Green, John. LOOKING FOR ALASKA.

by - Friday, July 25, 2014

Tahun terbit: 2011 (first published 2005)
Penerbit: Harper Collins
Edisi: Paperback, bahasa Inggris
"Genre": Young-Adult, Love, Teenagers, Teenagers, Contemplative
Get the book! 

Saya membeli dan membaca buku ini dengan cukup banyak ekspektasi, ya, secara juga saya familier dengan tulisan John Green dan caranya mengemas tema-tema mendalam dalam kisah-kisah dan tokoh-tokoh yang punya keunikan tersendiri. Berikut, ada juga semacam antisipasi mengenai kemiripan buku ini dengan Paper Towns - but, nevertheless, ya tentunya saya tidak akan sedini itu juga menjudge buku ini ya meski terutamanya sekali, harapan tentang "tema-tema mendalam" itu cukup dominan xD.

But, let us look what this book are about, shall we. Alaska maksudnya nama orang, bukan nama negara bagian - meskipun mungkin keduanya bisa punya kesan kuat. Maaf saya tidak belajar soal USA, ya. Meskipun demikian, jelas bahwa Alaska Young (jadi ini yang orang, ya #gakpenting) menimbulkan kesan yang kuat bagi Miles Halter, tokoh penutur di cerita ini yang tengah mencari "Kemungkinan Besar" (The Great Perhaps). Ia pindah dari sekolahnya yang lama ke Culver Creek, sekolah persiapan ber-asrama yang juga almamater ayahnya Miles - sekolah yang diharapkan Miles bisa menjanjikan The Great Perhaps dengan didukung cerita-cerita pengalaman kenangan ayahnya semasa sekolah dulu.

"Keunikan" Miles adalah kesukaannya untuk membaca biografi tokoh-tokoh terkenal dan menghafalkan kata-kata terakhir (last words) mereka sebelum wafat a.k.a famous last words, dan tentunya istilah Great Perhaps pun didapat Miles dari hobinya tersebut, yang membuatnya menemukan kata terakhir Francois Rabelais - "I go to seek the Great Perhaps". Entah seperti apa sebenernya yang dimaksud dengan Great Perhaps, namun mungkin itu melibatkan pengalaman tidak biasa dan berkesan dan tidak tertebak dan penuh gejolak - karena sudah mantap bagi Miles bahwa sekolahnya yang dulu di Florida tidak memberinya kesan itu, bahkan pesta perpisahan kepindahannya juga hanya dihadiri dua orang teman yang sebenarnya juga tidak banyak berkesan bagi Miles. Sampai akhirnya di Culver Creek ia pun bertemu dengan Alaska Young dan Chip "Colonel" Martin. 

"Kisah baru" Miles di Culver Creek pun diantarkan oleh keberadaan Alaska Young, yang memesona Miles sejak pertemuan pertama mereka dan Chip "Colonel" Martin yang merupakan teman sekamar Miles. Alaska dan Colonel ternyata tidak hanya menonjol dari kecerdasan mereka, tapi juga dalam kiprah mereka sebagai partner in crime - bersama dengan seorang murid asal Jepang, Takumi Hikohito. Dari mereka, Miles "mempelajari" lika-liku dan dinamika (#...) di Culver Creek yang sebenarnya tidak jauh berbeda dari sekolah-sekolah menengah pada umumnya (dalam fiksi, sih, terutama #...) yaitu dengan adanya golongan populer-dan-kaya, melanggar aturan secara sembunyi-sembunyi, sampai adanya "hukum sosial tak tertulis" antar murid. Colonel dan Alaska dikenal sebagai semacam "ahli" dalam pranks ("keusilan-keusilan" yang melibatkan trik-trik terencana sebagai suatu lelucon), dan seperti sewajarnya pun, Miles yang sebelumnya tidak pernah terlibat "debar-muda" (#...) menjadi terbawa dengan arus dan gejolak yang ditawarkan keduanya. Sebutlah, berkenalan dengan rokok, alkohol, juga dengan pemikiran-pemikiran keduanya yang tidak sedangkal kegemaran nge-booze (ya itu, minum-minum dan merokok) itu.

