Spinelli, Jerry. STARGIRL.

by - Monday, July 27, 2015

Ia sukar dipahami. Ia adalah hari ini. Ia juga hari esok. Ia adalah keharuman bunga kaktus yang paling samar, kilasan bayang-bayang seekor burung hantu kecil. Kami tak bisa "menempatkannya" di mana pun. Kami coba membayangkan memaku dia di papan, seperti kupu-kupu, tapi paku itu tembus begitu saja dan ia pun terbang pergi.

Tahun terbit: 2004
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Edisi: Paperback, bahasa Indonesia
"Genre": High-school, Love, Contemplative, Reflective

Luar biasa rasanya merenungi bahwa saya sudah punya buku ini sejak lama tapi saya baru benar-benar selesai membacanya hanya beberapa hari yang lalu. Awalnya juga dari membaca review kak Atria untuk buku kedua tentang Stargirl, dan keingintahuan saya tentang keunikan yang dimiliki karakter Stargirl pun membuat saya tergerak untuk meraih buku ini dari penyimpanannya waktu saya nggak sengaja tahu di mana buku ini masih tersimpan setelah sekian lama, setelah saya kira bukunya "ilang" ke mana. Jelas, bukunya sudah lusuh, tapi pengalaman membaca buku ini sangat manis, sangat segar, sangat... unyu (#...) dan mengena yang rasanya perlu menjadi "ekspektasi" dari apa yang ditawarkan saat membaca Teenlit. Bagi para pembaca yang masih belia, rasanya cerita menye-menye dan muluk bukan suguhan tepat, dan buku ini sendiri adalah suguhan yang ringan tapi bermuatan sesuatu yang ternyata "mendewasakan". Cerita tentang kehidupan pelajar sekolah menengah, dari kisah kasih di sekolah dan mungkin kisah tentang menjadi seorang pelajar di sekolah menengah.

Sudut pandang penceritaan adalah milik Leo Borlock, yang seperti semua orang (...hehe, contoh bahasa lebay remaja banget ya) di SMU Mica, terheran-heran dengan "keanehan" Stargirl. Akan tetapi, alih-alih mengembangkannya jadi prasangka, Leo justru tanpa sadar mungkin telah terpesona pada Stargirl, jatuh hati pada si cewek berambut sewarna jagung - dan perasaannya pun ternyata terbalas. Bunga-bunga yang membuat Leo merasakan banyak pengalaman indah dalam kebersamaannya dengan Stargirl bukan sesuatu yang diperkirakannya, tapi terlebih lagi dengan "pengucilan" yang kemudian dialaminya ketika anak-anak di SMU Mica memutuskan bahwa Stargirl tidak bisa "menunjukkan sikap yang benar" sebagai bagian dari sekolah. Ya, setelah berbagai keunikannya yang sempat membuat siswa-siswa SMU Mica "terinspirasi" dan "terhibur", pada akhirnya ternyata mayoritas siswa-siswi di sekolah tidak bisa benar-benar memahami keunikan Stargirl. Apakah Leo Borlock berbeda? Apakah ia bisa memahami keunikan Stargirl? Bisakah Stargirl "bertahan" dengan keunikannya?
"Rasa sayang siapa yang lebih kauhargai, rasa sayang dia padamu atau rasa sayang orang-orang lain padamu?"

Kehidupan sosial di sekolah menengah yang menjadi sumber konflik digambarkan dalam cara yang bisa dihubungkan dengan keseharian, kalimat-kalimat yang digunakan dalam narasi pun mudah dicerna meskipun tidak mengurangi kesan ringan dan manis yang bertahan bagi saya untuk menamatkan membaca buku ini (terlepas dari halamannya yang memang tidak tebal). Rasanya seolah pembaca bisa memahami penuturan Leo, apa yang terjadi di sekitarnya dan apa yang dirasakannya secara akrab. Saya juga merasa bahwa bahasa penceritaan Jerry Spinelli juga cocok untuk dibaca secara storytelling karena kalimat-kalimatnya punya kesan "mengilustrasi" yang menjadikannya enak untuk diikuti alurnya, tidak kaku atau terlalu nyeleneh.

