Thursday, October 10, 2013

Can a Rose Bleed by its Thorn?: An Agatha Christie Character Analysis of Elinor Carlisle (Sad Cypress)

Wajah Elinor memerah, "Akankah Anda tanyakan pada saya — apakah saya yang telah membunuh Mary Gerrard?"

Poirot bangkit. Cepat-cepat ia berkata, "Saya tidak akan menanyakan apa-apa lagi pada Anda. Ada beberapa hal yang saya tak ingin tahu..."

Namun bahkan Hercule Poirot pun kadang-kadang membohongi dirinya sendiri. Sebenarnya ia ingin — ingin sekali — tahu. (Sad Cypress' Book Blurb)

Overall intro: (There's something) about this character...

Belum lama memang saya menyelesaikan membaca Sad Cypress (dalam versi terjemahan dari GPU bercover baru yang judulnya dialihbahasakan menjadi Mawar Tak Berduri). Kesan yang tertinggal mungkin masih terasa seperti yang saya sudah ulas dalam review saya, namun setelah beberapa judul novel Hercule Poirot karya Agatha Christie yang sudah saya baca (yang sebenarnya masih lebih dari yang sudah saya tuliskan reviewnya; nyombong dikit ceritanya... dikit aja kok hehehe /plak), rasanya belum ada tokoh yang membuat saya merasa se-simpati ini untuk menuliskan analisanya seperti Elinor Katharine Carlisle yang muncul dalam novel tersebut. Apa ya, sifatnya dan "distress"nya yang berangkat dari persoalan cinta yang terlalu dalam memberikan (sekali lagi) simpati yang terasa dan berkesan bagi saya.
"Aku menyukai dirimu sebagaimana adanya: halus, anggun, ironis."


Elisabeth Dermont-Walsh as Elinor Carlisle in Agatha Christie's Poirot TV Series. This image is not mine, only edited it.

Who is the character... throughout the story?

Jika mengikuti dari bagaimana cerita mengenalkannya sebagai terdakwa, serta dari jalannya konflik dan misteri yang tersaji dalam Sad Cypress, bisa dibilang karakter ini condong mampu menjadi antagonis. Namun, jika melepaskan diri dari persoalan Mary Gerrard, Elinor sendiri menurut saya bisa dikatakan sebagai karakter yang memiliki ironi. Elinor adalah seseorang yang sangat tertutup, begitu pandai mengelola perasaannya hingga bisa tidak tampak di wajah dan tindakannya. Ia selalu berhasil berlaku dengan tepat dan terhormat, terlepas dari segala kecamuk dan gejolak yang dapat dipendamnya. Iyak, pada akhirnya karena rentan spoiler kalau saya bilang kebenarannya soal antagonis atau tidaknya, saya ambil jawaban "bisa-jadi" saja ya (semacam salah tapi yaudahlah).
Poirot mencatat wajah cerdas yang sensitif dengan dahi putih yang lapang, juga hidung dan telinga yang halus bentuknya. Garis-garis wajahnya halus; seorang makhluk sensitif yang punya harga diri, berpendidikan diri, mampu mengekang diri, dan — sesuatu yang lain lagi — suatu kemampuan untuk bercinta.


Nah, like said bahwa pada awal buku, Elinor sudah dikenalkan sebagai terdakwa dari suatu pembunuhan yang sangat masuk akal untuk dilakukannya karena digiring oleh rasa cemburu. Tidak ada alasan lain yang lebih masuk akal, memang, bagi Elinor yang diceritakan berkesan begitu anggun dan "tertata" serta datang dari keluarga baik-baik dan hidup berkecukupan untuk membunuh Mary Gerrard yang dikenal mempesona dan baik hatinya, serta dikenal oleh Elinor sendiri sejak kecil, selain karena adanya rasa cemburu antar-wanita itu. Cemburu karena seorang pria, Roderick Welman — sepupunya yang dikenalnya sejak kecil, dan kalau semuanya lancar, maka sebenarnya akan menikah dengan Elinor, andai Mary Gerrard tidak memesona Roderick ketika kunjungan mereka ke rumah Bibi Laura.

