Sunday, May 18, 2014

Apsari, Novellina. FANTASY.

"Suatu hari aku akan bertemu dengannya lagi, entah hanya untuk mengucapkan selamat tinggal lagi atau bersama kembali. Hari itu akan datang. Hari di mana kita akan menjalin takdir kita dengan takdirnya lagi. Love doesn't conquer all, faith does."

Tahun terbit: April 2014
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Edisi: Paperback, bahasa Indonesia
"Genre": Love, Interesting "Premise", Metropop, Abroad Setting
Terima kasih telah memberikan kesempatan bagi saya mengulas buku ini dan mengirimkannya, kak Dion Yulianto dan kak Novellina sang author-sensei^^ *permisi terharu bin pamer dapat ttd penulis*
Pertama-tama, harus dikatakan kalau kavernya klasik dan cantik sekali dengan warna hitam yang mendominan serta judul buku yang dicetak seolah membentuk kaligrafi dengan garis-garis partitur, lalu dengan sentuhan gambar piano dan aksen "white dusts" yang terlihat seperti serbuk peri, atau apa, yang jelas cantik deh jadinya. Kaver buku ini adalah bukti kalau desain kaver novel lokal itu sama sekali nggak kalah dengan buku-buku luar ;)), dan juga secara keseluruhan merupakan kaver yang sesuai untuk "membungkus" kisah di dalamnya yang temanya cukup agak jarang dan menarik minat saya yaitu tentang piano dan musik klasik.  

Ada Armitha dan Davina yang bersahabat sejak SMA, lalu hadir Awang yang mulanya meminta Davina mengenalkannya pada Armitha, lalu dari sini mungkin sudah bisa sok-sok diperkirakan bahwa akhirnya akan jatuh segitiga juga dan memang benar (maaf dan jangan goreng saya xD) - Awang dan permainan pianonya berhasil memukau Davina dan Armitha dengan cara tersendiri bagi kedua gadis itu. Namun kisah tidak terjalin hanya seputar cinta dengan mediasi piano, namun bersanding dengan tema tentang mimpi, mimpi untuk bisa meraih prestasi di bidang musik klasik bagi Awang dan Armitha, yang dengan cara masing-masing juga menyadari bahwa di piano-lah passion mereka. 

Perjuangan cinta dan mimpi pun tidak mudah, untuk mengejar mimpinya, Awang harus pergi ke Jepang mengambil kesempatan beasiswanya begitu lulus SMA, dan Davina serta Armitha tidak bisa mencegahnya. Kepergian Awang menyisakan "kesedihan" bagi kedua sahabat yang tetap harus melanjutkan hidup masing-masing; Armitha yang melanjutkan studi pianonya di Prancis, dan Armitha yang kuliah di... ehm, tidak dicantumkan sih, mungkin masih di Surabaya (#...). Jeda sekitar delapan tahun sedikit-banyak toh "mengubah" seseorang juga (tsah), antara lain Davina yang akhirnya sadar dan bertekad untuk memperjuangkan cinta dan mimpi dengan menemui Awang ke Jepang, lalu Armitha yang ditempa dengan ujian berat dalam jalannya menuju mimpi dan cintanya pula.

Kami pernah memiliki kenangan indah dan berharap ia bisa mengingat itu meskipun sedikit. Aku percaya hati manusia bukanlah air susu yang akan mudah menghitam karena setetes tinta. Akan ada kemungkinan, walaupun sesaat, di dalam hati manusia, ruang singkat untuk kembali merindukan seseorang yang pernah hadir dalam hidupnya tidak peduli betapa pekatnya kebencian yang ia miliki.

Persahabatan, cinta, dan ketulusan pun diuji, kisah ketiganya mungkin seperti sebuah komposisi musik, memiliki klimaks sekaligus bagian akhir yang menjadi penutup, akhir seperti apakah yang terjadi dalam cinta dan mimpi di antara mereka bertiga?

