Saturday, May 10, 2014

Zhi, Xi. A DANDELION WISH.

Bai Qian Xun mencoba memikirkan pasiennya di rumah sakit. Pasien yang selalu mengumpat tadi. Keluarganya A Ban. Pemuda yang alis matanya sudah terluka namun tidak berani mengeluarkan sedikit pun suara kesakitan. Otaknya bermasalah...
Benar, kalau otaknya tidak ada masalah mana mungkin duduk di atas kap mobil orang lain?
Mengapa memikirkan dia lagi?...
Orang gila itu masih duduk di sana.
Cukup sudah! Begitu besarkah keinginannya terkena radang paru-paru?

Tahun terbit: 2014 (April)
Penerbit: Haru
Edisi: Paperback, bahasa Indonesia - dapat dari kerjasama dengan Haru
"Genre": Love, Interesting Premises
Get a copy of this book for yourself!

Bai Qian Xun selalu dikenal sebagai sosok "jagoan" dokter bedah yang tampak nyaris tak berhati dalam kehebatannya. Keputusannya untuk menampung seorang "pria gila" yang muncul dan duduk di atas kap mobilnya saat hujan badai lah yang mungkin membuktikan bahwa bai Qian Xun memang masih punya "rasa". Meskipun, bisa saja ketampanan pria itu juga yang mengambil bagian besar dalam keputusan Bai Qian Xun yang akhirnya merembet dari hanya berencana menampung si pria aneh tersebut selama satu malam menjadi enggan "mengusir" karena ketampanan si pria juga didukung oleh kemampuan memasak makanan kesukaan Bai Qian Xun dan membereskan keperluan rumah tangganya yang super-sibuk.

Hidup Bai Qian Xun selama ini sudah begitu "kokoh", teratur, dan terencana demi mewujudkan ambisi kesuksesan gemilang di dunia kedokteran, menyempurnakan pengharapan orangtua terutama sang Ibu yang sama-sama dokter bedah dan juga pengharapan dari menjadi seorang genius. Namun kehadiran pria itu - yang akhirnya menyebut dirinya Cheng Feng selama menunggu ingatannya pulih dari amnesia - lambat laun tidak hanya sekedar berguna baginya, tapi juga memberikan sebuah sudut pandang baru dalam menjalani hidup dan menikmatinya, serta sebentuk kenyamanan yang tak pernah dibayangkan ataupun diperkirakan oleh Bai Qian Xun - kenyamanan sederhana seperti perasaan memiliki rumah, ketika sepulang dari hari kerja yang melelahkan, ada seseorang yang menunggu dengan makanan panas di dalam apartemennya.

Cheng Feng juga lah yang membuat tidak hanya rasa cinta yang timbul pada Bai Qian Xun, tapi juga gagasan bagi sang dokter untuk mengambil jeda dan menikmati hidup tanpa terus menerus dikejar oleh ambisi suksesnya. Pesona dan kehangatan Cheng Feng sudah membuat Bai Qian Xun merasa terlalu nyaman dan enggan kehilangan, membuatnya ingin selalu mempertahankan Cheng Feng di sisinya.

"Bunga dandelion membawa permohonan kita dan juga permohonannya sendiri terbang melayang. Semakin tinggi dan semakin jauh dia terbang, semakin besar pula peluang permohonanmu terkabul," Cheng Feng berkata.
"Bunga dandelion itu memangnya punya permohonan apa?" Bai Qian Xun mencemooh.
"Dia ingin mencari tanah yang baru, jatuh di atasnya, dan tumbuh di sana, berkembang biak."
...
Bai Qian Xun menatap bunga dandelion yang ada di teras. Ketika Cheng Feng tidak menyadarinya, wanita itu menarik sekuntum bunga, berdoa, lalu memikirkan sebuah permohonan.
Semoga Cheng Feng akan tetap berada di sisiku selamanya.


Namun, bunga dandelion yang ditiupnya tidak menerbangkan semua bijinya, mungkinkah permohonan Bai Qian Xun akan terkabul? Tidak ada yang tahu kemana Cheng Feng akan menuju setelah ingatannya beruangsur-angsur mulai pulih dalam kilasan-kilasan, tapi Bai Qian Xun tidaklah seorang yang cepat berkecil hati, ia akan mempertahankan Cheng Feng di sisinya selama mungkin. Tidak masalah meskipun pria itu menganggur, Bai Qian Xun memiliki gaji besar. Tidak masalah juga meskipun Cheng Feng bukanlah sesama dokter yang ada dalam rancangan sempurnanya dan ibunya sejak dulu. Ya, bahkan jika harus menentang pengharapan sang Ibu dan menerima resiko dianggap sebagai anak yang mengecewakan - ini adalah hidup Bai Qian Xun, dan setelah selama ini patuh pada pengharapan-pengharapan dan rencana demi kesuksesannya, apakah salah jika ia memilih hal besarnya sendiri demi kebahagiaannya?

Dari awal, blurb (ringkasan di bagian belakang buku) buku ini sendiri sudah menarik dan membuat penasaran tentang bagaimana penyajian ceritanya, meskipun jujur saja saya tidak menaruh ekspektasi besar bahwa ceritanya akan bergulir bagus dan berkesan. Kisah cinta dan romansa Asia sudah banyak ditawarkan baik lewat novel, drama atau film dan saya memang selama ini tidak terhitung bisa menikmati semuanya dan merasa terkesan.