"Kepandaian bawaan" dari Elinor untuk selalu dapat "menekan" perasaan dan pikirannya dalam harga diri yang tinggi ketika berhadapan dengan orang lain menjadi suatu hal yang di sisi lain membuat Elinor kuat sekaligus lemah. Kuat yang dimaksudkan di sini termasuk juga kuat dalam kesan yang bisa diciptakannya kepada orang lain, yang biasanya akan selalu menggambarkan Elinor sebagai wanita yang terhormat, dan dapat menjadi sedikit angkuh.

Namun, Elinor justru menjadi ada dalam suatu ketidakberdayaan karena dia juga sampai begitu "memendam" rasa cintanya yang sebenarnya begitu besar pada Roderick. Sehingga, bahkan meskipun mereka sudah bertunangan, Elinor selalu nampak menjadi pihak yang "kelihatannya bersedia" mencintai Roderick, bahwa hubungan mereka baik-baik saja karena alasan yang selama ini diperkirakan Roderick, yaitu bahwa karena mereka saling mencintai, namun tidak berlebihan. Iya, sih, apa-apa yang berlebihan memang tidak baik... ya apa daya ya... (apa coba).
"Mencintai seseorang secara berlebihan selalu mengakibatkan lebih banyak kesedihan daripada kebahagiaan."


Dalam kebersamaannya dengan Roderick, Elinor lebih banyak didera perasaan terpendam yang begitu besar dan tak bisa begitu saja ditunjukkan karena Elinor tidak ingin Roderick lari darinya kalau mengetahui betapa besar cintanya (serius). Well, andai saja Roderick ini bisa diijinkan untuk tahu ya betapa dia sebenarnya dicintai sekali oleh Elinor, kasihan sekali ya. Boys, makanya peka sedikit gitu bisa, ya? Padahal to be loved, to be loved, what a feeling to be loved, kalau kata Michael Buble.

Ketika menyadari keterpikatan Roderick terhadap Mary Gerrard, di sinilah mulai berkembang suatu "cara pandang" baru Elinor terhadap Mary Gerrard dalam perasaan yang tak lain dan tak bukan adalah perasaan benci dan cemburu. Meski jangan lupa, Elinor ini adalah "pemendam perasaan" setengah-mati dan rupanya juga dasarnya memang memiliki nilai-nilai terhormat yang bisa dibilang ada karena posisi dirinya yang datang dari keluarga yang baik-baik, juga memiliki tingkat pendidikan yang baik. Jadi, ya, tidak serta merta Elinor melabrak (...semacam anak SMA di ftv aja, ups) atau menyengiti Mary Gerrard. Elinor tetap bisa memertahankan sikap yang sopan dan pantas serta rasional dan masuk akal (...sama aja ya) ketika ia menghadapi Roderick dan Mary.

Namun tetap saja tidak bisa dipungkiri bahwa Elinor yang selama ini bisa begitu menyembunyikan pikirannya dengan "tersembunyi rapi dan tak tertebak" dalam laku dan ucapnya, mulai berandai-andai kalau saja Mary itu tidak ada. Meskipun ini bisa terdengar serem, but that is what really occurs to her, karena alangkah dengan demikian dia akan bisa lancar joss jebret (...lah) dengan Roderick seperti seharusnya dan rencananya. Apalagi, sejak kenyataan baru muncul bahwa Bibi Laura yang sudah lama sakit keras dinyatakan meninggal dunia sehingga warisannya yang bejibun jatuh ke tangan Elinor sebagai ponakan.

