Monday, July 16, 2018

Geiger, A. V. FOLLOW ME BACK Review (BLOGTOUR & GIVEAWAY ALERT!)

Perhatian, penggemar. Kalian tdk mencintaiku, bahkan tdk mengenalku. Aku TDK AKAN mencintai kalian. Taruh ponsel, keluar, dan hiduplah.
(hlm. 32)

Tahun terbit: 2018
Penerbit: Spring
Edisi: Paperback, bahasa Indonesia
Genre: Interesting Premise, Thriller, Millenials, Young-Adult

Kalimat yang saya kutip barusan adalah isi tweet yang sebenarnya ingin Eric Thorn postingkan seandainya ia bisa benar-benar jujur pada jutaan penggemar yang mengikuti akun Twitternya. Namanya juga resiko jadi idola pop terkenal dunia, ya, tapi saya harap kalian nggak terburu-buru menuduh Eric seorang yang nggak bersyukur dan nggak menghargai penggemarnya karena bahkan idola ngetop juga manusia 'kan? Menjadi terkenal dan memiliki jutaan fans bukan sebuah kondisi yang mudah dipahami semua orang. Usianya delapan belas, dan meskipun bakat musiknya telah mengantarkannya menuju ketenaran, ternyata konsekuensi yang mengikutinya mungkin terlalu "tega" bagi seseorang seusianya. Kontraknya dengan label rekaman menuntutnya untuk bisa selalu tampil demi profit dan "kepuasan" penggemar yang bahkan mungkin sebenarnya tidak terlalu peduli seperti apa musiknya dan akan puas dengan wajah ganteng dan tubuh sixpack nya.

Animo para fans pun makin menjadi ketika tagar #TerobsesiEricThorn yang dimulai oleh Tessa Hart menjadi trending topic worldwide. Ini mungkin kabar baik bagi publisis dan label rekaman Eric, yang kemudian menyuruh Eric membuka sesi mengikuti-balik penggemarnya. Namun Eric tidak bisa mengenyahkan ketakutannya bahwa di antara jutaan penggemar itu mengintai kegilaan dan obsesi yang akan mencelakainya ketika Eric memberikan celah untuk membuat imajinasi obsesif yang maladaptif itu semakin tidak terkendali hanya karena mengikuti-balik, seperti yang dialami Dorian Cromwell yang diduga tewas karena diserang seorang penggemar yang akunnya diikuti-balik. Andai saja segala kehebohan tentang dia bisa mereda, mungkin ia akan bisa lebih tenang, setenang yang dimungkinkan oleh seorang bintang pop remaja.

"Setiap kali Eric menatap lurus ke kamera, kau bisa melihat pendaran rasa takut."
(hlm. 11)

Tessa Hart adalah satu dari jutaan followers Eric Thorn di Twitter. Meski juga sering menunjukkan reaksi fangirling pada ketampanan dan keseksian Eric, Tessa merasakan bahwa lebih dari raut wajah keren dan penuh senyum Eric untuk menghipnotis penggemarnya, ada sesuatu dalam diri Eric yang berbicara kepadanya. Menjadi seorang gadis yang berusia sama dengan Eric dan mengalami kondisi agorafobia membuat Tessa selalu dikelilingi kecemasan tidak masuk akal yang membuatnya menakuti dunia luar dan bertemu orang lain (kecuali terapisnya, ibunya, dan Scott pacarnya), terutama semenjak yang dialaminya di New Orleans.

Dengan bantuan Dr. Regan, terapisnya, Tessa mencoba menaklukkan fobia yang dimilikinya ini, dan Tessa harus memanfaatkan semua sarana yang bisa diraihnya untuk membuatnya bisa mulai kembali berinteraksi dengan dunia luar. Internet dan Eric Thorn ternyata menawarkan peluang baginya untuk memperbaiki kondisi. Kesan lebih dalam yang ditangkap Tessa dari semua yang ditampilkan Eric Thorn membuat Tessa menjadi penuh dengan gagasan yang akhirnya dituangkannya dalam bentuk fanfiksi berjudul "Terobsesi". Fanfiksi yang ditulisnya di Wattpad dan ia bagikan di Twitter dengan tagar #TerobsesiEricThorn tersebut pun menjadi viral dan trending. Lagu "Aloe Vera" dari Eric Thorn menjadi favorit Tessa untuk didengarkan berulang kali karena suara merdu Eric dan lirik yang dinyanyikannya seperti memahami perasaan Tessa walau mungkin saja yang dimaksud Eric dalam lagu itu tidak seperti yang diinterpretasikan Tessa untuk dirinya sendiri. Bisa saja Tessa hanya memroyeksikan kecemasan dan ketakutannya pada sosok Eric Thorn dalam bias proyeksi. 