Photo courtesy of Paroxymal

Sosok Stargirl sukses meninggalkan kesan yang bermakna bagi saya, dan sedikit-banyak juga saya merasa banyak tersentuh dan "terinspirasi" oleh keunikan-keunikan yang dimiliki tokoh Stargirl. Dari mulai kebiasaan menyanyikan Happy Birthday bagi anak yang hari itu ulangtahun di jam makan siang dengan ukulelenya, menggelar taplak meja dan meletakkan bunga dalam vas saat ikut pelajaran, serta kesukaannya menunjukkan perhatian-perhatian kecil yang unyu banget bagi semua temannya dan seterusnya. Bagi saya keunikan Stargirl lebih dari layak untuk (katakanlah) "diadu" dengan karakter-karakter "remaja beda" yang sudah saya temui di novel karangan John Green, misalnya. Keunikan yang dimiliki Stargirl seperti bisa "disederhanakan" untuk mewakili suatu nilai "kesadaran transpersonal", membawa saya pada kesadaran untuk lebih melihat ke dalam diri saya, mengingatkan diri saya akan hal-hal kecil yang mungkin sering luput, padahal hal-hal kecil itu besar maknanya.
"Dia sepertinya memiliki sesuatu dalam dirinya, yang sudah tidak ada lagi pada diri kita."
Photo made by tardislock

Dan ia bukan sekedar melihat. Apa yang dilihatnya, juga ia rasakan. Apa yang dilihat matanya, langsung masuk ke hatinya. Laki-laki tua di bangku itu, misalnya, membuat ia menangis. Dua semut pengangkut itu membuatnya tertawa. Pintu yang bergabti-ganti warna itu membuat ia begitu penasaran hingga aku mesti menyeretnya pergi; ia merasa mesti mengetuk pintu itu, kalau tidak ia bakal penasaran terus seumur hidupnya.

Ada suatu kesan "murni" yang buat saya tergambarkan dalam diri Stargirl, akan tetapi memang mungkin lingkungan sosial tidak bisa sepenuhnya memahami dan menerimanya, dan di situlah konfliknya bermain, mempengaruhi Leo Borlock juga. Saya merasakan adanya rasa kecewa melihat bagaimana "pendekatan" yang dibuat Leo untuk menyikapinya (meskipun ia masih remaja sih yaa gimana juga yah), bahkan pada apa yang dilakukan Stargirl karena ia menyayangi Leo. (Look at just how lucky you are, Leo, to be loved with a one in a million girl!). Rasanya gemes banget melihat gambaran betapa "dangkalnya" suatu lingkungan sosial bisa mencerna dan mendikte hal yang mayoritas, dan mengucilkan sesuatu yang sebenarnya bernilai baik meskipun itu terjadi di sebuah SMA. Mungkin bisa menjadi semacam perenungan bahwa "dunia remaja" bisa dibilang diisi oleh permasalahan yang senada.

Well, si narator memang menceritakan kisah remajanya, maka adanya karakter "penasehat" yang lebih tua darinya akan bisa memberikan dinamika pada cara pandang dan berpikirnya dalam menghadapi konflik, dan hal itu hadir dalam tokoh Archie. Yup, Jerry Spinelli juga sukses membuat saya sayang sama tokoh Archie, apalagi juga karena ada Senor Saguaro yang sebenarnya cuma tumbuhan Saguaro, tapi dihadirkan dengan cara yang menarik-ilustratif itu oleh om Jerry Spinelli dan sukses menjadi "sosok bijak" yang mendampingi Archie xD. Ini dia yang namanya Saguaro, sejenis kaktus ternyata.



Banyak momen favorit saya dalam buku ini adalah ketika Stargirl menunjukkan "pengalaman kesehariannya" saat sedang bersama Leo - tentang bagaimana ia menjalankan "misi"nya, tentang permainan kartu, segala hal anti-mainstream yang sebenarnya unyu maksima dan menunjukkan penghargaan akan "bahagia itu (ternyata) sederhana" - bagi Stargirl, dan tentunya harusnya juga bagi kita. Buku ini diselesaikan ceritanya dengan cara yang bisa dibilang open-ended, mungkin cocok untuk "membiarkan" Stargirl terbang seperti kupu-kupu yang nggak bisa dipaku itu, meski memang saya agak menyayangkan keadaan Leo, keputusan Leo, atau apa yang terjadi, meski mungkin memang itulah yang seharusnya terjadi.  

"Padahal baru beberapa minggu, tapi rasanya seperti mimpi. Apa dia benar-benar pernah ada di sini? Siapa dia sebenarnya? Apa dia benar-benar nyata?"


Photo by tardislock

"Nyata? Oh, ya. Senyata yang bisa kita terima. Jangan pernah meragukan itu. Itulah bagusnya. ... Menurutku, sekali dalam hidup ini muncul seseorang yang sedikit lebih primitif daripada kita semua, sedikit lebih dekat dengan asal-usul kita, sedikit menyimpan elemen yang membentuk diri kita."

You May Also Like

0 comments