"Malang" buat Roderick yang secara resmi tidak kebagian warisan Bibi Laura karena silsilahnya menunjukkan tidak berhubungan darah se-langsung Elinor, karena dari pihak suami A___A. Ya, tapi enggak sih, sebegitu baik dan sayangnya Elinor karena Roderick pun kemudian juga ditawari bagian oleh Elinor setelah memberikan bagian juga pada pengurus rumah tangga dan Mary seperti yang dipesankan Bibi Laura. Terlihat lagi sifat Elinor yang bisa tetap "netral" dan aslinya bersifat dasar pantas secara sosial (...) karena meskipun memendam perasaan yang gak bagus-bagus banget ke Mary, Elinor tetap melaksanakan keinginan Bibi Laura untuk memberikan Mary bagian warisan.

One reality leads to another, dan setelah cukup "keguncangan" karena meninggalnya Bibi Laura, Elinor dan Roderick menghadapi kenyataan kalau pertunangan mereka tidak bisa dilanjutkan. Kembali menunjukkan sifat yang "lurus" dan "seharunsya", Elinor lah yang menyatakan putusnya pertunangan itu, lalu mendorong Roderick untuk "menata perasaan" soal satu-atau-dua pilih aku- atau-Mary (meski pengennya sih pilih aku hiks) (plak). Begitulah, ya akhirnya hidup terus berjalan setelah itu, dan kenyataan berubah. Meskipun demikian... ya, dalam hati dan pikirannya Elinor tetap berandai kalau saja, kalau saja-a Mary Gerrard itu tidak ada. T___T (...).

Sedemikian terpendam dan "besar"nya "perandaian" itu sampai-sampai membuat Elinor membayangkan skenario-skenario seperti keracunan, lalu bereaksi tidak wajar pada fakta "lumrah" kalau Mary menulis surat wasiat. Apa daya, begitu, karena (sekali lagi, sob) sedemikian cintanya Elinor pada Roderick hingga itu membuatnya menderita sebenarnya. Menderita kenapa? Karena dia tidak bisa menyatakan atau menunjukkan hal itu tanpa membuat Roderick pergi darinya, kalau saya bilang.
"Memang benar pada saat itu, bukan?" kata Poirot dengan halus. "Waktu Anda menjenguk melalui jendela dan melihat dia sedang membuat surat wasiatnya. Bukankah pada saat itu Anda merasa betapa akan lucunya — dan betapa mudahnya — bila Mary Gerrard benar-benar meninggal..."


Tapi kemudian Mary Gerrard terbunuh, dan keadaan dan motif dan kemungkinan-kemungkinan yang ada hanya menyisakan Elinor sebagai pelakunya. Elinor tidak bisa mengelak fakta-fakta yang ada dan menggiringnya ke pengadilan, tidak bisa mengelak pula pada pikirannya sendiri yang memang membayangkan kematian Mary. Persidangan dilaluinya dengan keletihan, dalam keadaan yang seolah "mengawang", tapi kebenaran harus tetap terungkap, 'kan?

Overall resolution: Evaluating this character

Berjalannya cerita membuat saya semakin lama juga semakin "larut" dalam perasaan kasihan dan entah bagaimana ikut sedih soal keadaan bagi Elinor. Geregetan juga, karena semacam heran pada keruwetan dan kecamuk dalam diri Elinor yang sama gak membantunya dengan bukti-bukti yang memberatkan, akibat adanya keinginan agar mbok ya Elinor sudah apes ditinggal tunangan juga jangan terjerumus jadi pembunuh, haha. Saya bisa membayangkan sih rasanya memendam perasaan dan pikiran yang diikuti tuntutan untuk berlaku seharusnya rasanya bakalan screwed up sekali, apalagi pada kasus Elinor ini, betapa "hanya gara-gara persoalan cinta dan lelaki belaka" dia bisa menciptakan perasaan sakit hati dan benci pada seseorang yang seharusnya tidak pantas untuk dibenci seperti Mary Gerrard. Simak kutipan(-kutipan) berikut yang buat saya mewakili hal-hal yang membuat hati terasa "nyess" (apacoba) dalam perasaan dan impresi ikut depressed soal diri Elinor yang "kok sebegitu menyedihkannya" (apacoba).
"Elinor Carlisle — punya hasrat untuk bercinta dan punya harga diri, serta mati-matian mencintai seorang pria yang tak bisa mencintainya..."
"Dia tak pernah membutuhkan Roderick Welman. Dia mencintai laki-laki itu dengan rasa tak bahagia — bahkan dengan rasa putus asa."
Sebab jelas, meskipun Roddy mencintainya, perasaan Roddy tidak sedalam perasaannya sendiri terhadap Roddy. Setiap kali melihat Roddy, terjadi sesuatu atas dirinya, hatinya bagaikan diperas-peras, sakit dan nyeri.