Terhubungnya Eric yang ingin menghentikan kehebohan #TerobsesiEricThorn dalam interaksi dunia maya dengan Tessa yang memulai kehebohan itu lambat laun menarik benang merah di antara keduanya yang sekilas nampak hidup di kehidupan yang terlalu kontras untuk saling memahami. Koneksi Eric dan Tessa pun tak lepas dari sisi gelap Internet yang kemudian membuat hal yang ditakuti dalam bayang-bayang akhirnya menampakkan diri. Bagaimana Eric dan Tessa akan menghadapinya?

Sarat dengan Tema dalam Realita Meski Berangkat dari Dunia Maya 

Dunia perfandoman yang diangkat dalam buku ini melalui keberadaan tokoh yang diceritakan sebagai seorang musisi ternama dan terlibat dengan seorang penggemarnya cukup menarik bagi saya karena penasaran seperti apa perkembangan cerita dan konflik yang akan disajikan. Bagi angan-angan seorang penggemar, tentunya kesempatan untuk bisa terhubung dengan idolanya terasa sepadan dengan impian yang jadi nyata, namun kenapa rasanya ada indikasi bahwa kejadiannya menjadi tidak "seindah" itu? Apa yang salah? Sepanjang saya membaca kurang lebih pertanyaan itulah yang membuat saya terus menyimak segala hal yang diceritakan terjadi. Follow Me Back bercerita dengan menggunakan variasi cara penceritaan yang tidak hanya dalam uraian-uraian paragraf deskripsi dan dialog tapi juga penyajian tampilan interaksi daring di Twitter serta transkrip pemeriksaan kepolisian, di mana yang disebut belakangan bahkan sudah disajikan sejak awal membaca. Membuat bertanya-tanya juga kan apa yang terjadi sebenarnya sampai polisi juga terlibat? Bukan hal yang sulit rasanya bagi novel ini untuk membuat pembaca penasaran memusatkan perhatian menyimak ceritanya. Tiga ratus-an halaman jadi nggak terasa, sih.

Dari segi penokohan, A. V. Geiger mampu dengan baik mengenalkan kedua tokoh utamanya pada saya sebagai pembaca sampai saya bisa merasa cukup bisa memahami dan bersimpati pada mereka. Usia kedua tokoh bisa dibilang masih remaja, namun baik tokoh Eric maupun Tessa berada dalam situasi yang mungkin tidak bisa dengan mudah dipahami, bahkan oleh pembaca yang seusia mereka. Geiger mampu menarasikan interaksi mereka dengan lingkungan serta dinamika pengalaman mental mereka sedemikian rupa sehingga kita bisa memahami apa yang mereka rasakan, pikirkan, dan lakukan. Bagaimana Eric mengalami perasaan takut dan cemas ketika menjadi populer, yang membuat segala kemewahan dan glamor menjadi tidak sebanding; bagaimana kompleksnya perjuangan Tessa menghadapi simtom-simtom kecemasannya yang sama sekali tidak dilengkapi sakelar on-off.

Sebagai orang yang mempelajari psikologi sewaktu kuliah, saya sangat kagum dengan cara Geiger menggambarkan pengalaman Tessa dengan kondisi agorafobianya. Rasanya sangat believeable, dan seperti penyegaran terhadap teori-teori yang dipelajari semasa kuliah dulu (monggo yang mau nebak saya lulus tahun berapa). Sangat menarik melihat bagaimana Dr. Regan berinteraksi dengan Tessa di sesi-sesi terapi mereka yang juga diceritakan secara cukup mumpuni; misalnya bagaimana Tessa diminta menuliskan jurnal, bagaimana Tessa seperti dipancing untuk bisa menginterpretasi mengapa ia berpikir dan merasakan yang dipikirkan dan dialaminya, teknik-teknik apa yang diajarkan dan diterapkan agar Tessa bisa menghadapi simtom-simtomnya. Jadinya setiap ada sesi terapi yang kita simak, kita juga bisa mengenal dan memahami Tessa, dan mungkin bahkan orang lain dengan kondisi serupa.