Dari Alaska Young sendiri, Miles pun "berkenalan" dengan kesukaan sang gadis pada puisi dan buku-buku yang menumpuk di kamarnya. Dari Alaska pula Miles mengetahui pemikiran dan pertanyaan tentang "jalan keluar dari sebuah labirin" yang diperkenalkan Alaska dari buku berjudul "The General in His Labyrinth".

"He - that's Simon Bolivar - was shaken by the overwhelming revelation that the headlong race betwen his misfortunes and his dreams was at the moment reaching the finish line. The rest was darkness. 'Damn it.' he sighed. 'How will I ever get out of this labyrinth?'"

Apakah "labirin" yang dimaksud itu dan bagaimana cara menemukan jalan keluar dari sana? Miles pun akhirnya harus menghadapi saat di mana ia berusaha menjawab pertanyaan itu setelah semua hal tidak bisa menjadi sama lagi A___A

Persoalan tentang "labirin" ini lah yang sepertinya merupakan "tema mendalam" yang dimaksudkan dalam kisah ini, di atas tema-tema yang lain tentu saja, misalnya dengan rasa suka Miles pada Alaska dan kedekatan dan "chemistry" keduanya meskipun Alaska sudah punya pacar. Meskipun demikian, bagi saya penceritaan yang membagi ke dalam bagian Before dan After tidak terlalu dapat "mengalirkan" (lah emang ledeng - o shush meself) "tema mendalam" itu dengan cara se-"menarik" berkembangnya persoalan tentang "melihat diri sendiri dan orang lain" dalam Paper Towns ataupun "menjadi bermakna bagi dunia" dalam An Abundance of Katherines. Apalagi dalam bagian Before, ya, yang kesannya malah lebih banyak menonjolkan gaya hidup mbeling (ini bahasa Jawa yes, artinya semacam "nakal" gitu lah) Colonel dan Alaska untuk ngerokok, minum alkohol, dan memperkenalkan pada Miles soal urusan anak muda itu lah (#...) - dan jujur saja saya tidak terlalu terkesan dengan keterlibatan tokoh-tokoh tersebut yang tinggi banget dengan rokok dan alkohol :/

Meskipun demikian, tetap saja buku ini ditulis dengan cara yang membuat saya betah untuk terus membalik halamannya dan ingin tahu apa yang selanjutnya terjadi. Bagian Before pun masih terasa tidak buntu karena saya bertanya-tanya bagaimana kelanjutan Miles dan Alaska, apalagi dengan progres interaksi mereka yang mengesankan adanya something there ((halah)) - terlebih dengan adanya sesuatu dari Alaska yang tidak mudah dipahami oleh Miles, antara lain dari cepatnya Alaska mengalami perubahan suasana hati dan perilakunya yang bisa sangat impulsif, tanpa pikir panjang dan tak tertebak.

Saya juga mendapati diri saya penasaran dengan adanya mata pelajaran World Religions di sekolah Miles, yang membuat Miles belajar tentang tradisi Kristiani, Buddhisme, dan Islam dan cuplikan bahasan-bahasan dari masing-masing tradisi agama itu cukup sering menjadi "media" untuk "mengomunikasikan" hal-hal yang sebenarnya akan berhubungan tentang persoalan "labirin". Sejujurnya sebagai (insya Allah) Muslim saya pun penasaran mengenai sejauh mana om John sudah mencari tahu tentang "pendapat" dari Islam, tapi nampaknya saya harus puas dengan kenyataan kalau bagian penjelasan-dan-penghubungan dengan tradisi religius menjadi tidak terlalu menonjol.