Ada cukup lompatan-waktu dalam penceritaan novel ini, mengingat bahwa antara pertemuan awal di SMA sampai perpisahan bertahun-tahun memang mungkin akan sangat padat jadinya, jadi penceritaan yang memakai sudut pandang bergantian antara Armitha dan Davina pun dituliskan seperti potongan-potongan peristiwa penting yang terjadi dalam bagian waktu satu tahun atau pada waktu spesifik di antara "jeda" tersebut. Cukup susah memang untuk membuat perpisahan bertahun-tahun itu sampai pada kejadian-kejadian "kini" dalam cerita yang dimaksudkan secara sesuai dengan perkembangan psikis (eheumsz) karakter-karakternya xD, namun buat saya eksekusinya cukup berhasil untuk membuat pembaca paham konflik-konflik yang dimaksudkan.

Resiko yang saya rasakan sih, tanpa bisa dielak bagi saya adalah agak sulit juga bagi saya untuk benar-benar bisa membedakan penceritaan dan "dinamika" seorang tokoh di waktu tertentu dan mengejarnya dengan jalur waktu "kini" ceritanya saat Davina sudah menyusul Awang ke Jepang. Meskipun sebenarnya pembagiannya sudah dicantumkan dengan cukup jelas, namun emang dasar sayanya yang suka lambat mengejar dan memperhatikan xD. Sederhananya, saya cukup "lose count of time gap" saat membaca bagian-bagian tertentu. Selain itu, tanpa bisa saya hindari untuk persepsikan adalah bahwa ceritanya kadang jadi terasa cepat "sampai ke sana", terutama yang paling terasa waktu menceritakan saat ketiga tokoh utama masih SMA, karena notabene juga diceritakan di bagian awal setelah prolog (ketika Davina sampai Jepang). Selain masih membiasakan diri, juga jadi membuat saya agak heran karena kisah ketiganya saat SMA yang mungkin dalam "kenyataan" memakan waktu beberapa minggu untuk membuat perubahan relasi antar-tokoh jadi disajikan dengan jarak lembar yang cukup dekat dari keadaan sebelumnya. Pembaca ya harus puas dengan bagaimana si aku (entah Davina atau Armitha) menceritakannya dari sudut pandang masing-masing lalu mengikutinya.

Kesan cepat "sampai ke sana" itu ternyata memang mungkin menjadi bagian dari pengungkapan-besar yang mengantarkan menuju ending, sih, seolah yang disajikan adalah potongan-potongan puzzle yang akan baru bisa utuh di ending cerita yang menjawab dan menyelesaikan cinta segitiga ketiga tokoh utama. Namun yang juga dirasakan adalah kesan bahwa pada suatu "babak" tertentu dari jalannya konflik-konflik "kini" ketiga tokoh utama, "kesenjangan" atau "gap"nya memang terasa juga karena "pengungkapan-besar" di akhirnya ternyata berhubungan dengan hal yang mungkin terjadi di antara peristiwa-peristiwa yang diceritakan, maksudnya ya yang memang otomatis enggak diceritakan ke pembaca atau "diakui" oleh si narator sudut pandang. Bukannya peristiwa-peristiwa yang diceritakan juga nggak mendukung cerita sama sekali sih, cuma jatuhnya bagi saya adalah mengikuti cerita yang "tersaji" itu seperti memberikan pertanyaan cukup besar yang akhirnya baru bisa cukup "terjelaskan" setelah sampai pada ending cerita.