Bisa dibilang dari tokoh Tessa bisa dipetik adanya sarana menuju kesadaran kesehatan mental berupa gambaran pengalaman seseorang dengan kondisi gangguan mental, khususnya gangguan kecemasan. Nampak bahwa Geiger punya cukup referensi pada kondisi-kondisi psikologis dengan sejumlah rujukan ke istilah-istilah psikologi dalam cerita untuk menggambarkan dinamika yang sedang dialami karakter, misalnya bias proyeksi atau katastrofe. Yang disebut belakangan ini malah baru saya ketahui gara-gara baca buku ini, hehe. Tidak berlebihan rasanya jika menurut saya aspek humanity yang terbangun atas diri Eric dan Tessa pun menjadi lebih kuat, karena meskipun tentunya (iya kan?) mereka hanyalah fiksi, namun apa yang mereka alami sangatlah organik seperti yang lumrah dialami manusia biasa.

...jiwa kesepian yang menangis ditemani cahaya redup ponsel masing-masing.
(hlm. 237) 

Menilik dari segi cerita, saya rasa Geiger juga berhasil membuat cerita dengan kerangka yang rapi dari permulaan, munculnya konflik hingga klimaks, hingga penyelesaian. Cerita bergulir dengan progresi yang erat memaku saya untuk makin mengantisipasi klimaks, seperti menahan nafas mempersiapkan diri pada apapun yang sedang mengintai dan menunggu saat yang tepat untuk mengejutkan pembaca. Bahkan penceritaan yang tidak selalu linear karena kadang alurnya juga mengambil sesi untuk "mundur" tidak terasa sulit untuk dicerna dan malah makin membangun engagement untuk terus menyimak.

Cara Geiger untuk meramu konflik di latar cerita yang berkaitan dengan media sosial dan per-fandom-an (tolong ingatkan saya padanan kata yang lebih bagus jika Anda tahu), dimana "dunia" itu terkait dengan obsesi, interaksi dunia maya yang bisa dengan mudah dimanipulasi dan menjadikan kita anonim, sangat menarik dan patut diapresiasi. Apa hal yang menimpa Tessa di New Orleans sampai ia berada dalam kondisi agorafobia-nya ini? Apa yang terjadi dengan interaksi dunia maya Eric dan Tessa? Pertanyaan-pertanyaan yang mungkin diharapkan pembaca untuk dijawab bisa dibilang ternyata akhirnya akan mendapat titik terang dan menjadi satuan gambaran puzzle utuh yang membuat kita bisa dengan cukup puas dan "terbayarkan" setelah "kesetiaan" mengikuti rentetan cerita hingga konklusi.

Sebuah balasan. Mungkin juga diikuti-balik. Sejumlah tanda perhatian dari akun yang mungkin saja tidak mengetahui keberadaan dirinya. Respons kecil yang mengucapkan kata-kata yang dia idamkan: "Aku melihatmu... aku memperhatikanmu... aku tahu kau ada... aku mencintaimu balik... aku juga mencintaimu..." Apapun untuk mengetahui pesannya telah diketahui oleh si penerima dan bukan terbuang ke dalam jurang kekosongan.
(hlm. 315)

Terlepas dari banyak hal yang bisa diapresiasi dari buku ini, ada beberapa ganjalan yang harus saya ungkapkan, barangkali bisa menegaskan keautentikan pengalaman saya dalam ulasan penuh subjektivitas ini. Bukannya dengan sengaja dan memaksa mencari hal untuk "diprotes", sih, tapi lebih ke berbagi kesan yang mungkin saja hanya subjektivitas saya dan mungkin akan dianggap berbeda kalau kalian sudah baca juga.