Sampai akhirnya pada bagian After, saya jadi mau tak mau ya merasa tidak menyangka meski tidak terkejut sekali. Adanya bagian After setelah kejadian membahana yang mengakhiri bagian Before membuat saya makin yakin kalau cerita ini sama sekali gak mirip dengan Paper Towns = =. Meskipun demikian, bagian ini justru sedikit banyak "mengembalikan" arus cerita untuk bisa lebih fokus pada masalah-masalah "tema mendalam" daripada soal "lika-liku anak SMA" yang lebih kental sebelumnya, meskipun oke deh ada emang yang lucu dan seru ^^;;. Menarik, sih, untuk mengikuti bagaimana Miles mencoba menjawab pertanyaan tentang jalan keluar dari labirin dan menguak misteri tentang Alaska. Saya cukup terkesan dengan "kesimpulan" Miles di sini tentang apa yang sudah terjadi dengan dia dan Alaska, tentang bagaimana jawaban versi Miles dalam persoalan tentang "labirin", juga apa pelajaran dan pemahaman yang didapat dari mengenal gadis itu - masih dengan menyediakan hubungannya dengan masa muda dengan segala gejolaknya.

When adults say, "Teenagers think they are invincible," with that sly, stupid smile on their faces, the don't know how right they are. We need never be hopeless, because we can never be irrepably broken. We think that we are invincible because we are. We cannot be born and we cannot die. Like all energy, we can only change shapes and sizes and manifestations. They forget that when they get old. They get scared of losing and failing. But that part of us greater than the sum of our parts cannot begin and cannot end, and so it cannot fail.

Meskipun demikian, saya mendapati bahwa keseluruhan cerita dan ataupun "tema mendalam" yang saya harap untuk temukan menjadi tidak terlalu berkesan dan jika dibandingkan dengan judul-judul lain dari om John yang lain yang sudah saya sebut ya kesannya pun yang dari kisah ini jadi mediocre (biasa aja ://). Apa mungkin karena ini juga buku yang lebih awal ditulis ya, gak tahu juga saya hehe. Meskipun begitu, kemampuan penulisan John Green untuk menceritakan tokoh-tokoh dan pemikiran yang unik dan menarik tetap bisa ditemui di sini, apalagi kalau Anda memang berniat membaca buku-bukunya beliau. Selain itu, meskipun memang dominasi "gejolak muda" memang banyak dihadirkan dalam buku ini, masih ada ruang yang berkesan untuk menampilkan soal hubungan keluarga ((yes this never fails for me)) yang juga potensial untuk didiskusikan.

This review is submitted for Books in English Reading Challenge 2014
Curious to read it yourself? Get the book! 

You May Also Like

4 comments

  1. Halooo... Rasanya baru pertama ke sini ya. Salam kenal deh kalau gitu.

    First of all, aku rada-rada bingung baca review ini :D Mungkin karena banyak istilah2nya Green yang diterjemahin sendiri ya. Aku somehow pengen banget ngoleksi buku2 Green semuanya, baik menurut orang itu jelek atau bagus. Aku baru baca TFiOS dan rasanya 120rb terbuang percuma. Apa karena aku kurang paham sama slengekannya ya? Rasa haru dan sedih yang dibilang orang2 juga nggak aku rasain sama sekali. Entah yang salah aku atau bukunya hehe makanya sampe sekarang belum nulis review.

    Sekarang sih aku lagi baca An Abundance of Katherine versi GPU. Entar pengen dicompare sama yang english version ah. Doakan bisa suka juga ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih suah mampir kak Ratri :))

      Ah, membingungkan ya... Maaf sebelumnya karena jadinya tidak membantu dengan review ini, tapi saya sudah berusaha memperbaiki reviewnya hehe. Agak bingung sih istilah mana yang saya terjemahin sendiri, tapi saya sudah kasih penjelasan soal istilah asing yang ada dalam review ini kok.

      TFIOS memang mungkin agak sulit dipahami, ya, kalau mungkin belum terbiasa dengan gaya bahasa om John, hehe. Saya pertama kali baca buku om John juga TFIOS tapi yang bahasa Indonesia, jadinya sudah lebih agak paham daripada harus berhadapan langsung dengan bahasa Inggrisnya, Tapi semua orang punya pendapat masing2 kok xD

      Happy reading, I would love to know the comparation^^

      Delete
  2. Haii, LFA ada yg bahasa indonesia gak ya? Kalo ada, dijual dimana? Makasih :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo, kak Devy^^ maaf saya baru baca komennya #...
      LFA dijual edisi bahasa Indonesia kan ya dari Penerbit GPU, rasanya sudah diterbitkan kok dan dijual di tokbuk terdekat?^^

      Delete