Bagian-bagian perempat awal novel ini pun membutuhkan sejumlah penyesuaian terhadap kalimat-kalimat terjemahannya yang terasa seperti "berlagu", lalu juga memuat ungkapan-ungkapan yang ketika dibaca memang agak membuat "geli" karena lumayan hiperbola dalam deskripsi seperti tentang betis Bai Qian Xun yang "panjang, putih, mulus, dan sempurna" yang diselipkan xD. Cara pengarang untuk menyajikan pikiran langsung dari suatu tokoh dalam alinea baru dan secara utuh dalam kalimat yang hanya dibedakan dengan cara ditulis miring (di kutipan dalam review ini saya buat tebal) juga pertamanya membuat saya agak bingung. Meskipun demikian, saya mendapati penuturan dari segi "bahasa" ataupun "artikulasi" penceritaannya tidak mengganggu kenyamanan membaca dan menyelami ceritanya.

Tokoh Bai Qian Xun toh pada akhirnya memang wanita "biasa" juga meskipun dia digambarkan sangat gahar dalam reputasinya sebagai dokter bedah di rumah sakitnya, entahlah dengan tokoh Cheng Feng yang mungkin cukup luar biasa karena secara konsisten digambarkan sebagai pria yang baik dan idaman. Kedua tokoh utama ini sebenarnya mungkin tidak terlalu "bisa ditestimonikan" sebagai karakter yang "kuat" sendiri-sendiri, yang saya maksud di sini adalah saya sebenarnya menganggap bahwa bagaimana "aslinya" Bai Qian Xun dan Cheng Feng dalam apa yang dideskripsikan tentang mereka dan apa yang benar-benar mereka tampakkan sepanjang cerita mungkin pada akhirnya bisa diserahkan ke pembaca xD. Saya sendiri menganggap bahwa Bai Qian Xun itu sebenarnya orang yang masih "polos" banget, meskipun indeed dia bisa sangat gahar dan dingin nan tak berhati, lalu Cheng Feng lah yang bisa memerhatikan dan membuat Bai Qian Xun merasa nyaman dan melepas "topeng"nya.

Ceritanya sebenarya arahnya bisa ditebak karena siapa juga yang akan mau mengusir cowok super ganteng, perhatian, bisa masak dan bersih-bersih dan tidak jatuh hati. Pada akhirnya kisah yang terjadi di antara mereka sudah lebih dari cukup untuk mendukung bagaimana kedua tokoh itu menanggapi konflik di antara mereka jadi menarik untuk dibaca, salut deh sama penulisnya yang membuat ceritanya "jatuh" tidak picisan, dalam artian membuat pembaca seperti saya bisa bersimpati sama permasalahan tokoh utamanya.

Sejauh mana saya bisa bersimpati pada konflik yang dialami, bisa dilihat dari bagaimana saya ternyata bisa menitikkan air mata juga saat membaca babak-babak "puncak"nya, karena saya jadi sedih melihat cara Bai Qian Xun menghadapi perasaan terluka dan sedihnya dalam "topeng" gahar dan dinginnya itu, salut pada pengarangnya juga pada hal ini. Ini sedikit agak kurang elegan untuk diakui, tapi dalam kepentingan memberikan gambaran pada bagaimana pengalaman saya membaca buku ini, ya sudahlah ya. Mengapa saya juga sampai pada tahap "mewek" begitu juga karena eksekusi alur ceritanya (ehem bahasanya) melebihi ekspektasi saya akan bagaimana cerita romens semacam ini biasanya akan sampai pada akhirnya, karena proses menuju akhir ceritanya terhitung bisa diterima oleh akal dan realistis. Tokoh-tokoh pendukung selain kedua tokoh utama cukup mampu memberikan "dukungan" mereka masing-masing dalam membangun cerita sampai pada akhirnya menjadi masuk akal dan bisa diterima. Sudah begitu, kalau memang ide cerita atau arahnya sebenarnya tidak "baru", saya akan bilang kalau saya tetap suka sama cerita dalam buku ini dan bisa menerima "logika"nya.

Hal lain yang membuat saya juga suka dan bisa "menerima logika"nya adalah bagaimana konflik dengan orangtua Bai Qian Xun tidak membuat romensnya menjadi picisan, dalam hemat saya yang sebenarnya kurang suka melihat konflik pertentangan terhadap orangtua. Tokoh Cheng Feng dalam sifatnya yang baik dan "mulia" ini lah yang membuat saya lebih "tenang", selain menenangkan Bai Qian Xun sendiri.  

"Mengapa kau bisa merasa bahwa yang mengikatku dengan kedua orangtuaku adalah hubungan keluarga, bukan ketamakan ataupun hal lainnya?" Bai Qian Xun bertanya lagi.
"Jangan begitu. Mungkin cara yang mereka gunakan memang salah, tapi aku percaya, mereka memperhatikanmu."

Secara keseluruhan, buku ini bukan buku yang sempurna secara subjektif bagi saya, tapi saya sudah menganggap buku ini sudah cukup bernilai untuk dibaca bagi penyuka kisah romantis yang bisa memupuk simpati pembaca xD Terima kasih banyak bagi Penerbit Haru yang sudah memberi saya kesempatan membaca buku ini dengan rasa mbayar (ora usah mbayar = tidak usah membayar = gratis = saya memang kebangetan).

***

This review are also submitted for Ren's Little Corner New Authors Reading Challenge  

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Back to Top