Elinor berkembang di sepanjang cerita sebagai pihak yang mengelola kesedihan, kebencian, ketidakberdayaan dalam dirinya sedemikian rupa dalam cara sikapnya yang bertahan tidak bisa begitu saja membiarkan orang lain melihat itu. Selain karena harga dirinya, juga karena banyak hal yang seharusnya bisa ditanganinya dengan tetap berkepala dingin, dan begitu juga karena nuraninya sendiri masih bertahan. Memikirkan Mary Gerrard yang dulu juga sepermainan dengannya, kenyataan kalau Mary sendiri adalah orang yang baik tidak bisa membuat Elinor berlama-lama larut dalam kebencian juga pada akhirnya. Kebenarannya akan sulit terlihat bagi perasaannya yang terkadang masih diliputi kesadaran akan adanya kebencian itu dan hanya Hercule Poirot yang bisa melihat kebenaran itu (TETEUUUPPP).

Afterall, segala urusan soal kematian Mary Gerrard itu jadi semacam "fase" yang membuat Elinor menemukan jalan untuk (ironisnya) suatu "lembaran baru" setelah selama ini semacam "terjebak" dalam cintanya ke Roderick, dan saya pribadi juga ikut senang akan hal itu. Hiqs. Gimana, ya, memang persoalan cinta (...) dan hati itu lebih bijaksana kalau diserahkan saja kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan lebih baik jangan dijadikan bayangan gelap yang menghantui pikiran dan hati.

Melihat bagaimana Elinor jadi menderita sendiri karena terlalu banyak memendam perasaan juga jadi mengingatkan diri saya sendiri untuk bisa lebih "true" soal apa yang saya rasakan atau pikirkan. Berhubungan juga dengan orang-orang yang disayang, mungkin pada waktu-waktu tertentu, kita perlu menunjukkan pada mereka "titik terang" soal rasa sayang kita ke mereka agar mereka tahu :' kadang-kadang mungkin memang kita membutuhkan suatu titik terang yang tidak perlu melimpah, tapi menjanjikan :)

Syukurlah, meskipun dengan segala kesulitannya yang seolah-olah juga sebagian besar dibebankannya sendiri (yakali, dong, cewek cakep baik-baik nan berada betah banget sakit hatinya sama satu cowok padahal masih banyak cowok lain, gitu, hehe), barangkali esensi diri Elinor sebagai orang yang memang tidak berpura-pura dalam kebaikan yang dilakukannya selama ini-lah yang pada akhirnya membuat Elinor bisa mendapatkan hasil akhir yang... well, kalau boleh saya bilang, paling adil bagi dia.

"...bila seseorang telah berjalan ke lembah yang dibayang-bayangi kematian, dan keluar ke tempat yang disinari matahari — maka, mon cher, mulailah kehidupan baru... masa lalu tidak akan ada lagi artinya..."   

That's right, M. Poirot!...also, every flower deserve their chances to bloom, right?

Submitted for a Challenge Entry of Agatha Christie Read-a-Long Reading Challenge - Periode I: Hercule Poirot. Submit yours here.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Back to Top