Ada rasa keberatan yang saya rasakan terhadap kurang ditunjukkannya keterlibatan ibu Tessa (yang diceritakan memang tinggal serumah) dengan perjuangan dan perkembangan Tessa menghadapi kondisinya dalam hal interaksi dan dinamika hubungan mereka sebagai ibu dan anak. Entahlah, mungkin karena pada dasarnya saya sangat menilai tinggi peran keluarga dalam hidup, bahkan dalam fiksi. Saya merasa Geiger masih kurang maksimal menunjukkan interaksi atau dinamika antara Tessa dan ibunya, padahal dalam hal menghadapi gangguan mental, keluarga tentunya menjadi faktor penting terhadap progres kemajuan orang dengan gangguan mental. Rasanya yang Geiger tunjukkan masih terlalu berat dari sisi atau sudut pandang Tessa yang menganggap ibunya menilainya sebagai beban, terlepas dari benar atau tidaknya itu. Saya bisa memahami jika mungkin Scott sebagai pacar Tessa merasakan beban menghadapi Tessa, namun untuk karakter ibu Tessa rasanya masih perlu dan bisa digali lagi oleh Geiger; ketimbang menunjukkan bagaimana susahnya buat Tessa menghadapi Scott.

Selain itu,  pada saat menjelang, atau mungkin pada saat klimaks, saya sempat merasa sedikit ter-disconnect (istilah yang rasanya cocok karena latar cerita yang banyak melibatkan sosial media) untuk bisa menerima logika dari kondisi yang sedang diceritakan. Tidak akan saya jabarkan secara detail seperti apa untuk menghindari spoiler, hanya saja poin saya adalah ada sejumlah hal yang sebenarnya bisa diketahui suatu karakter tanpa kesulitan berarti namun nampak dibiarkan oleh Geiger untuk tetap tidak diketahui sehingga jangkauan interaksi antar-karakter menjadi terbatas. Mungkin hal itu disengaja untuk membangun ketegangan dan mendongkrak sensasi greget pada klimaksnya. Sekali lagi itu cuma opini saya ya, dan pada dasarnya tidak merusak pengalaman membaca saya.

Justru yang membuat saya tidak habis pikir karena sebegitu tidak menyangkanya adalah pemahaman yang saya dapat setelah merasa sudah menyelesaikan cerita - yaitu bahwa Follow Me Back adalah bagian pertama dari sebuah duologi. Iya, ternyata akan ada lanjutan dari kisah Follow Me Back dalam buku kedua atau lanjutan yang berjudul Tell Me No Lies; dan betapa hanya butuh satu lagi transkrip penyelidikan polisi di akhir cerita untuk membuka ruang bagi sekuel atas kisah Follow Me Back. Apakah saya menantikan membaca Tell Me No Lies? Well, sejujurnya galau sih saya kalau harus jawab sekarang, karena saya merasa ada sebagian besar diri saya yang lebih suka dengan kesimpulan yang saya dapat di Follow Me Back, tapi entahlah jika di masa mendatang saya berubah pikiran.

Sebagai bacaan Young-Adult, menurut saya Follow Me Back punya banyak hal yang pantas untuk diapresiasi secara positif. Kesan membumi karakter utama untuk bisa mudah mendapat simpati pembaca bahkan membuat pembaca mendapat insight tentang mental health awareness serta seluk-beluk hingga sisi gelap perfandoman, dunia selebritas, serta interaksi di media sosial; progresi cerita yang membuat pembaca tidak kesulitan melibatkan diri dan disajikan dengan cara penceritaan yang bervariasi memanfaatkan bentuk interaksi daring serta transkrip pemeriksaan kepolisian merupakan kekuatan utama buku ini, terima kasih pada kepiawaian penulisan Geiger. Saya merekomendasikan buku ini untuk kamu para millenial atau yang tertarik pada cerita yang bikin penasaran namun tetap bisa direlate dengan mudah. Kalau kamu tertarik soal dunia fandom, selebritas, dan psikologi seperti saya, pastikan kamu akan beli dan baca buku ini, ya. Saya penasaran bagaimana pendapat kamu kalau sudah baca buku ini juga.

Giveaway Alert!

