putus asa — kegelapan yang tak terkira dingin dan sepinya. Dan dosa dari rasa putus asa, seperti yang dikhotbahkan oleh para imam, adalah dosa yang dingin, dosa karena memisahkan diri dari semua hubungan manusiawi yang hangat dan hidup.
Edward berkata lagi, "Kau hangat sekali lagi, Midge."
Dan tiba-tiba, dengan rasa percaya diri yang penuh kebanggan, Midge berpikir, "Ya, itulah yang diinginkannya — itu pula yang bisa kuberikan padanya!" Mereka semua dingin, semua keluarga Angkatell itu, bahkan Henrietta pun punya sifat dingin dan menjaga jarak bagaikan seorang peri, seperti yang terdapat dalam darah keluarga Angkatell. Biarlah Edward mencintai Henrietta sebagai suatu impian yang tak nyata dan tak dapat dimiliki. Yang sangat dibutuhkannya adalah kehangatan, kepastian, dan kemantapan, yaitu kebersamaan sehari-hari, cinta, dan tawa di Ainswick.
Pikirnya lagi, "Yang dibutuhkan Edward adalah seseorang yang menyalakan api di perapiannya — dan akulah yang akan melakukan hal itu."

Dan yang membuat bold-ed statement di atas makin bikin nyess, adalah ada satu adegan lain sebelumnya di mana Midge (literally) menyalakan api di perapian untuk Edward setelah Edward agak berselisih paham dengan Henrietta, sehubungan dengan pria lain yang dicintai Henrietta. Lalu mulai dari saat itu pun Edward menyadari bahwa alangkah baiknya jika ia bisa bertemu lebih sering dengan Midge. SUKA banget sama bagaimana, kepintaran Dame Agatha Christie nggak hanya ditunjukkan dalam misteri kasus yang diramunya, tapi juga misteri hati #EAAA.

Oke, itu tadi scene saya, akhirnya pembahasannya bisa distop sebelum jadi makin norak dan menodai penulisan penulisnya. Terus scene Anda apa? Ikuti cara berikut yaa.

1. Tuliskan suatu adegan atau deskripsi pemandangan/manusia/situasi/kota dan sebagainya dari buku pilihan kalian ke dalam suatu post.
2. Jelaskan mengapa adegan atau deskripsi itu menarik, menurut versi kalian masing-masing.
3. Jangan lupa cantumkan button Scene on Three di dalam post dengan link menuju blog Bacaan B.Zee.
4. Masukkan link post kalian ke link tools yang ada di bawah post Bacaan B.Zee, sekalian saling mengunjungi sesama peserta Scene on Three.
5. Meme ini diadakan setiap tanggal yang mengandung angka tiga, sesuai dengan ketersediaan tanggal di bulan tersebut (tanggal 3, 13, 23, 30, dan 31).

2 comments:

  1. Wuih, so sweet. Aku juga suka elemen2 'ga biasa' yg diselipkan di novel2 Christie. Terus scene di atas, aku juga suka simbolisasi dingin & hangat itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak, suka banget kak sama penggambarannya :''' kalau kak bzee paling suka yang apa? hoho, terima kasih sudah mampir kak^^

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Back to Top