Christie, Agatha. THE THIRTEEN PROBLEMS.

by - Monday, December 09, 2013

Pada suatu Selasa malam, beberapa tamu berkumpul di rumah Miss Marple. Lalu percakapan beralih ke seputar kasus-kasus kejahatan yang tidak terpecahkan.

Kasus noda darah yang lenyap; pencuri yang mengulangi kejahatan dua kali; pesan seorang pria yang mati diracun; kasus aneh surat wasiat yang tidak tampak; seorang peramal yang berpesan bahwa bunga geranium biru berati kematian; dan masih banyak lagi.

Dan seperti biasa, Miss Marple yang tampak sederhana dan rapuh lagi-lagi membuat orang yang terpana dengan intuisi dan kemampuan berfikirnya yang tajam. Selamat bergabung dengan Klub Selasa Malam.
(source)

Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2012 (sampul baru)
Edisi: Cetakan kelima, Paperback, bahasa Indonesia
"Genre": Mystery!, Crime, Miss Marple Mystery.

Did enjoyed this one as something more like "lighter" mystery readings! xD...tapi meskipun sebenarnya tergolong "ringan" dibaca karena isinya dibuat dalam bab-bab yang menceritakan misteri yang disajikan singkat-tuntas dalam satu bagian, bagi saya tidak menghilangkan "pesona" Miss Marple pemahamannya akan sifat-sifat manusia dan intuisinya yang tajam.

Saya merasa dapat merasakan sensasi "puas", salut, dan bahkan sedikit geli selain merasakan sensasi "wajar" dalam mystery readings yaitu semacam campuran tegang, penasaran, dan deg-degan - sebabnya, karena buat saya Miss Jane Marple merupakan tokoh detektif yang memang gak kalah memorable dengan gayanya sendiri dan itu berhasil digambarkan dengan baik oleh sang penulis di sini. Siapa sih, yang bakal berpikir kalau nenek tua yang seumur-umur hidup di desa, berpenampilan rapuh dan halus itu bakalan bisa bicara dan melihat banyak dalam kejahatan? Apalagi kalau melihat cara pandang orang-orang seperti di Klub Selasa Malam, antara lain (dalam satu pertemuan) seperti keponakan Miss Marple, Raymond West, dan pensiunan komisaris Scotland Yard Sir Henry Clithering, yang awalnya hanya menyambut pendapatnya karena rasa hormat dan tidak enak pada orangtua, tapi lantas kompak kehabisan kata-kata ketika melihat deliberasi Miss Marple yang tepat sasaran, tanpa menjauh dari kursi goyang dan rajutannya. 



"Bibi Jane,... bagaimana Bibi bisa menebaknya? Kehidupan Bibi kan selalu tenang-tenang saja, tapi rasanya tidak ada yang bisa mengagetkan Bibi."
"Banyak kejadian yang mirip satu sama lain di dunia ini," ujar Miss Marple.
 
Saya jadi membayangkan gimana rasanya bisa benar-benar bertemu sosok seperti beliau, pasti seru deh kalau andaikata sebagai cucu-cucu-cucu *gak abis-abis nanti* dari sosok seperti "beliau". Bakalan puas saya terkagum dengan penilaian-penilaian tajamnya yang berangkat dari apa saja yang pada dasarnya menjadi sifat dasar manusia di dalam suatu konteks kehidupan *halah*, terlepas dari tempat, waktu, sampai status sosial xD

Kasus-kasus yang disajikan dalam buku ini memang diceritakan sebagai "cerita lama yang tak biasa" yang tentunya saat ini sudah diketahui kebenarannya oleh yang membagikannya dalam pertemuan Klub Selasa Malam, baik itu melibatkan diri sendiri ataupun tidak. Namun buat saya, itu tidak menjadi suatu hal yang tidak semestinya karena intinya di sini adalah bagaimana pemecahan tepat sasaran dari Miss Marple selalu bisa menjawab semuanya, dengan memertimbangkan bahwa Miss Marple hanya mendengarkan tanpa terlibat dengan hal-hal seperti barang bukti dan saksi mata yang terbatas hanya dari si pencerita.

Kasus-kasus "kecil tapi ganjil" tersebut juga tetap merupakan suatu kasus yang "menantang pikiran", meskipun terjadi di suatu masa di kehidupan orang-orang (pencerita) yang datang dari latar belakang berbeda-beda. Kasus yang diceritakan oleh seorang pendeta dan pensiunan Scotland Yard tidak timpang untuk dinikmati karena sama-sama seruuu. xD

Oke meskipun harus diakui juga bahwa dengan demikian memang buku ini tidak menuntut pembacanya untuk terlibat secara afektif dengan orang-orang yang terlibat dalam suatu kasus secara mendalam perti kalau misalnya membaca kisah misteri dengan format "satu buku satu kasus" biasanya. Keterbatasan itu membuat pembaca (dalam hal ini saya) "hanya" dapat memberikan tanggapan afektif berwujud simpati atau sebangsanya pada "suasana" dari beberapa kasus yang menghasilkan kemalangan.

Oh, tapi jangan terlalu "sedih", readers. Kalau memang masih menginginkan adanya suatu "kasus aktual", buku ini juga menyediakannya meskipun tidak merupakan kasus yang menghabiskan berlembar-lembar atau berbab-bab, tapi tetap menawarkan resolusi yang cerdas dan mindblown citarasa Dame Agatha Christie.
 
Untuk merangkum saja, buku ini buat saya dapat memberikan gambaran bahwa kecemerlangan "ramuan" ataupun "komposisi" sebuah cerita misteri tidak selalu harus melibatkan terlalu banyak sentuhan "petualangan" yang serba bersuasanakan "investigative journey" dan sebangsanya. Kemampuan Dame Agatha Christie untuk menyajikan "inti" dari suatu misteri sebagai sesuatu yang tidak lepas dari sifat, watak, dan kehidupan manusia itu sendiri. Mystery is not that "fictional", and though it may sounds scary I think that's quite brings up the truth. ^^

"...sifat-sifat manusia kurang lebih sama di mana-mana, dan tentu saja, kita akan lebih gampang mengamati sifat-sifat itu dari jarak dekat di desa."

"Kejahatan juga sering terjadi di desa. Kuharap kalian yang masih muda-muda takkan pernah menyadari betapa jahatnya dunia ini." 
This post is submitted for HobbyBuku's Agatha Christie Read-a-Long :D Read my masterpost :)

You May Also Like

2 comments

  1. Angka 13 itu kayak mewakili sesuatu yang terkesan misterius, horor, dan menakutkan. Tapi, entah kenapa aku tetep suka :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Taylor Swift juga suka kan ya^^ masalah persepsi kali ya (??) hehe. Tiga belas kasusnya juga keren2 pemecahannya di sini :)
      terima kasih ya^^

      Delete