Pertanyaan yang saya maksud itu seperti soal perilaku dan sikap Awang ke Armitha dan Davina yang entah kenapa kok ya kesannya kabur antara ke sahabat atau orang yang dicinta, dan saya mendapati diri saya agak kurang "dapet" pada unsur romens-romens yang tersaji sebagai peristiwa dalam babak-babak - dan sebagai gantinya, unsur "mimpi dan musik klasik"nya jadi yang makin terasa lebih enak untuk dinikmati saat dibaca, tentang gimana Awang dan Armitha main piano dan perasaan-perasaan mereka juga perkembangan-perkembangan mereka ♥, juga penjelasan soal sonata-sonata dan feel ketika seseorang memainkan atau mendengarkan permainan piano - meskipun ternyata terwujudnya mimpi dan musik klasik itu juga karena kontribusi "cinta" yang diungkap terakhir.

Saya sendiri sangat mengapresiasi dan memuji penulis dalam kesungguhannya menampilkan unsur musik klasik dan piano yang sama sekali bukan unsur tempelan dalam cerita ini, meskipun memang saya agak cukup menyesal untuk tidak bisa terlalu bersimpati atau memahami ketiga tokoh utamanya xD, karena ternyata turn of events yang berpengaruh dalam tema "mewujudkan mimpi" sebenarnya merupakan kontribusi dari "kebaikan hati" dan keikhlasan salah satunya tapi tidak cukup banyak kesempatan di sepanjang cerita untuk bisa membuat pembaca menyadari hal itu dan menghayati serta memahaminya sejak awal.

Tapi saya juga harus mengakui kalau saya sempat berpikir kalau ketiga tokoh utama ini mungkin memang saling punya flaw (kekurangan) dan kesalahan dalam romance/friendship relationship conflict mereka, etapi ternyata tetap ada satu pihak yang lebih punya major mistakes dibanding yang lain dan ituu somewhat membuat saya agak "kecewa" :/ Saya yang sudah membaca sudut pandang-sudut pandang yang cukup bertentangan antara Davina dan Armitha dalam "perjalanan" mereka dengan "rasa" mereka terhadap Awang jadi merasa seperti dihutangi sesuatu oleh penulis untuk bisa "membayar" apa yang sudah saya gak sadari dari awal, setelah terlanjur menerima sinisme Armitha yang terasa lebih sugestif bagi saya untuk "percayai" dibanding narasi Davina yang ya gitu, goody-goody meski galau. Iya, endingnya tidak mengambil jalan mudah, bisa diterima akal, tapi tetep saja agak merasa sudah dimanipulasi sedemikian rupa gitu sih jadi bisa nerima juga akhirnya memang gitu =))

Dari situ, saya justru lebih memilih tokoh Brian, menejer Awang sebagai tokoh yang saya suka karena saya bisa lebih memahami pikiran dan perilakunya dengan cukup memuaskan di samping "kenampangan"nya yang terhitung lebih kecil xD tapi memberikan kompensasi pada endingnya. Saya jadi cukup penasaran juga jadinya dengan "untold stories"nya dia yang dimulai dari pertemuannya dengan Awang, sampai gimana dia di satu sisi "berjasa" dalam cerita ;))

  
WHOOPS, om Jim udah ngingetin, kayaknya sebelum saya kedodoran memberitahukan hal-hal yang saya simpan agar bisa Anda baca sendiri, saya bakalan memberikan simpulan utama kalau overall buku ini pantas dibaca banget untuk Anda yang tertarik pada piano dan musik klasik, juga bagi Anda yang ingin membaca kisah yang menarik tentang insan-insan manusia yang berjuang demi cinta dan mimpi terlepas dari keraguan, keputusasaan, kecemburuan, dan kebimbangan. Siap-siap untuk rada mupeng pada "petualangan" dan "kisah" tokoh-tokohnya yang berlatar dari Surabaya, Tokyo, Singapura, Paris, Berlin hingga Wina, dan jangan skeptis pada catchphrase buku ini bahwa "love doesn't conquer all, faith does." Lastly, saya bener-bener serius soal permintaan tentang side-story tentang tokoh Brian, pretty please, author-sensei? xDD

"You are my Fantasy in D minor, my ending from my search of happiness."   

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Back to Top