Kabar baik nih kalau Anda penasaran untuk segera membaca Follow Me Back juga, karena Penerbit Spring akan mengadakan giveaway yang berhadiah buku Follow Me Back lho! Alhamdulillah A Book is a Gift mendapat kesempatan berpartisipasi sebagai salah satu host di blogtour buku Follow Me Back dan satu judul lainnya yaitu Textrovert, dann di kesempatan yang berharga ini saya akan menyampaikan amanah informasi buat kalian untuk bisa mengikuti rangkaian blogtour ini dengan paripurna sampai bisa mendapatkan kesempatan untuk memenangkan buku Follow Me Back dan Textrovert. Gimana caranya? Kumpulkan semua jawaban dari tiap pertanyaan blogtour yang diadakan oleh masing-masing host. Untuk lebih jelasnya:
  1. Like fanpage Penerbit Spring, dan follow juga blog ini supaya Anda bisa dapat informasi seputar blogtour dan giveaway finalnya. Cek aja sidebar "Be My Readers" ya untuk follow blog A Book is a Gift.
  2. Follow akun Twitter dan Instagram @PenerbitSpring, tidak lupa @rd_lite (Twitter). Share post / catatan ini ke timeline Anda (bisa via FB atau via Twitter). Atau repost/reshare/retweet informasi mengenai giveaway ini via Twitter dan Instagram. Jangan lupa untuk mention @PenerbitSpring dan @rd_lite (jika via Twitter) atau tag Penerbit Spring (jika via FB).
  3. Simpan jawaban dari pertanyaan setiap host (untuk link blog dapat dilihat pada banner).
  4. Di akhir blogtour, akan diadakan giveaway di fanpage Penerbit Spring pada 22 Juli 2018 dan jawaban pertanyaan yang sudah dikumpulkan dari semua host blogtour akan berperan besar untuk bisa menyelesaikan ketentuan giveaway final.
  5. Pengumuman pemenang akan dilakukan segera setelah giveaway berakhir di fanpage Penerbit Spring
Terima kasih ya kalau Anda udah betah dan tahan baca sampai sini, dan agar perjuangan Anda membaca sampai sini bisa terbayarkan, saya akan memberikan pertanyaan yang harus Anda ketahui dan simpan jawabannya agar bisa mengikuti giveaway di Facebook Fanpage Penerbit Spring tanggal 22 Juli 2018 nanti. Pertanyaan dari A Book is a Gift adalah...

Apa judul lagu Eric Thorn favorit Tessa?


Oke, sudah tahu jawabannya kan! Ikuti terus blogtour ini dengan menyimak review dari blogger berikutnya, like fanpage Penerbit Spring, dan pastikan diri Anda mengikuti giveaway nya nanti tanggal 22 Juli 2018 hanya di fanpage Penerbit Spring. Terima kasih untuk Penerbit Spring atas kepercayaannya pada A Book is a Gift, juga Anda yang sudah jauh-jauh sampai ke sini. Sampai jumpa di kesempatan lainnya ya! (K. R. Primawestri - 2018)

4 comments:

  1. Halo, kebetulan mampir karena melihat ini berseliweran di Twitter haha. Kebetulan, sayalah yang menerjemahkan novel ini--dengan bantuan tim editorial yang sudah bekerja keras tentunya!--dan saya ingin menyampaikan saya bahagia banget melihat ulasan se-komprehensif ini. Soalnya, saya sendiri juga baper maksimal pas mengerjakannya.

    Aku setuju sama semua paparan di sini. Paling greget memang peran ibu Tessa yang sangat tidak supportif pada perkembangan anaknya. Tapi ya lagi-lagi, mental health bukan sesuatu yang sudah umum ditoleransi karena dia termasuk sakit yang tidak berdarah :(

    Endingnya memang bikin penasaran, apa sih yang sebenarnya terjadi? Beberapa rekan Goodreads banyak yang berspekulasi Eric atau malah Tessanya jadi halu dan obsesif. Jika demikian mungkin buku #2 bakal lebih thriller lagi jadinya dan saya pribadi sangat menantikan.

    Overall, I'm just happy that I found this review blog. Sayang beda platform jadi enggak bisa langsung follow, but I'm subscribing and might drop comments once in a while if we happen to read the same book. Salam kenal!

    ReplyDelete
    Replies
    1. HAIII KAK LISA AKU BAHAGIA BANGET BACA KOMEN NYA :''''DDDD #dibuang Terima kasih banyak banyak banget banget udah mau mampir, baca, dan komen... Terima kasih juga udah nerjemahin Follow Me Back! Wah seneng banget nih Kak Lisa juga setuju soal ibu nya Tessa, high five! Saya berharap andai saja bisa tahu lebih dalam dari sudut pandang ibu Tessa juga sih.

      Terima kasih banyak atas apreasiasinya untuk review ini, you have no idea betapa berarti nya komen kakak buat saya. Salam kenal juga ya Kak Lisa :'''

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Back to Top